Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Gara-gara Berkas


__ADS_3

Senior itu memandang sinis ke arah Melati, sontak membuat Melati memandang kaget ke arahnya.


“Lho, ada apa senior? Kenapa dengan kerjaan saya?” tanya Melati kebingungan dengan yang dituduhkan secara tiba-tiba kepadanya.


Senior bernama Rachel itu, sangat marah memandang ke arah Melati. Senior itu pula yang sudah membully Melati saat di aula kemarin, karena dan ia tidak terima ketika Marvel menegur dirinya di depan umum seperti itu.


Rachel memandangnya dengan sinis, “Kamu ‘kan, yang input data barang ini?” tanyanya sinis, Melati terdiam sejenak, lalu segera memeriksa dokumen yang dilemparkan oleh Rachel ke mejanya.


Sejenak Melati memeriksanya, dan melihat dengan jelas hasil dari pekerjaannya yang dirasa tidak beres oleh Rachel. Setelah mengonfirmasi tentang pekerjaannya, Melati kembali memandang ke arah senior tersebut.


“Ya, ini pekerjaan saya, senior. Ada apa memangnya dengan yang saya kerjakan?” tanya Melati yang benar-benar tidak mengerti di mana letak kesalahannya.


Melati sudah mengerjakannya dengan sangat teliti, bahkan ia sudah memeriksanya sampai tiga kali dan sama sekali tidak menemukan kesalahan apa pun. Sekarang, ia terkejut ketika Rachel yang tiba-tiba saja datang untuk memprotes apa yang ia kerjakan.


“Kamu lihat baik-baik, dong! Di sini tertulis tahun 2009! Ini data lama, kenapa kamu masukkan ke pendataan baru bulan ini?! Kerja yang bener sedikit, dong!” bentak Rachel, sontak membuat Melati mendelik kaget mendengarnya.


Karena tidak percaya dengan apa yang Rachel katakan, Melati lekas melihat kembali isi daripada berkas yang dilemparkan oleh Rachel tersebut. Ia mendelik, ketika ia melihat tahun pada berkas ini, yang menunjukkan tahun lama berkas ini. Melati tidak habis pikir, karena sebelumnya ia memang melihat tanggal berkas tersebut dengan benar. Ia sama sekali tidak menemukan kesalahan, karena ia memeriksanya bahkan sampai tiga kali.


“Gak mungkin, aku udah periksa sampai tiga kali, kok!” gumam Melati, yang masih saja mendelik kaget karena tak percaya melihat tahun berkas yang memang benar adalah tahun yang disebutkan oleh Rachel tadi.


Rachel memandangnya dengan tatapan yang menyeleneh, “Pokoknya saya gak mau tau, ya! Selesaikan berkas ini sebelum jam 3 siang ini! Berkas ini akan dipakai untuk laporan kepada Tuan Marcel, sebelum diteruskan kepada Tuan Marvel.”


Rachel meninggalkan Melati di sana, membuat Melati menjadi sedikit jengkel dengan sikap Rachel padanya.


‘Dia begitu banget sih wataknya? Ya ampun, aku jadi ngerasa minder kerja di sini. Banyak banget yang merasa jadi senior, dan menindas juniornya,’ batinnya, merasa sedikit kesal dengan keadaannya dengan Rachel.


Melati menghela napasnya dengan panjang, berusaha untuk membereskan pekerjaan yang harus ia berikan kepada Marcel, lalu diteruskan kepada Marvel.

__ADS_1


“Ya sudahlah, jangan digubris. Yang penting aku kerja bener dan sungguh-sungguh. Kalau soal kesalahan sih udah biasa. Yang penting kita berusaha buat benerin!” gumamnya, yang berusaha untuk berpikir positif dengan keadaan yang ada padanya.


Melati segera memperbaiki data yang ada, kemudian mencetaknya untuk ia jadikan sebuah berkas yang akan ia berikan pada Marcel.


Setelah selesai mengerjakannya, Melati segera pergi menuju ke ruangan Marcel. Ia masih kesal karena kejadian semalam, tetapi ia harus professional dengan keadaan yang ada.


Saat ini Melati sudah ada di depan ruangan Marcel. Ia menghela napasnya dengan panjang, lalu mengusap dadanya karena harus bersikap baik di hadapan Manajer saat ini.


Melati menghela napasnya dengan panjang, “Sabar ... jangan sampai terpancing emosi di sini. Walaupun dia ngeselin, tapi ya ... kalau di kantor dia itu atasan,” gumamnya, merasa harus menghormati Marcel yang kedudukannya adalah sebagai seorang Manajer di perusahaan ini.


TOK ... TOK ... TOK ....


Melati mengetuk pintu ruangan Marcel, menunggu beberapa saat untuk mendapatkan izin dari Marcel agar bisa memasuki ruangan.


Beberapa saat menunggu, tetapi tidak ada orang yang membukakan pintu untuknya. Ia merasa sangat bingung, karena Marcel yang tidak memiliki jadwal apa pun selain berada di dalam ruangannya.


“Kenapa? Kangen sama gue?”


“Huah!!” teriak Melati, yang kaget mendengar suara yang terdengar di telinganya. Saking kagetnya, Melati sampai melompat kaget, sampai berkas-berkas yang ada di tangannya melambung ke atas udara.


Melati mendelik kaget ke arah berkas yang masih melambung tersebut, membuatnya merasa harus menangkapnya dengan benar.


“Ya ampun berkasnya!!” pekik Melati, yang langsung melompat dari tempat ia berdiri sekarang.


Saking fokusnya ia memandang ke arah berkas tersebut, sembari melangkah ke arahnya, Melati tak sengaja menginjak kaki orang yang mengejutkannya itu, yang ternyata adalah Marcel. Heels yang lancip setinggi 7 cm, menancap tepat di tengah kaki Marcel, sehingga membuat Marcel mendelik karena merasakan sakit pada bagian kakinya.


“Argh!!” teriak Marcel, yang lagi-lagi membuat Melati terkejut.

__ADS_1


“Ah!!” teriak Melati lagi, yang lalu segera melangkah mundur dari hadapan Marcel.


Berkas yang berusaha Melati tangkap pada akhirnya tidak tertangkap olehnya, dan berhamburan di lantai begitu saja. Melati mendelik ke arah kertas kemudian ke arah Marcel, sementara itu Marcel berusaha untuk menahan sakit pada kakinya yang tak sengaja terinjak oleh Melati.


“Ah, sakit!!” pekik Marcel, sembari melompat-lompat dengan sebelah kakinya yang terangkat.


Melati menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, kemudian mendelik tak tahu harus berbuat apa.


“Pak Marcel ... ma-maaf saya gak sengaja!” gumam Melati, yang masih mendelik dan menutup mulutnya di hadapan Marcel.


Marcel berusaha menahan sakitnya, dan berusaha bersikap tegar di hadapan Melati. Ia memandang sinis ke arah Melati, yang saat ini sedang diam mematung di hadapannya itu.


“Melati!!” pekik Marcel, membuat Melati menutup telinganya saking kerasnya Marcel berteriak.


***


Saat ini Melati diadili di ruangan Marcel. Mereka saling melempar pandangan, dengan pandangan yang berbeda arti. Marcel yang memandangnya dengan sinis, dengan Melati yang memandangnya dengan tatapan yang merasa sangat bersalah.


“Jadi gimana?” tanya Marcel, sembari melemparkan sepatu kulitnya yang sudah setengah bolong karena terinjak oleh heels Melati.


Marcel melemparkannya pelan ke atas mejanya, membuat Melati merasa bingung harus berbuat apa untuk meminta maaf padanya. Biar bagaimanapun juga, ia sudah salah karena terlalu ceroboh dengan hal tersebut, sampai tak sengaja membuat sepatu Marcel bolong seperti itu.


Melati tak sadar menelan salivanya, saking bingungnya ia dengan apa yang harus ia katakan. Ia merasa sangat takut, hanya dengan memandang mata Marcel saja.


“Jawab, dong,” ucap Marcel dengan nada datar, semakin membuat Melati gemetar karena takut.


Melati memandang ke arah Marcel, “Ma-maafin saya, Pak Marcel. Saya gak bermaksud begitu,” ujarnya, membuat Marcel memandangnya dengan tatapan yang semakin dalam.

__ADS_1


Marcel mendekat ke arahnya, “Maaf saja gak cukup buat bikin sepatu saya kembali seperti semula.”


__ADS_2