
Andre memandang Melati kembali dengan dalam, “Kamu capek? Kamu butuh cuti? Kamu bisa cuti kalau kamu mau, tapi kamu pertimbangin dulu untuk keluar dari perusahaan ini,” ujarnya, Melati tetap menggelengkan kepalanya tanda sudah bulat.
Senyuman yang Melati lontarkan, sangat terlihat tertekan. Seperti ada sebuah permasalahan, yang membuatnya sampai tidak bisa berekspresi dengan benar.
Marvel bisa merasakan, kalau Melati pasti sedang memikirkan banyak sekali permasalahan dalam hidupnya. Namun, Marvel tidak menyangka, kalau yang sedang Melati pikirkan ternyata adalah tentang dirinya, yang tega membohongi Melati dengan menyamar menjadi orang lain.
Bodohnya, Melati bisa jatuh cinta pada orang tersebut.
“Saya sudah gak bisa bertahan lebih lama di perusahaan ini, Tuan. Terima kasih atas bimbingannya selama ini. Maaf, saya selalu membuat kekacauan, bahkan di hari pertama saya masuk pun sudah banyak sekali kekacauan yang terjadi,” ucap Melati, membuat Marvel semakin tidak rela melepas kepergiannya.
Sosok Rusdi itu pun memandang ke arah Melati dengan dalam, “Apa gak kamu pikirin lagi, Mel? Kenapa kamu tiba-tiba aja mau resign? Apa ada orang yang jahilin kamu, sampai kamu mau resign begini?” tanya Marvel, Melati menggelengkan kecil kepalanya.
“Gak ada yang gangguin aku kok, Rus. Aku cuma lagi mau di rumah aja, dan gak mau kerja. Untuk sekarang, kalau nanti sih ... aku gak tau. Bisa aja, ada orang yang nawarin kerjaan yang lebih bagus daripada di sini, aku bisa pertimbangkan lagi,” jawab Melati pada kekasihnya itu.
__ADS_1
Mereka saling diam, tanpa bisa berkata apa pun lagi.
Selain hendak keluar dari sana, Melati juga hendak mengembalikan cincin yang sudah Marvel berikan padanya. Namun, ia hanya ingin berbicara berdua saja dengan Marvel, tanpa ada Andre di sana.
“Maaf, Tuan Andre. Apa bisa, saya bicara berdua sama Rusdi?” tanya Melati, Andre mendapatkan kembali kesadarannya dan segera mengangguk kecil.
“Silakan. Saya permisi dulu,” ucap Andre, yang lalu segera pergi dari sana, setelah mendapatkan anggukkan dari Marvel dan juga Melati.
Melati memandang dalam ke arah Rusdi, karena ia masih tidak menyangka kalau yang ada di hadapannya ini, adalah seorang yang telah membuatnya jatuh cinta, tetapi juga telah membohonginya.
Melihat genangan tersebut muncul dari pelupuk mata Melati, entah mengapa Marvel pun merasa sangat sedih. Hatinya seperti tertusuk sebilah pedang, tak kuasa melihat air mata orang yang dicintainya, berjatuhan.
“Kamu kenapa, Mel? Kenapa nangis begitu?” tanya Marvel, yang sampai terdengar seperti serak, saking sesaknya dadanya.
__ADS_1
Tidak ada maksud Melati untuk menangis di depan Marvel, apalagi menangis di lobi kantornya seperti ini. Itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan, karena Melati benar-benar sangat sedih Marvel sudah membohonginya seperti itu.
Niat hati ingin melepaskan cincin ini, tetapi Melati sangat tidak bisa melakukannya. Biar bagaimanapun juga, jika ia melepaskan cincin ini, itu sama saja melepaskan Marvel dari sisinya.
Melati tidak bisa melakukannya, tetapi ia juga tidak bisa bersama dengan seorang pembohong seperti Marvel.
Dengan rasa bimbang dan ragu, Melati pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengembalikan cincin tersebut. Ia harus banyak berpikir, sebelum akhirnya membuat keputusan yang salah.
Melati menghapus air matanya dengan tangan kanannya, berusaha tegar di mata Marvel saat ini.
“Aku gak apa-apa. Aku pulang dulu,” ujar Melati, yang langsung meninggalkan Marvel di sana.
Marvel tak bisa mengejarnya, karena ia ingin memberikan waktu agar Melati bisa mendapatkan ketenangan untuk saat ini.
__ADS_1
***