Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Gara-gara CV


__ADS_3

"Minjem sebentar, pelit banget sih!" gerutu Andre dengan tawanya, sembari tetap membaca isi dari map itu, dan menghalau Marvel agar tidak bisa mengambil map itu dari tangannya.


Marvel merasa kesal karena ucapannya tidak dihiraukan.


"Ndre, balikin ke saya sekarang! Jangan begini, ah!" bentak Marvel, yang merasa sangat kesal dengan apa yang Andre lakukan itu.


"Namanya Melati, alamat di jalan Sunan Ampel Raya ...."


"Stop, Ndre!" bentak Marvel, yang berusaha mengambil kertas tersebut, tetapi tidak bisa karena Andre yang terus menghalaunya.


"Usianya 28 tahun, wah ... udah lumayan matang," gumamnya lagi, sembari terus membacanya.


"Andre, saya peringatkan untuk tidak meneruskan!" ancam Marvel, tetapi masih tak dihiraukan oleh Andre.


Sepertinya Andre sangat kebal dengan sebuah ancaman, terlebih lagi yang mengancam adalah sahabatnya sendiri.


"Statusnya ...."


Mendengar Andre yang sudah menyebutkan kata status, Marvel pun mendelik kaget, dan sebisa mungkin ia berusaha untuk merebut kertas itu dari tangan Andre.


"Sini!" pekik Marvel, yang dengan kekuatan yang luar biasa, segera menarik kertas tersebut.


SRAK!


Kertas beserta map kuning pun sobek menjadi dua bagian. Hal itu membuat mereka terdiam sejenak sembari menganga kaget, karena mereka sama-sama memegang satu bagian yang sobek itu.


Marvel mendelikkan matanya, dan langsung membaca setengah dari sobekan CV tersebut. Begitupun Andre, yang memang sangat penasaran dengan data diri Melati.


"Bagian yang mana ini?" gumam Marvel, yang berharap mendapatkan bagian status Melati sampai bawah.


Pandangan Marvel terhenti sesaat, ia mendelik ketika ia mendapatkan bagian awal dari CV tersebut. Ia juga mendelikkan matanya ke arah Andre, yang ternyata juga sudah mendelik di hadapannya.


Marvel sudah paham, Andre ternyata sudah membaca bagian yang ia perlukan. Andre sampai tak bisa berkata-kata, melihat status Melati yang sudah menjadi seorang janda.


"Melati ... janda?" tanya Andre.

__ADS_1


Marvel menepuk keningnya pelan, 'Sudahlah, mau diapakan lagi?' batinnya yang sudah tidak bisa mengelak dari pertanyaan Andre itu.


Karena sudah tidak bisa mengelak lagi, Marvel pun hanya mengangguk kecil mendengarnya.


Mendapatkan anggukan dari Marvel, Andre hanya bisa menelan salivanya. Ia tidak menyangka, ternyata wanita itu sudah pernah menikah.


"Berarti, dia udah punya anak, dong?" tanya Andre lagi, Marvel menggelengkan kepalanya sembari mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu.


Suasana terasa sangat canggung, karena mereka yang sudah sama-sama tidak bisa berkata apa pun lagi. Marvel jadi merasa sedikit kesal, dengan temannya itu.


"Siapa suruh kamu buat rusak CV Melati?" tegur Marvel, Andre terkejut karena lupa dengan keadaan.


'Aku lupa udah buat sobek kertas CV dia!' batin Andre yang merasa tertekan karena pandangan Marvel, yang semakin lama semakin sinis saja ke arahnya.


Andre menyeringai, mencoba untuk mencairkan suasana.


"Emm ... gimana kalau saya lem aja kertasnya?" tawar Andre, semakin membuat mata Marvel menyipit sinis di hadapannya.


"Mana bisa begitu?" bantah Marvel, Andre menelan salivanya saking takutnya melihat reaksi Marvel saat ini.


"1 menit! Kalau dalam 1 menit kamu gak balik, saya potong bonus kamu!" ancam Marvel, membuat Andre lari terbirit-birit ke arah pintu.


"Siap, Tuan!!" teriaknya sembari menutup pintunya.


Andre berlarian ke arah lift untuk menuju ke ruang HRD, yang terletak di lantai dasar. Sementara itu, ruangan Marvel saat ini berada di lantai 10 gedung ini. Lantai tertinggi di gedung ini.


Andre menekan tombol lift berulang-ulang, berusaha secepatnya untuk sampai di lantai dasar. Namun, ternyata lift masih berada di lantai dasar. Andre harus menunggu beberapa saat untuk bisa menaiki lift tersebut.


"Masih di lantai dasar liftnya!" gumamnya, yang merasa riwayatnya akan tamat di sini, jika ia sampai terlambat memintakan salinan CV lagi kepada Pak Anton.


Sementara itu, Marvel menghela napasnya dengan panjang dan menghempaskan tubuhnya ke kursinya. Ia merasa kelakuan temannya itu ada-ada saja.


Marvel memijat keningnya yang tegang, "Padahal 'kan dia bisa hubungi Pak Anton dulu. Dia gak sadar, ini sudah jam setengah 6 sore? Semua staff pasti sudah pulang sejak 1 jam lalu. Apalagi ruangan Pak Anton di lantai dasar. Pasti lebih cepat keluar dari gedung ini," gumamnya yang merasa Andre terlalu rajin untuk memintakannya langsung.


"Padahal juga, saya punya soft copy file CV Melati di email saya. Kenapa juga dia harus nawarin buat minta ke Pak Anton lagi?" gumamnya lagi, yang merasa Andre benar-benar tidak beres.

__ADS_1


Marvel menggelengkan kepalanya kecil, sembari berdecak tak kuasa melihat kelakuan temannya yang seperti itu.


Sementara itu, Andre sudah sampai di lantai dasar. Setelah lift terbuka, ia segera keluar lift dan berlarian menuju ruangan HRD, tempat Pak Anton berada.


Dengan cepat, ia melesat ke sana dan membuka tuas pintu ruangan.


Matanya seketika mendelik, karena ternyata ruangan Pak Anton yang sudah terkunci.


"Lho, dikunci?" gumam Andre yang kebingungan dengan hal ini.


Seorang petugas keamanan datang dengan sangat heran, melihat Andre yang sepertinya sedang kebingungan di depan ruangan HRD.


"Mau nyari Pak Anton ya, Pak Andre?" tanyanya, Andre segera memandang ke arah sumber suara yang ternyata adalah petugas keamanan pada lobi.


"Iya, Pak. Kok ruangannya dikunci, ya?"


"Pak Anton sudah pulang, sejak 1 jam lalu, Pak! Jadi, ya wajar toh kalau ruangannya dikunci?" ujar satpam tersebut, sontak membuat Andre mendelik kaget.


Andre mengangkat lengan kirinya untuk melihat jam tangannya. Ternyata, waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Hal itu membuat Andre kebingungan sampai menepuk keningnya dengan kuat.


"Aduh ... udah pulang! Kenapa saya sampai gak ingat waktu, ya?" gumam Andre, yang saat ini kebingungan harus berbuat apa mengenai masalah CV Melati.


Sejenak Andre pun berpikir, 'Oh ya, dari lantai 10 sampai lantai dasar tadi, saya sama sekali gak lihat karyawan. Kenapa saya ga sadar kalau mereka sudah pulang?' batin Andre yang merasa sangat tidak memikirkan hal itu.


Melihat Andre yang sedang kebingungan, Pak satpam pun menjadi tambah kebingungan karenanya.


"Memangnya ... ada apa ya Pak Andre? Kayaknya kok bingung banget?" tanya Pak satpam.


Andre menggelengkan kepalanya, "Gak ada apa-apa, kok. Makasih ya, Pak!"


Andre segera pergi dari depan ruangan HRD tersebut, dan berjalan menuju lobi kantornya.


Di sana, ternyata sudah ada Marvel yang sudah berdiri di hadapan Andre, dengan tatapan yang tajam. Hal itu membuat Andre menelan salivanya, karena tidak berhasil membawa kembali salinan CV Melati yang sudah ia rusak.


Wajahnya seketika memelas, berusaha meminta belas kasihan dari Marvel.

__ADS_1


"Vel ... saya ... gak bisa dapat salinan CV Melati, karena Pak Anton--"


__ADS_2