
Tak percaya dengan apa yang ia lihat, Marvel pun sampai mendelik dan mencoba mendekati Melati. Namun, ketika Marvel mendekatinya, Melati pun agak menjauh karena ia tidak ingin Marvel mendekat ke arahnya.
“Tuan sudah kembali dari perjalanan dinas? Maaf saya tidak bisa menyampaikan pengunduran diri dengan benar,” ujar Melati, membuat Marvel hanya bisa terdiam mendengarnya.
Pandangan mereka bertemu, membuat Melati sangat risih dipandangi Marvel dengan pandangan sendu seperti itu.
Rasa risihnya, membuat Melati enggan berlama-lama di sana.
“Maaf, Tuan. Saya ... permisi dulu,” pamit Melati, yang lalu mengangguk kecil ke arah wanita yang berada di sebelah Marvel.
Setelah mendapat anggukkan dari Marsha, Melati pun pergi dari sana, membuat Marvel merasa sangat bersalah dengannya.
“Melati!!” pekik Marvel, tetapi Melati tidak menghiraukannya.
Rasa kesal melanda Marvel, membuatnya harus meremas rambutnya dengan kencang. Entah kenapa, Melati seperti sedang berupaya untuk menjauhinya.
Terlihat jelas dari gerak-gerik Melati.
__ADS_1
‘Tapi alasannya apa?’ batin Marvel dengan perasaan hati yang sudah sangat gelisah.
Pikirannya dan matanya sama-sama terbuka, ‘Jangan-jangan ... Melati udah tau kalau saya ini ...,’ batinnya, tak kuasa untuk melanjutkan pemikirannya.
‘Tapi, siapa yang memberitahu?’ batin Marvel, yang tidak bisa menduga, kalau orang itu adalah Marcel.
Melihat Marvel dengan sikap yang aneh seperti itu, Marsha pun merasa bingung, karena ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
‘Abang kenapa, ya? Kenapa dia bersikap seolah-olah ada kesalahan dengan wanita tadi?’ batin Marsha, yang tidak menyadari dengan hal yang sedang menjadi permasalahannya saat ini.
Padahal, Marsha ada saat malam di mana Marvel diadili oleh keluarganya. Namun, nampaknya Marsha tidak terlalu sadar, kalau Melati yang telah mereka bahas, adalah Melati yang ada di hadapannya tadi.
Marvel merenungi nasibnya, menunduk dengan tangan yang sudah meremas pada rambutnya.
Namun, momen sendu ini membuat Marsha terkejut, karena tangan yang Marvel gunakan untuk meremas rambutnya, adalah tangan yang sama dengan yang ia pakai untuk makan pecel lele tadi.
“Bang?! Kenapa tangannya diremas ke rambut? Itu ‘kan kotor?!” pekik Marsha, dengan mata yang melotot ke arahnya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Marsha itu, Marvel pun ikut mendelik, karena ia juga sebenarnya lupa dengan hal itu.
“Yah!” pekik Marvel, sembari melihat ke arah tangan kanannya, yang sudah berlumuran dengan minyak dan juga sambal.
Marvel tidak bisa melihat ke arah rambutnya, karena rambutnya yang pendek, membuatnya kesulitan untuk melihat dengan benar.
Hilang sudah selera makan Marvel, karena mengingat rambutnya yang sudah dipenuhi oleh minyak dan juga sambal. Ia bahkan sudah bisa merasakan panas di kepalanya, karena sambal itu ternyata masuk ke dalam pori-pori kepalanya.
Dengan tajam, Marvel memandang ke arah Marsha. “Ayo kita pulang!” ajaknya sembari bangkit dari tempat duduknya.
Marvel tak menunggu persetujuan Marsha. Ia langsung saja melangkah pergi ke arah mobilnya, sehingga membuat Marsha memandangnya dengan datar.
“Sama aja gue yang bayar ini mah ...,” gumam Marsha, yang berniat untuk meminta Marvel membayarkan semua makanannya, malah terpaksa ia yang harus membayarkan semuanya.
Marsha menghela napasnya dengan panjang, “Mana gue makan banyak banget lagi tadi,” gerutunya, sembari mengeluarkan dompetnya.
Walaupun kesal, Marsha tetap melangkah ke arah kasir, untuk membayar apa yang sudah menjadi tanggungannya.
__ADS_1
***