
Perasaannya bimbang, sakit hati karena penolakannya sendiri pada Marvel.
Sebenarnya Melati sama sekali tidak menginginkan hal seperti ini, tetapi mau bagimana lagi, Melati tidak bisa melakukan apa pun lagi saat ni.
Jemarinya gatal, ingin sekali Melati memaki Marvel, untuk tidak melakukan hal buruk seperti itu.
Namun, kesadarannya mengingatkan dirinya, siapa dirinya bagi Marvel saat ini.
“Oh ... aku bukan siapa-siapa Tuan Marvel lagi. Aku gak berhak ngelarang dia ini dan itu, karena itu udah jadi urusan dia,” gumam Melati, dengan nada yang sangat sendu.
Tak ada lagi yang bisa Melati lakukan. Hanya bisa menunggu waktunya tiba, dan dia akan menjadi istri dari seorang lelaki, yang sama sekali tidak ia cintai.
Sementara itu di sana, Andre mendelik kaget, karena ternyata ia salah mengirimkan video.
Sudah banyak sekali orang yang melihat, dan banyak juga yang berkomentar miring tentang Marvel.
Hal itu membuat Andre merasa sangat bingung, karena itu sungguh di luar kuasanya.
__ADS_1
“Aduh, kenapa kekirim ke status?!” pekik Andre, yang sebelumnya berniat untuk mengirim video itu ke Marsha.
Buru-buru Andre menghapus videonya, saking khawatirnya ia, jika banyak orang lain yang nantinya melihat videonya.
Sementara itu, Marvel masih pada tempatnya. Ia sama sekali tak berkutik, hanya bisa bergumam nama Melati, sembari menenggak alkoholnya.
“Mel ... Melati ....”
Marvel menenggak kembali alkohol pada botol yang ia pegang, membuatnya merasa benar-benar melayang saat ini.
Di khayalannya, ia sudah berhasil mendapatkan Melati. Namun, seketika Melati pergi bersama dengan seorang lelaki, yang sama sekali tidak ia kenal.
“Melati! Jangan pergi, Mel!” pekik Marvel, tangannya mengulur ke arah hadapannya.
Namun, yang ia lihat tentu hanyalah khayalan semata, efek alkohol yang setiap satu menit sekali ia tenggak.
Memang tidak etis, jika harus kehilangan orang yang kita cintai, secara mendadak seperti itu. Siapa pun yang merasakannya pasti akan sangat terpukul, mengingat pengorbanan yang sudah mereka lakukan.
__ADS_1
Pandangannya sendu, merasa sudah tidak mampu lagi bertahan, pada rasa sakit yang sedang ia alami.
“Melati ... gimana ini? Saya gak mau kehilangan kamu, Mel!” teriak Marvel lagi, membuat Andre yang ada di hadapannya, merasa sendu mendengarnya.
Andre melirik ke arah jam tangannya. Malam sudah berganti pagi. Saat ini, jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, dan merasa sama sekali belum kembali ke rumah mereka.
Andre memandang Marvel dengan kesal. Tangannya meraih botol alkohol, yang sedang Marvel pegang.
Ketika hendak menenggak alkohol lagi, tangan Andre menghentikannya. Ia tidak ingin melihat Marvel tenggelam, dalam kesedihannya yang berlarut itu.
“Sudah, jangan dilanjutkan! Ini udah pagi, udah jam 5!” bentak Andre, Marvel memandangnya dengan tatapan yang sudah teler.
Marvel menyunggingkan senyumannya, “Ah ... jam 5 pagi? Sebentar lagi Melati akan jadi istri orang. Terus, gimana dengan saya?” ujarnya yang sudah melantur.
Andre menghela napasnya, merasa iba dengan yang Marvel katakan.
“Vel, jangan begitu. Kamu harus terima kenyataan ini. Ini sudah jalan kamu sama Melati. Jangan kamu pikir, wanita di dunia ini hanya Melati aja. Masih banyak wanita lain,” ujar Andre, memberikan nasehat kepada Marvel.
__ADS_1
Namun, yang namanya orang jatuh cinta, pasti tidak akan pernah mendengar perkataan orang lain.