
Melati kembali memandang sinis ke arah Sodik, “Saya gak suka, Pak Sodik membentak kedua orang tua saya lagi. Saya gak suka, tanpa alasan apa pun!” bentak Melati yang benar-benar berani di hadapan pria yang lebih tua 20 tahun darinya itu.
Pak Sodik tersenyum, berusaha untuk mencairkan suasana yang saat ini tegang. “Maafkan saya, Melati,” ujarnya merendah.
Bapak dan Ibu terus mengelus bahu Melati, membuat Melati yang masih memandang sinis itu, menoleh ke arah mereka.
Memang bukan sifat Melati, yang tidak bisa membela kedua orang tuanya. Ia rela semua orang menghardiknya, asal jangan kedua orang tuanya.
“Jangan seperti itu, Mel ....” Bapak berusaha menasehati Melati, walaupun ia tahu, anaknya pasti tidak suka melihat orang tuanya dibentak seperti itu oleh orang lain.
“Melati gak suka Bapak dibentak begitu!” ujar Melati setengah berteriak, masih dengan pandangannya yang sinis.
__ADS_1
Ibu berusaha untuk menenangkan Melati kembali, “Melati ... jangan seperti itu. Biar bagaimanapun juga, Pak Sodik usianya jauh di atas kamu. Kamu harus hormati, ya?” ujarnya, yang benar-benar tidak bisa melihat anaknya bersikap kasar di hadapan orang lain.
Melati hanya bisa diam, sembari mendengus kesal memandang ke arah Pak Sodik.
“Jadi gimana jawaban kamu? Apa kamu bersedia menikah dengan saya?” tanya Pak Sodik, kembali lagi ke topik pembahasan yang utama.
Melati kembali terdiam, pandangannya tetap memandang sinis ke arah Sodik, sebagai bentuk pemberontakan yang ia rasakan. Namun, pemberontakan itu tidak bisa ia lakukan, karena ia masih memikirkan tentang nasib kedua orang tuanya.
Dihelanya napas yang tercekat karena sesak. Ia memandang sinis ke arah Pak Sodik, “Ya, saya bersedia!” ujarnya dengan tegas, membuat Pak Sodik mendelik girang mendengarnya.
Mereka melontarkan tatapan tak rela, sementara Melati hanya bisa memandang mereka dengan dalam, karena rasa cintanya yang begitu besar terhadap mereka.
__ADS_1
Apalagi, Melati benar-benar tidak bisa menerima perlakuan kasar Pak Sodik kepada orang tuanya. Hal itu akan ia buktikan, bahwa dirinya akan membuat Pak Sodik bertekuk lutut di hadapannya, setelah mereka menikah nantinya.
‘Anda sudah membuat orang tua saya terhina! Lihat saja, apa yang akan saya lakukan setelahnya!’ batin Melati, yang sudah menyiapkan rencana jahat untuk orang tua tidak tahu ini.
Rasa senang yang dirasakan Pak Sodik tak terbendung, sampai-sampai ia melakukan aksi selebrasi yang berlebihan di hadapan Melati dan orang tuanya.
Hal itu semakin menambah kebenciannya terhadap Pak Sodik, tetapi Melati tidak bisa lagi berkata apa pun.
Pikirannya kembali teringat akan sosok Rusdi yang ia cintai, karena ia masih sangat mencintai Rusdi. Namun, kebohongan Marvel telah menjadikannya ragu, dengan cinta yang Rusdi miliki untuknya.
Ditambah lagi dengan Melati, yang memang melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau Marvel sedang makan bersama dengan wanita lain, ketika mereka sedang tidak bertukar kabar selama beberapa hari ini.
__ADS_1
‘Aku beneran gak nyangka semuanya akan jadi seperti ini. Mungkin ... ini memang jalan yang harus aku tempuh, agar Bapak dan Ibu tidak harus masuk ke dalam jeruji besi, dan agar aku tidak bertemu Rusdi atau Marvel lagi,’ batinnya, yang sangat terpaksa menerima hal yang sebenarnya tidak ia inginkan ini.
***