Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Tak Menggubris


__ADS_3

Marcel sampai pada kediamannya pada waktu yang sangat larut. Ia merasa sedikit senang, karena walaupun ia tidak jadi makan malam bersama dengan Melati, tetapi setidaknya ia merasa sudah bisa menggait hati kedua orang tua Melati.


Marcel memasuki rumahnya sembari bersiul, merasa sangat senang dengan keadaan yang menguntungkan baginya itu.


Baru tiga langkah memasuki rumahnya, langkahnya terhenti karena melihat Marvel yang berdiri di hadapannya, dengan tangan yang melipat di dadanya. Tatapannya sinis, membuat Marcel merasa agak terkejut dengan sikap Marvel yang berada di hadapannya itu.


“Dari mana aja, lo? Udah larut malem begini, kenapa baru pulang? Perasaan tadi kita pulang barengan jam setengah 5,” tanya sinis Marvel, membuat Marcel menyeringai di hadapannya.


“Kepo banget sih, Bang? Jangan suka kepo, kenapa!” ujarnya dengan nada yang sangat menyeleneh, membuat Marvel lantas kesal mendengar ucapan adiknya itu.


Marvel semakin memandangnya dengan sinis, “Bukannya kepo! Lo pakai kartu kredit buat beli apa? Kenapa pengeluaran mala mini banyak banget?!” tanyanya dengan tegas, membuat Marcel teringat dengan dirinya yang sudah membelikan Melati sebuah gaun yang cukup fantastis harganya.


Ia merasa sedikit takut mendengar pertanyaan dari Marvel, karena ia sudah memakai kartu kredit miliknya, yang sedang diawasi oleh Marvel. Jadi, segala pengeluaran apa pun sudah terpantau oleh Marvel, dan ia sama sekali tidak bisa berbohong dengan alasan apa pun.


‘Kalau gue bohong, dia pasti akan cek langsung. Apa gue juju raja kali, ya?’ batin Marcel, yang merasa sangat bimbang untuk mengatakannya kepada Marvel atau tidak.


“Alah, paling dia habis buang-buang uang sama cewek, Bang! Minum bareng, atau makan bareng, beliin perhiasan atau barang-barang mewah lainnya buat dapetin cewek yang baru dia deketin,” sambar seseorang yang baru saja datang dari arah dapur, dan duduk pada sofa yang tak jauh dari keberadaan mereka.


Fokus Marcel dan Marvel teralihkan ke arah seorang gadis yang sedang duduk di sana, sembari menikmati segelas es krim kesukaannya yang selalu ia stok di dalam freezer. Ia adalah Marsha, yang tak lain adalah adik bungsu dari Marcel dan juga Marvel.

__ADS_1


Marsha, gadis tangguh yang walaupun hanya tahu meminta kepada kedua orang tua Marvel, tetapi ia sangat berprestasi pada bidang bela diri. Mereka mengorbankan apa pun, demi Marsha untuk mendapatkan ilmu dari komunitas yang Marsha ikuti. Marsha sangat berbeda dengan Marcel, yang hanya tahu menghabiskan uang saja, tanpa ada pencapaian yang ia dapatkan. Marsha sangat miris melihat kakaknya itu, karena ia sebagai adiknya saja tidak terlalu menjadi beban seperti Marcel.


Marcel memandang sinis ke arah adik bungsunya itu, “Diem, lo!” bentak Marcel, membuat Marvel merasa sangat kesal padanya, karena adik bungsunya yang dibentak seperti itu olehnya.


“Lo yang diem! Udah salah, harusnya diem!” bentak Marvel, yang merasa sangat kesal menghadapi sikap Marcel yang sudah random seperti itu.


Marcel kesal, karena Marvel yang selalu membela Marsha pada kesempatan apa pun. Entah itu Marcel yang salah, ataupun Marsha, tetap yang Marvel bela adalah Marsha.


Marcel mendelik kesal mendengar bentakan Marvel padanya, “Bela aja terus, ade kesayangan!” bentak sinisnya, yang merasa kesal dengan sikap Marvel yang benar-benar sangat pilihkasih.


Marvel memandangnya dengan dalam, “Gak usah mengalihkan perhatian! Lo tinggal jawab, lo habis dari mana, lo pakai uang buat apa?” tanya sinisnya, yang tidak mau ribet bertanya lagi pada Marcel.


“Tadi gue habis makan malem sama Melati!” jawab Marcel dengan asal, sontak membuat Marvel mendelik mendengarnya.


Marvel tak percaya, kalau ternyata Melati mau makan malam bersama dengan Marcel. Ia merasa kalah saing dengan adiknya sendiri, dan merasa kalah banyak sekali langkah dari Marcel.


“Gue juga tadi habis bawain kue keju Belanda dan cokelat Belgium yang ada di kulkas, buat Ibu Bapak Melati. Mereka suka banget, terus makannya lahap banget. Terus uang 15 juta yang keluar dari kartu kredit tadi gue pake buat beli buket bunga sama gaun Melati buat makan malem sama gue di resto bintang lima! Terus di resto kita makan, dan gue bayar 8 juta untuk sekali makan bareng sama dia, pake kartu kredit!” ujar Marcel menjelaskan pada Marvel, sontak membuat Marvel dan juga Marsha mendelik kaget mendengar penjelasannya.


“Apa?! Itu ‘kan kue keju Belanda sama cokelat Belgia yang dikasih Bang Marvel buat Marsha?!” pekik Marsha, yang merasa sangat tidak terima mendengar ucapan Marcel itu.

__ADS_1


Marvel juga menjadi geram, karena ternyata Marcel yang sudah bertemu dengan kedua orang tua Melati, dan sudah mendapatkan sedikit rasa simpatik dari mereka. Ia merasa sudah kalah start jauh sekali dari Marcel, dan mungkin sudah jauh tertinggal darinya.


‘Sialan Marcel! Dia beneran gak mau jauhin Melati! Berarti perkataan saya gak mempan untuk membuat dia gentar, dong?!’ batin Marvel, yang merasa sangat kesal dengan hal tersebut.


Marcel menyeringai di hadapan mereka, “Minta beliin lagi ya sama Abang kesayangan lo itu! Siapa suruh gue gak dikasih, jadinya gue ambil paksa!” ujar Marcel yang merasa sangat bangga bisa melakukan itu terhadap adiknya. Marcel melangkah meninggalkan mereka, kemudian kembali memandang ke arah Marvel, “Satu lagi, minta Abang lo untuk gak melanjutkan perasaannya buat cewek yang lagi gue deketin. Karena percuma, orang tuanya udah kasih lampu kuning ke gue,” ucapnya kepada Marsha, walaupun memandang ke arah Marvel.


Marcel melangkah pergi dengan senyuman yang menyungging, membuat Marvel merasa sangat kesal mendengar ucapannya tadi. Terlihat jelas dari ekspresi wajah Marvel saat ini, yang sudah merasa sangat geram dengan sikap Marcel yang semaunya saja sejak tadi.


‘Marcel ... dia beneran sama sekali gak gubris apa yang saya bilang!’ batin Marvel, yang merasa harus segera mendekati Melati sebelum Melati benar-benar jatuh ke tangan Marcel.


***


Pagi ini, Melati sampai di kantornya. Ini adalah hari ketiga ia masuk ke dalam kantor, dan merupakan hari pertama ia mengerjakan pekerjaannya yang merupakan sekretaris umum. Kemarin saat acara yang diselenggarakan di aula, mereka masih mengajari 30 karyawan baru tentang jobdesk dan juga tour ke ruangan-ruangan yang ada di dalam gedung ini.


Baru hari pertama bekerja saja, Melati sudah dipusingkan dengan dirinya yang harus menghapalkan jobdesk yang harus ia kerjakan. Ditambah lagi dengan para senior yang selalu membuatnya kesulitan mengerjakan pekerjaan lainnya.


Seorang senior yang sangat membenci Melati pun datang di hadapan Melati dengan keadaan yang sangat kesal, sembari melemparkan beberapa berkas yang ada di tangannya ke meja Melati.


“Apa-apaan kerjaan kamu ini?!”

__ADS_1


__ADS_2