Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Bayar Tagihan Pakai Apa?


__ADS_3

Melati mencoba menghubungi Marcel sekali lagi, karena ia benar-benar tidak bisa membayar semua tagihan yang ada. Sudah ia coba beberapa kali pun, tetap Marcel tidak ingin menerima telepon darinya. Melati merasa sangat bingung, karena ia tidak bisa membayar tagihan yang ada.


‘Gimana caranya aku bayar tagihannya?’ batin Melati yang masih bingung memikirkan tentang bagaimana cara ia harus membayar tagihan yang banyak sekali menurutnya.


Satu ide muncul di benak Melati, membuatnya merasa harus mengatakannya untuk membuat sang pelayan mengerti dengan keadaannya.


Melati dengan sangat ragu, memandang ke arah sang kasir yang berada di hadapannya, “Mm ... Mbak. Maaf, saya gak bisa ... bayar makanan yang sudah dipesan tadi,” ujar Melati dengan sangat ragu, membuat sang kasir tersenyum di hadapannya.


“Tagihannya--”


“Jangan diucapin lagi, Mbak! Saya tau, tagihannya delapan belas jutaan, tapi saya beneran gak bisa bayar cash sekarang juga, Mbak!” pangkas Melati, yang tidak mendengarkan lebih dulu ucapan sang kasir.


“Iya, Nona, tapi tagihannya itu--”


“Udah, Mbak! Saya gak mau dengar lagi jumlah tagihannya, saya beneran gak bisa bayar,” pangkas Melati lagi yang sudah mabuk hanya dengan mendengar jumlah tagihan yang harus ia bayar saat ini.


Sang kasir pun kebingungan, karena Melati yang tidak bisa mendengarkan lebih dulu penjelasan darinya. Melati terus memangkas apa yang sang kasir katakan, sehingga membuat suasana menjadi rancu, dan sang kasir pun tidak bisa memberitahu keadaan yang sebenarnya kepada Melati.


Melati teringat dengan gaun yang ia kenakan, yang Marcel belikan dengan harga yang sangat fantastis. Ia merasa harus memberikan gaun ini kepada mereka, karena harga satu gaun ini hampir setara dengan harga makanan yang sudah Marcel pesan.


“Ah! Saya bisa bayar sekarang, tapi gak pakai uang, Mbak! Saya bayar pakai gaun, ya! Gaun ini baru saya pakai sekali, dan harganya senilai lima belas juta-an. Selebihnya saya bayar pakai cincin saya dulu ya, Mbak! Jangan dijual dulu, nanti saya tebus lagi! Gaunnya juga masih ada struk harganya nih kalau Mbak gak percaya!” ujar Melati menjelaskan, yang lalu merogoh ke dalam tasnya, untuk mengambil struk belanjaan gaun yang Marcel belikan untuknya sebelum mereka mendatangi restoran ini.


Sang kasir dan sang pelayan yang masih di sana pun mendadak bingung harus mengatakan apa kepada Melati, karena SOP mereka di sana tidak boleh memotong pembicaraan pelanggan. Mereka jadi tidak bisa mengatakan apa pun di hadapan Melati, yang saat ini sudah kerepotan mencari struk belanjaan gaun mewah tersebut.

__ADS_1


“Gimana, nih?” tanya sang kasir berbisik kepada sang pelayan, tetapi sang pelayan hanya bisa mengangkat kedua bahunya karena merasa tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Melati berhasil menemukan struk belanjaan gaun dengan harga yang sangat fantastis ini. Ia memberitahu mereka, dengan menunjukkan ke hadapan mereka, nominal harga gaun yang sedang ia kenakan ini.


“Ini harganya sekitar lima belas jutaan, ditambah cincin saya tiga jutaan lebih, bisa kalian ambil kembalinya. Kebetulan saya gak bawa surat-surat cincinnya, jadi kalian jual dulu ya! Saya pasti akan tebus lagi cincin pemberian mantan suami saya ini!” ucap Melati, membuat mereka tak bisa berkutik apa pun lagi saat ini.


Melati menyeringai, “Saya ganti baju dulu! Kalian tunggu dulu, nanti saya kasih gaunnya ke kalian!” ujar Melati, yang langsung melangkah meninggalkan mereka di sana.


Langkahnya mendadak terhenti, karena ia tidak mengetahui arah toilet di restoran ini. Ia kembali berbalik ke arah kasir dan pelayan, untuk bertanya tentang posisi toilet di restoran ini.


“Oh ya, di mana toiletnya, ya?” tanya Melati, mereka tersenyum tak enak di hadapan Melati.


“Di sebelah sana, Nona.”


Sang kasir sudah benar-benar kebingungan, karena mereka yang sama sekali tidak bisa menjelaskan kepada Melati, tentang kejadian yang sebenarnya terjadi di sini.


“Gimana, nih? Gimana caranya kita kasih tau ke dia, kalau makanannya udah dibayar sama Tuan Marcel?” tanya sang kasir kebingungan, karena ia yang merasa sangat bertanggung jawab dengan keadaan yang Melati alami saat ini.


“Ya udah, tunggu dia pergi aja. Kita tinggal balikin ke Tuan Marcel, seandainya dia beneran kasih cincin sama gaun itu nanti,” ucapnya, membuat sang kasir mengangguk setuju mendengar ucapan temannya itu.


Setelah menunggu beberapa saat, Melati tak kunjung keluar dari dalam resto. Marcel merasa sudah sangat kesal, karena ia yang merasakan lapar, akibat belum makan sejak siang tadi. Ia sengaja tidak makan malam lebih dulu, karena ia ingin makan malam bersama dengan Melati.


Namun, Marcel tak menyangka kalau kejadiannya akan jadi seperti ini.

__ADS_1


“Melati mana, sih?! Kenapa dia beneran gak jelas gini? Ke kantor telat, ke mobil pun telat! Dia sebenernya lagi ngapain sih di dalam?” gumam Marcel yang merasa bingung dengan keadaan yang ada.


Marcel hendak keluar untuk menghampiri Melati, tetapi ketika ia ingin keluar dari mobilnya, ia tertahan dengan Melati yang sudah keluar dari dalam resto.


Pakaian Melati terlihat kembali seperti sebelumnya, Marcel pun tak melihat gaun yang baru saja ia belikan itu untuk Melati.


Marcel mendelikkan matanya ketika melihat Melati, “Lho, dia kenapa pakai baju yang tadi lagi? Mana gaun yang gue beliin buat dia?!” gumamnya yang merasa sangat kaget, karena melihat keadaan Melati yang kembali seperti sebelum mereka pergi ke restoran ini.


Di depan sana, Melati melihat mobil Marcel yang ternyata masih terparkir rapi di lobi resto. Dengan cepat, Melati segera melangkah masuk ke dalam mobil Marcel, sehingga membuat Marcel geram melihatnya.


“Kirain Pak Marcel udah jalan pulang duluan ninggalin saya,” gerutu Melati sembari tetap membenarkan posisi duduknya, “kenapa tadi saya telepon gak diangkat?” tanyanya sinis ke arah Marcel


Mendengar pertanyaan Melati yang sinis, Marcel mendadak kesal padanya.


“Ngapain gue angkat? Jarak kita ‘kan gak jauh! Lagian ngapain lo di dalem, sampe lama banget keluarnya!” ujar Marcel menarik uratnya, sehingga membuat Melati menjadi kesal karena kelakuannya itu.


“Pak Marcel, harusnya terima kasih, dong! Saya udah keringet dingin, bingung gimana caranya buat bayar tagihan makanan yang udah Pak Marcel pesen tadi! Saya sampai bayar pakai gaun yang Pak Marcel beliin, dan cincin emas punya saya!” ujarnya, sontak saja membuat Marcel mendelik mendengarnya.


“Hah?!” pekiknya kaget, tak bisa berkata apa pun di hadapan Melati.


DRING!


Handphone Marcel berdering dengan sangat keras, sehingga membuat Marcel semakin terkejut. Ia melihat siapa yang menghubunginya, kemudian segera menerima telepon dari orang yang menghubunginya itu.

__ADS_1


“Halo?”


__ADS_2