
Berhadapan dengan orang seperti Laura, sungguh membuat Marvel jengah. Ia menghela napasnya, berusaha untuk mengembalikan kesadarannya.
Perlahan Marvel mengusap sisa air matanya, yang masih membasahi area sekitar wajahnya.
Matanya sudah sembab, saking terlalu lama dirinya menangis, meratapi rasa sakit yang ia rasakan.
Pikirannya sangat kusut, membuat dirinya terlihat sangat tidak berdaya.
“Harus bagaimana lagi?” gumam Marvel, merasa sudah sangat stuck dengan permasalahan yang ia hadapi.
Handphone-nya kembali berdering. Terlihat sekilas dari layar handphone-nya, tulisan bernama ‘Laura’ di sana.
Wajahnya seketika cemberut masam, karena lagi-lagi ia harus menerima telepon dari Laura.
Marvel tak menginginkannya, dan hanya bisa mengabaikannya saja.
Beberapa saat berlalu, handphone itu pun kembali berdering, membuat Marvel merasa kesal dengan sikap Laura yang seperti orang aneh itu.
Dengan perasaan yang kesal, Marvel pun mengangkat telepon darinya.
“Halo! Udah saya bilang, ‘kan, jangan telepon saya lagi, Laura!” bentak Marvel, yang merasa sudah sangat kesal dengan apa yang Laura lakukan.
“Vel, ini saya, Andre!” ujarnya, sontak membuat Marvel mendelik kaget mendengarnya.
__ADS_1
“Ndre? Kirain saya Laura,” ujar Marvel, merasa sedikit tidak enak dengan apa yang ia katakan pada Andre.
“Kenapa dengan Laura?” tanya Andre, yang penasaran dengan maksud Marvel.
Marvel menghela napasnya, “Gak apa-apa. Gak usah dibahas,” ujarnya. “Ada apa malam-malam nelepon?” tanyanya.
“Ah ... gak ada apa-apa. Cuma mau memastikan, situ aman atau enggak,” ujar Andre, yang sebenarnya sudah diberikan kabar oleh Marsha, kalau Marvel kembali mengunci dirinya di kamarnya.
“Aman gimana? Saya hampir gila karena di kamar terus!” ujar Marvel, sangat kesal, hanya dengan mendengar pertanyaan Andre saja.
“Wow ... jangan marah-marah gitu, dong! Saya ‘kan ... cuma nanya!”
Marvel menghela napasnya dengan panjang. Muncul sebuah ide di benaknya, untuk menghilangkan kejenuhan dan rasa galaunya.
“Vel, yang benar aja? Besok hari Senin, kenapa malah minum?!” pekik Andre terkejut, karena melihat keadaan yang tidak memungkinkan itu.
Marvel merengkek, “Ayolah, Ndre! Saya gak bisa minum sendiri! Tolong, saya harus bisa lupain Melati yang akan menikah besok!” ujarnya, sontak membuat Andre mendelik mendengarnya.
“Apa?! Melati mau nikah?! Sama siapa?!” pekik Andre yang kaget mendengarnya.
“Udah, ah! Cepetan siap-siap! Saya sampai di sana gak lama!” ujar Marvel yang segera bangkit dari ranjangnya, dan segera memakai jaketnya.
Andre tidak memiliki pilihan, “Ya ... ya!”
__ADS_1
Mereka pun segera bersiap-siap, untuk menuju ke tempat yang ingin mereka tuju.
***
Melati tidak bisa tidur, saking gugupnya ia dengan acara yang besok akan dilaksanakan.
Hiasan di rumahnya sudah setengah jadi, membuat pikirannya semakin kacau saja.
Kurang dari 6 jam lagi, ia akan dipersunting seorang lelaki tua, dan tidak bisa mengelak lagi dari takdir tersebut.
Walaupun ia tidak suka, tetapi ia harus melakukannya, agar seluruh biaya pengobatan karyawannya, bisa ia tanggung.
Matanya sembab, saking lamanya ia menangis. Pernikahan yang seharusnya membuatnya bahagia, pada kenyataannya membuat hatinya terus bersedih.
Perasaannya menolak, tetapi logikanya mengatakan harus menerima semua ini.
Sekali lagi, demi orang tuanya.
Pengorbanannya ini tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan pengorbanan kedua orang tuanya, saat melahirkan dan membesarkannya.
Melati kalah, oleh keadaan.
Dihelanya napas dengan berat, karena dirinya yang benar-benar tidak ingin bersanding dengan lelaki tua itu.
__ADS_1
Tidak sesuai dengan seleranya.