
Melati baru sampai di rumahnya. Ia merasa sangat lelah, karena satu hari ini yang sangat panjang, sampai dirinya merasa sangat memerlukan dukungan dari seseorang.
Yang ia miliki hanya tinggal kedua orang tuanya. Ia tidak lagi memiliki orang, yang bisa menjadi tempat untuk mencurahkan isi hatinya.
Melati menghela napasnya dengan panjang, setelah menghempaskan dirinya di sofa lusuh yang ada di ruangan tamu rumahnya. Tangannya memijat pada keningnya, yang terasa sangat tegang saat ini.
‘Duh ... baru hari pertama kok udah banyak masalah, sih?’ batinnya yang merasa banyak sekali permasalahan yang terjadi pada dirinya.
Permasalahan itu antara lain dari mulai dirinya yang terlambat datang ke aula, tidak memakai sepatu dan masih memakai sandal japit, dihardik para satpam, dihardik Marcel dan juga dihardik para senior. Belum lagi teguran Marvel di aula dan juga di ruangan pribadinya, membuat Melati semakin down saja pada keadaan ini.
‘Baru hari pertama, lho? Kenapa udah down begini, sih? Apa itu sengaja, biar bikin aku gak betah kerja di kantor itu?’ batin Melati, yang lagi-lagi memikirkan hal tidak harusnya dipikirkan.
Melati semakin memijat keningnya yang semakin menegang. Ia merasa kepalanya sangat sakit, saking memikirkan hal yang tidak perlu ia pikirkan.
“Duh ... kenapa malah jadi sakit kepala, sih? Aku jadi gak mood ngapa-ngapain,” gumamnya, yang mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Dari arah dapur, Ibu pun datang di hadapan Melati, membuat Melati seketika membenarkan posisi duduknya dan membenarkan ekspresi wajahnya di hadapan Ibu. Ia tidak ingin Ibu sampai mengetahui permasalahan yang terjadi pada dirinya hari ini.
“Mel, udah lama pulangnya? Kok Ibu gak denger kamu masuk, sih?” tanya Ibu, Melati hanya tersenyum sembari menahan rasa penat yang ia rasakan itu.
“Ah? Masa sih, Bu? Padahal Melati udah dari tadi duduk di sini,” ucap Melati, membuat Ibu merasa bingung jadinya.
“Oh, gitu. Mungkin karena Ibu terlalu asyik masak di dapur kali, ya? Ibu jadi sama sekali gak dengar ada kamu masuk,” ucap Ibunya mengira-ngira dengan keadaan yang ada.
Melati hanya bisa menyeringai, karena Ibu yang sepertinya terlihat sangat lelah.
“Ibu mungkin kecapean kali? Makanya, jangan capek-capek, Bu.” Melati mengingatkan Ibu tentang itu.
__ADS_1
“Iya mungkin, ya?”
Mereka sama-sama terdiam sejenak, karena sudah tidak ada pembicaraan yang harus mereka bahas lagi.
DRT!
Tak lama waktu berselang, handphone Melati bergetar, membuat Melati penasaran dengan siapa orang yang sudah mengirimkan pesan singkat padanya.
‘Siapa yang ngirim chat, ya?’ batin Melati, sembari merogoh tasnya untuk mencari keberadaan handphone-nya itu.
Ketika mendapati handphone-nya, Melati segera memeriksa siapa yang mengirimkan pesan singkat padanya. Ia memandang dengan bingung, karena nomor orang yang mengirimkan chat kepadanya, yang sama sekali tidak ia ketahui.
‘Siapa ya yang kirim chat cuma huruf ‘P’ doang?’ batin Melati, yang merasa bingung dengan keadaan.
“Maaf, ini siapa ya?” tanya Melati, membalas pesan singkat dari orang asing tersebut.
Ibu melihat sikap Melati yang aneh. Sepertinya ada sesuatu yang sedang Melati pikirkan.
“Gak apa-apa, Bu. Melati cuma bingung aja, karena ada orang yang kirim chat ke Melati, isinya cuma huruf ‘P’ doang. Melati juga gak kenal siapa orang yang ngirimnya. Nomornya belum Melati simpen, foto profilnya gak ada, infonya juga gak ada pula,” jawab Melati seadanya, membuat Ibu menjadi ikutan heran dan bingung.
“Yah ... siapa ya kira-kira? Apa temen kamu kali yang punya nomor baru?” tanya Ibu, Melati menggelengkan kepalanya.
“Gak mungkin, Bu. Melati cuma punya temen satu orang di kantor. Itu juga kita belum sempet tukeran nomor telepon,” bantahnya, Ibu bertambah bingung mendengar bantahan dari Melati itu.
Ibu kembali berpikir, “Mm ... mungkin siapa gitu? Kamu ngerasa ada yang minta nomor kamu, gak? Oh atau kamu yang kasih sama dia gitu?” tanya Ibu, kembali mengingatkan Melati.
Melati berpikir sejenak, karena mendengar pertanyaan dari Ibu. Beberapa detik masih ia belum temui jawabannya, sampai akhirnya ia pun mendelik kaget di hadapan Ibu. Ibu sampai ikut mendelik kaget, saking kagetnya melihat ekspresi Melati yang tiba-tiba saja terkejut seperti ini di hadapannya.
__ADS_1
“Apa? Kenapa?” tanya Ibu yang terkejut, setelah melihat ekspresi Melati.
‘Jangan-jangan ... ini chat dari Pak Marcel?!’ batin Melati, yang tidak ingin mengatakannya pada Ibu.
Ibu sampai semakin heran, karena ia tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Melati. Jiwa penasarannya sampai meronta-ronta.
“Ada apa sih emang, Mel? Siapa yang ngirim pesan ke kamu?” tanya Ibu, Melati mengubah sikapnya dan bangkit dari tempat ia duduk.
“Gak ada, Bu! Melati lupa, melati ada cicilan kutang ke Bang Tigor. Mungkin ini pesan dari dia, yang mau nagih cicilan kutang Melati yang udah tinggal dua kali bayar lagi!” jawab Melati asal, sontak membuat Ibu bertambah heran mendengarnya.
“Hah? Cicilan kutang?” gumam Ibu, merasa ada yang aneh dari apa yang Melati katakan.
Mendengar gumaman Ibu, Melati sampai mengaduh karena ia merasa ucapannya terlalu asal, sampai tidak bisa dikondisikan. Ia jadi merasa malu sendiri, mendengar Ibu bergumam seperti itu.
‘Aduh, kenapa malah nyebut cicilan kutang, sih? ‘Kan jadi malu!’ batin Melati, yang merasa salah bicara di hadapan Ibu.
Melati menyeringai di hadapan Ibu mencoba mencairkan suasana, “Melati masuk kamar dulu ya, Bu! Melati mau siap-siap, mau ketemu Bang Tigor buat bayar cicilan Melati. Jangan masuk kamar dulu ya, Bu! Melati mau ganti baju!” ucapnya memberi pesan pada Ibu.
Dengan sangat cepat, Melati pun segera masuk ke dalam kamarnya, untuk bersiap membalas pesan yang diduga adalah pesan dari Marcel. Ia sampai lupa, kalau ia harus mengirimkan lokasi rumah ini, agar Marcel bisa dengan mudahnya sampai di tempat ini tanpa harus berkeliling mencari posisi yang benar.
BRUK!
Melati melemparkan tasnya ke atas ranjang tidurnya, lalu segera melihat ke arah handphone-nya. Walaupun masih dalam keadaan berdiri, Melati masih fokus kepada handphone yang telah ia pegang. Ia membuka pesan singkat yang baru dibalas lagi oleh orang itu, dan membacanya.
“Ini gue! Jangan pura-pura gak tau, deh! Emangnya, ada orang lain lagi yang lo kasih nomor telepon lo hari ini?” balasan pesan dari Marcel.
Melati menjadi sangat yakin, bahwa yang mengirimkan pesan singkat itu adalah Marcel.
__ADS_1
‘Tuh ‘kan bener dia!’ batin Melati, yang memang sudah mengira bahwa yang mengirimkan pesan tersebut adalah Marcel.
Melati memandang layar handphone-nya dengan sinis, ‘Dia kenapa selalu sinis sih sama aku?’ batin Melati heran dengan sikap Marcel yang selalu sinis padanya..