Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Perkara Cicilan Kutang


__ADS_3

Marcel mendengar percakapan mereka, yang berbisik tentang dirinya. Ia hanya bisa tersenyum di hadapan orang tua Melati, dan hanya bisa mendengar percakapan mereka saja.


Sementara itu, Melati hanya bisa mengaduh, karena orang tuanya yang sudah mulai membicarakan Marcel, bahkan di hadapan Marcel sekalipun.


‘Bapak sama Ibu, ngapain ya ngomongin Pak Marcel di depan dia? Kalau diomongin sama orang-orang kantor, Pak Marcel paling gak bisa, dan pasti teriak-teriak gak jelas kayak tadi siang!’ batin Melati, yang merasa sangat khawatir jika Marcel sampai kelepasan berkata kasar kepada kedua orang tuanya.


Marcel kembali mengondisikan keadaan, “Apa benar, ini rumah Melati?” tanya Marcel lagi, yang tidak melihat sosok Melati yang berdiri agak tertutup di belakang kedua orang tuanya.


Bapak memandang masih dengan pandangan heran, “Benar, ini rumah Melati. Maaf, ini siapa ya?”


Marcel tersenyum, “Oh, kalau begitu, ini orang tuanya Melati, ‘kan?” tanyanya, bertanya balik kepada mereka.


“Iya, saya Bapaknya, ini Ibunya,” ucap Bapak sembari menunjuk ke arah Ibu.


Ibu menganggukkan kepalanya, “Iya, saya Ibunya.”


Marcel semakin tersenyum saja, “Kalau gitu ... perkenalkan, saya Marcel ... pacarnya Melati,” ucapnya sembari menyodorkan tangannya ke arah Bapak Melati.


Mendengar jawaban itu, Melati beserta semua yang ada di sana pun terkejut mendengarnya. Tigor juga sampai mendelik kaget, karena mendengar ucapan Marcel yang seperti itu. Ia merasa benar tidak ada harapan untuk dirinya untuk mendekati Melati.


‘Apa?! Pacarnya Melati?!’ batin Tigor, yang merasa sangat minder seketika, setelah mendengar ucapannya tersebut.


Melati juga sampai tak habis pikir, karena Marcel yang mengaku sebagai pacar darinya. Ia merasa sangat kaget, karena Marcel yang mengatakan hal demikian.


‘Bisa-bisanya Pak Marcel ngomong gitu ke Ibu dan Bapak! Aku malu!!’ pekik Melati dalam hati, yang benar-benar sudah tidak tahu lagi harus seperti apa.

__ADS_1


Keadaan menjadi sangat rancu, dengan Marcel yang masih menyodorkan tangannya. Ibu Bapaknya masih tidak percaya dengan apa yang Marcel katakan, sehingga masih terdiam membeku beberapa saat, setelah mendengarnya.


Tigor merasa sangat sedih, “Neng Melati, jadi ... ini pacarnya Neng?” tanyanya dengan nada rengekan yang terlihat sangat lucu itu.


Melihat menyeringai tak enak di hadapan Tigor, karena ia tidak bisa menjawab pertanyaan apa pun darinya. Marcel juga melihat keadaan Tigor, yang sepertinya juga ingin mendekati Melati sebelum dirinya. Namun, Marcel sangat yakin, kalau orang tua Melati lebih respect dengan dirinya, dibandingkan dengan orang yang berada di hadapannya itu.


‘Dia mau deketin Melati, ya? Gak akan bisa!’ batin Marcel, yang merasa sudah sangat menang, jika saingannya hanya seorang yang ada di hadapannya saja.


Ibu tersadar, dan langsung menyenggol pelan lengan tangan Bapak, membuat Bapak ikut tersadar karenanya. Langsung saja Bapak menyambar uluran tangan Marcel, yang sejak tadi masih ia sodorkan di hadapan mereka.


“Oh, ya. Nak Marcel, salam kenal,” ucap Bapak, saking tidak bisa berkata-kata lagi.


Mereka saling melepaskan tangan satu sama lain, dan saling melempar pandangan dengan perasaan Bapak yang masih terheran-heran dengan sosok sesempurna Marcel.


Marcel tersadar dengan tujuannya memberikan makanan kepada keluarga Melati, “Oh ya, ini saya bawakan sedikit makanan sederhana, Pak. Ada cokelat Belgia, kue keju Belanda, soft cake, dan beberapa dessert lainnya yang beberapa dari itu kebetulan saya beli di negaranya langsung,” ucapnya sembari menyodorkan bingkisan tersebut, membuat mereka mendelik kaget mendengar ucapan Marcel tersebut.


Ibu kembali berbisik pada Bapak, “Sederhana katanya, Pak?” gumam Ibu yang merasa ucapan Marcel sangat tidak sinkron pada kenyataannya.


Marcel kembali memandang ke arah mereka, “Saya bingung mau bawakan makanan apa, jadi ... saya bawa makanan yang sederhana aja. Mudah-mudahan Ibu Bapak suka dengan makanan yang saya bawakan,” ucapnya lagi, membuat Ibu dan Bapak menyeringai kebingungan mendengarnya.


Mendengar ucapan Marcel tadi, Tigor yang semula membawa makanan martabak coklat kacang kesukaan Melati dan keluarganya, merasa minder seketika karena melihat Marcel yang membawakan banyak sekali makanan yang dibawakan langsung dari negara asalnya. Ia meringis sendu, karena pastinya makanan yang ia bawakan tidak akan Melati terima.


‘Aduh ... pasti gak akan diterima martabak cokelat kacang yang gue beli di tempatnya si Rohmat! Saingannya coklat Belanda dan kue Belgia sih!’ batin Tigor, yang terbalik mengucapkan nama negara asal dari kedua makanan tersebut.


Bapak berbisik ke arah Ibu, “Gimana nih, Bu? Terima gak?” tanya Bapak bingung.

__ADS_1


“Terima aja kali, Pak. Kita menghormati dia, sekaligus Ibu juga pengen makan coklat dari Belgium. Ibu mau tau rasanya gimana, sama gak kayak cokelat marry queen yang sering Ibu beli di warung Cing Nimih,” ujar Ibu, membuat Bapak sedikit ketawa mendengarnya.


“Beda dong, Bu! Cokelat itu mah harganya cuma gopek-an, lah ini cokelat yang dari si ganteng mah harganya mungkin lebih mahal dari harga makanan kita selama sebulan kali,” bisik Bapak lagi, membuat Ibu juga sedikit tertawa karenanya.


“Oh, iya kali ya Pak. Ya udah terima ajak, Pak.”


Karena sudah terlalu bingung, Ibu dan Bapak akhirnya menerima saja makanan yang dibawakan oleh Marcel. Marcel tersenyum bangga di hadapan Tigor, yang saat ini sedang meringis sendu di hadapan mereka.


‘Yang begini mau saingan sama gue?’ batin Marcel sembari melihat ke arah Tigor, membuat Tigor semakin terpojok karena pandangan Marcel yang sangat sombong baginya.


“Makasih ya, Nak Marcel. Bapak terima makanannya, tapi lain kali ... jangan repot-repot begini, ya,” ucap Bapak yang sebenarnya tidak enak dengan yang Marcel lakukan ini.


Marcel merasa itu bukan sebuah masalah, karena memang tujuan utamanya adalah menggait hati kedua orang tuanya lebih dulu, setelahnya masalah anaknya akan mengikuti seiring berjalannya waktu.


“No problem, Bu, Pak. Saya senang bisa berkenalan dengan sangat baik dengan Bapak dan Ibu.”


Bapak dan Ibu merasa sedikit simpatik kepada Marcel, karena gaya bicara Marcel yang sangat sopan, ditambah ia yang membawakan makanan yang tidak biasa mereka makan.


Orang Indonesia, soal perut nomor satu.


Karena merasa sudah terkucilkan, Tigor pun berniat untuk pamit kepada mereka.


“Saya pamit dulu ya, Bu, Pak!” pamit Tigor, membuat Ibu bingung mendengarnya.


“Lho, katanya Melati mau bayar cicilan kutang sama kamu, Gor! Kenapa kamunya malah pamit?” tanya Ibu, sontak membuat semua orang termasuk Marcel, mendelik mendengarnya.

__ADS_1


Melati bingung harus mengatakan apa, karena Ibu yang berbicara seperti itu di hadapan Marcel. Melati sudah mati kutu, dan hanya bisa mengaduh dalam hati. Sementara itu Marcel dan Tigor bertanya-tanya dalam hatinya, sembari memandang ke arah Melati yang sedang mengaduh di hadapan mereka.


***


__ADS_2