
Pandangan Marcel yang seperti itu, membuat Melati tidak nyaman. Ia merasa terintimidasi, dan tidak ingin memandangnya lebih lama lagi.
“Maaf, ada apa ya, Tuan Marcel? Ada keperluan dengan saya?” tanya Melati, berusaha untuk bersikap professional di hadapan Marcel.
Marcel memandangnya dengan heran, dan mengikuti apa yang Melati lakukan. “Ya, saya ada perlu dengan kamu,” ucapnya, Melati tersenyum formalitas di hadapannya.
“Baik, Tuan. Setelah ini, saya akan menemui Tuan. Saya harus secepatnya ke sana, agar bisa secepatnya mengantarkan berkas yang diperlukan, ke ketua tim,” ucap Melati.
“Saya perlu sekarang, untuk meminta kamu menemani saya ke Bramantio Grup.”
Melati mendelik kaget, karena mendengar ucapan Marcel yang sepertinya kebetulan sekali dengan tujuannya saat ini.
‘Kenapa bisa kebetulan gini, ya? Apa dia sengaja mau deket-deketin aku lagi?’ batin Melati yang berjaga-jaga mengenai hal itu.
Marcel tersadar karena Melati yang memandangnya dengan tatapan seperti itu. “Kenapa? Ada apa di wajah saya?” tanyanya, membuat Melati tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
Melati menggelengkan kecil kepalanya, “Ah? Gak ada apa-apa, Tuan!”
“Kalau gitu, cepat temani saya untuk pergi ke Bramantio Grup!” pintanya dengan tegas, membuat Melati tidak bisa menolaknya dan hanya bisa memandangnya dengan tegas.
“Baik, Tuan!”
Mereka pun pergi ke tempat tujuan, dengan tujuan mereka masing-masing. Melati tidak lagi berpikir yang aneh-aneh, karena ia juga tidak ingin memikirkan hal yang tidak seharusnya ia pikirkan.
Karena sudah hampir sore, mereka mempercepat pergerakan mereka karena tidak ingin sampai terlambat dalam hal yang ingin mereka urus.
“Saya ada urusan dengan HRD di sini, kamu bisa pergi sendiri ke ketua tim yang menangani projek ini. Nanti, kita bertemu lagi di sini,” ucap Marcel, membuat Melati menangguk mendengarnya.
“Baik, Tuan.”
Mereka pun segera berpencar, untuk mengurus urusan mereka masing-masing.
__ADS_1
Melati melangkah ke ruangan ketua tim, yang mengurus tentang projek yang sedang mereka jalankan.
Karena tidak tahu di mana letak ruangan ketua tim di perusahaan ini, Melati hanya mengandalkan informasi dari rekan di kantornya saja. Rekan kantornya mengirimkan pesan singkat, untuk menjelaskan letak ruangan ketua tim di perusahaan ini.
Langkahnya terhenti, ketika melihat tulisan, ‘Ruangan Manajer’ yang ada di hadapannya. Kakinya mendadak gemetar, saking tidak menyangkanya ia bisa melihat ruangan Martin dari jarak yang sangat dekat seperti ini.
Biasanya ia tidak bisa masuk ke dalam gedung kantor ini. Ia hanya bisa menuggu Martin di lobi gedung ini. Namun, sekarang Melati bisa dengan mudahnya melihat ruangan Martin di hadapannya.
‘Ruangan Mas Martin,’ batin Melati, yang merasa sedikit takut kalau saja ia bertemu kembali dengan Martin saat ini.
Keringatnya mengucur pada keningnya, karena merasa tegang dengan keadaan ini. Lirikan matanya perlahan mencari keberadaan orang yang dikehendaki, tetapi ia sama sekali tidak melihat sosok Martin di dalam ruangan ini.
‘Ini bener ruangan Mas Martin, kan? Kenapa gak ada siapa pun di dalam?’ batin Melati, yang merasa ruangan tersebut kosong tak berpenghuni.
Melati kembali melirik ke arah pintu kaca tersebut, dan mencari lagi keberadaan Martin yang tidak tahu ada dan tiadanya itu.
__ADS_1
‘Duh ... jangan-jangan aku bakalan ketemu lagi sama Mas Martin?’ batin Melati, yang sudah sangat takut karenanya.