Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Kalah Dengan Keadaan


__ADS_3

BRRR!!


Bergetar sekujur tubuh Melati, mendengar lelaki tua berusia sekitar 50 tahunan, mengatakan hal seperti itu di hadapan Melati.


Melati memang sudah menyandang status sebagai janda, tetapi bukan berarti dia mau dan bersedia menikah dengan orang yang usianya jauh lebih tua 30-an tahun darinya.


Meskipun dia kaya, Melati bukanlah wanita yang senang mengincar harta.


‘Menikah dengan lelaki tua ini?’ batin Melati, yang benar-benar tidak habis pikir mendengar maksud dan tujuan dari lelaki tua itu.


Namun, jika tidak seperti itu, ia tidak akan bisa membayar hutang orang tuanya.


Di arah sana, terlihat juga ekspresi orang tua Melati yang sepertinya sudah pasrah mengenai harga diri mereka. Bahkan Ibu saja sampai tidak bisa bergeming, hanya bisa menahan rasa sedihnya saja.

__ADS_1


Bapak memandang ke arah Melati, yang sepertinya enggan melakukan hal tersebut. Sebagai orang tuanya, tentu Bapak tidak akan pernah memaksa, jika anaknya tidak menginginkan hal tersebut.


“Mel, kamu bisa nolak kalau kamu gak mau. Bapak gak apa-apa kok dipenjara, kalau kamu gak bahagia, Bapak gak akan mau maksa kamu,” ujar Bapak dengan ekspresi yang sangat bingung.


Melati tak bisa memutuskannya sekarang, karena ia juga masih mencintai sosok Rusdi, walaupun ia tidak suka dibohongi. Namun, ia juga tidak ingin melihat Bapaknya dipenjara, sehingga membuatnya berada di jalur buntu saat ini.


Pikiran Melati buntu, entah apa yang bisa ia putuskan, di saat pikirannya sedang buntu seperti ini.


Melati memandang bingung ke arah Pak Sodik, “Saya ... beri waktu saya sampai besok malam, Pak. Saya perlu waktu untuk memutuskan,” ucapnya, membuat Pak Sodik menyunggingkan tipis senyumannya.


Melati sangat mengetahui, Pak Sodik memang sangat memanfaatkan saat-saat seperti ini. Apalagi, di sini memang benar adalah kesalahan Bapaknya. Ia semakin menjadi-jadi, dan bisa seenaknya menghardik rakyat jelata seperti Melati.


Pak Sodik menoleh dan memandang ke arah Bapak dan Ibu Melati, “Baiklah Pak, Bu, saya permisi dulu. Tolong buat anak anda memikirkannya dengan benar,” ujarnya, membuat mereka hanya bisa diam, dan saling melontarkan pandangan bingung.

__ADS_1


Pak Sodik pun pergi dari rumah Melati, setelah ia melambaikan tangannya ke arah Melati, dan memberikan ciuman jarak jauh padanya.


Tingkah laku lelaki berumur 50 tahun itu, sungguh membuat Melati jengkel. Ia merasa sangat kesal, karena sejujurnya ia sangat geli dengan tingkah orang tua, yang sedang berada di fase puber kedua itu.


“Ya Tuhan ... mimpi apa aku semalam?!” pekik Melati, yang benar-benar tidak habis pikir dengan keadaan yang terjadi padanya ini.


Orang tuanya menghampiri Melati, dan merengkuh Melati dengan lembut. Mendapatkan rengkuhan tersebut, Melati lekas menyandarkan kepalanya pada bahu kekar Ayahnya, dan menumpahkan semua tangisnya.


Bapak dan Ibu Melati, mereka juga tidak bisa melakukan apa pun lagi, selain hanya menangisi nasib keluarga mereka, yang saat ini sedang berada di ambang kehancuran.


Cobaan yang menimpa keluarga mereka, benar-benar sangat tidak terduga, dan sangat menguji keimanan mereka.


Di sini, Melati mesti harus berpikir keras, antara memikirkan perasaannya atau perasaan kedua orang tuanya.

__ADS_1


‘Aku kalah ...,’ batin Melati, yang merasa tidak tega jika ia melihat Ayahnya masuk ke dalam jeruji besi.


***


__ADS_2