
Marcel menelaah apa yang Marvel katakan, dan berusaha untuk mencari logika dari ucapan yang Marvel katakan tadi.
“Gak ada sama sekali orang yang laporan ke saya, kalau toilet rusak. Rachel bilang kalau Melati lagi teleponan di toilet setelah jam makan siang. Logikanya adalah ....” Marvel tak bisa melanjutkan ucapannya.
“Melati gak akan masuk ke toilet, kalau tau ada tulisan toilet rusak. Kemungkinan besar dia masuk sebelum ada yang menempelkan tulisan ini di pintu,” ujar Marcel yang melanjutkan logika yang Marvel katakan tadi.
Mereka sama-sama berpikir sejenak, berusaha untuk meyakinkan apa yang mereka pikirkan. Setelah beberapa saat berpikir, mereka sama-sama mendelik kaget, karena mereka memikirkan hal yang sama.
Tanpa basa-basi, mereka langsung memaksa masuk ke dalam toilet wanita, dan tidak memikirkan apa pun lagi tentang reputasi mereka sebagai seorang CEO dan juga Manajer di perusahaan ini. Yang terpenting saat ini adalah, keselamatan Melati yang menjadi taruhannya.
Mereka sudah berhasil masuk ke dalam toilet tersebut. Mereka tidak menemukan siapa pun di sana, sehingga membuat mereka harus mencari Melati di setiap pintu toilet yang berjejer di hadapannya.
“Melati!” pekik Marvel, yang merasa sudah sangat khawatir dengan keadaan Melati.
__ADS_1
Mereka membuka ruangan toilet satu per satu, mencari keberadaan Melati yang mereka yakini ada di ruangan ini.
“Mel!” pekik Marcel, sembari tetap berusaha untuk membuka pintu satu per satu.
BRAK!
Mata Marcel mendelik kaget, karena melihat Melati yang sudah tak sadarkan diri, duduk di atas closet sambil menyandarkan kepalanya pada dinding toilet.
“Melati!!” pekik Marcel, yang kemudian teralihkan karena mencium aroma yang tidak sedap dari tubuh Melati.
“Bau apa ini?!” pekik Marcel, yang tidak jadi menggendong Melati untuk menyelamatkannya. Marcel sama tidak menyukai aroma aneh ini.
Marvel tidak memedulikan aroma apa pun. Ia bergegas masuk ke dalam toilet tersebut, dan segera menggendong Melati untuk dibawa ke ruangan khusus pengobatan di gedung ini.
__ADS_1
Melihat Marvel yang lebih dulu bergerak dibandingkan dirinya, Marcel merasa sangat kesal. Pasalnya, ia berpikir kalau dialah yang lebih dulu menemukan Melati, tetapi Marvel sudah menyalip masuk untuk menolong Melati dan membawanya ke ruangan pengobatan. Ia merasa sangat geram melihatnya.
“Marvel!” gumamnya, yang lalu segera pergi mengikuti ke arah Marvel hendak membawa Melati.
Mereka membawa Melati ke arah ruang pengobatan. Karena masih jam bekerja, sepanjang mereka melangkah tidak ada sama sekali orang di sana. Hal itu cukup memudahkan mereka dalam menjawab berbagai spekulasi mengenai Marvel yang sedang menggendong Melati di pelukannya.
Mereka akhir sampai di ruangan tersebut. Tak butuh banyak waktu untuk bisa sampai di ruangan tersebut, karena ruangan itu yang sangat dekat dengan toilet tadi.
Marvel menerobos masuk ke dalam ruangan, dan segera meletakkan Melati di atas ranjang ruang pengobatan tersebut.
“Siapa yang jaga hari ini?!” pekik Marvel, seketika orang-orang yang ada di dalam ruangan khusus tersebut, keluar dari sana untuk menemui Marvel.
Marvel memandang tegas ke arah mereka, “Cepat! Periksa keadaan Melati!” ujarnya, membuat semua orang segera melakukan tugasnya.
__ADS_1
***