Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Pesona Marcel 2


__ADS_3

Marcel tak menggubris, dan malah membuang pandangannya. Namun, ia memiliki rencana lain untuk para satpam ini. Ia pun kembali memandang ke arah mereka dengan senyuman yang menyungging.


“Gue gak akan mudah maafin kalian! Gue aduin aja ke bokap, atau ke Bang Marvel! Biar kalian semua dipecat!” ancamnya, membuat para satpam itu kembali memasang tampang memelas di hadapan Marcel dan Melati.


Melati merasa kalau tindakan Marcel terlalu berlebihan. Dengan perasaan yang tidak enak, ia pun memandang ke arah Marcel untuk menyuarakan pendapatnya.


“Mmm ... anu, Pak Marcel,” panggil Melati, membuat Marcel mengalihkan pandangannya ke arah Melati.


Marcel mengangkat sebelah alisnya karena merasa heran, “Lo manggil gue?” tanyanya, membuat Melati sedikit takut berhadapan dengannya.


“Sepertinya, tindakan Pak Marcel itu tidak perlu. Untuk memecat semua satpam, hanya karena masalah seperti ini, menurut saya ... itu terlalu berlebihan. Saya gak apa-apa kok, Pak! Memang saya yang salah, karena sudah datang terlambat,” ujarnya berusaha untuk membela para satpam itu.


Para satpam mendelik kaget mendengar ucapan Melati, padahal mereka sudah melakukan hal tidak baik padanya, tetapi ia malah membela mereka di hadapan Marcel saat ini.


Marcel juga agak terkesan, karena keberanian wanita yang ada di hadapannya untuk menyuarakan pendapatnya. Ia merasa memandang Melati dengan pemikiran yang salah, dan mengurungkan niatnya untuk melakukan sesuatu yang tidak baik kepada Melati.


‘Gila nih cewek, dibantuin malah ngebelain mereka yang udah nge-bully dia! Kenapa ini cewek beda banget? Biasanya kalau ada yang diginiin, pasti dia bakal manfaatin keadaan buat makin jadi bossy. Kenapa dia enggak? Gue ‘kan jadi susah buat manfaatin dia setelah ini!’ batin Marcel yang merasa terheran-heran dengan keadaan dan sikap Melati.


Melati memandang dalam ke arah Marcel, “Pak Marcel?” panggilnya, membuat Marcel tersadar dari lamunannya.


Memikirkan sikap Melati, hal itu membuat Marcel menjadi agak tertarik dengannya. Ia langsung menyodorkan tangannya ke arah Melati, sontak membuat semua orang yang ada di sana menjadi terkejut karenanya.


“Nama loe siapa?” tanya Marcel dengan wajah yang terlihat merona, yang sedang berusaha ia tutupi.

__ADS_1


Melati mendelik kaget, karena melihat ekspresi wajah Marcel yang seperti itu di hadapannya, sembari menyodorkan tangan padanya.


‘Dia kenapa? Ngajak kenalannya kok sampe mukanya merah begitu?’ batin Melati, yang memang agak-agak polos dan hampir tidak bisa membaca ekspresi wajah setiap orang.


Saking bingungnya Melati, ia sampai hanya memandang saja ke arah tangan Marcel, tanpa menerima jabatan tangan yang Marcel sodorkan padanya. Hal itu membuat Marcel merasa kesal dengan keadaannya saat ini.


‘Kenapa dia gak jabat tangan gue, sih? Baru kali ini gue ngajak cewek kenalan, tapi malah diplototin begini?’ batin Marcel yang merasa kesal dengan keadaan yang menyudutkan dirinya seperti itu.


Sementara itu, Marvel masih berfokus pada mereka yang sudah memenuhi aula pertemuan. Ia masih mengadakan sambutan, bagi staf yang baru saja bekerja di perusahaan tempat mereka bekerja itu.


Marvel juga sekaligus membangun sifat dan sikap dirinya, di hadapan para stafnya, agar tidak menganggap remeh dirinya, yang terlihat tidak biasa pemarah.


“Sekali lagi saya ucapkan, selamat datang bagi para staf baru yang sejak pagi tadi sudah memadati aula ini. Saya memberikan banyak sekali apresiasi, untuk kalian yang tidak terlambat pada hari pertama kalian bekerja di kantor ini. Karena jujur saja, saya sangat tidak suka jika ada orang yang terlambat masuk ke dalam aula, atau masuk pada saat jam kerja, dengan alasan apa pun. Ingat, dengan alasan apa pun! Saya tidak membenarkan, dan saya pasti akan memberikan hukuman secara pribadi, kepada setiap orang yang terlambat masuk jam kantor. Itu semua saya lakukan, agar kalian lebih disiplin dengan waktu dan jam kerja kalian. Jangan sampai, kalian masuk dengan susah payah ke tempat ini, tetapi kalian keluar dengan sangat mudahnya,” ujar Marvel, yang sudah sangat terlihat wibawanya di hadapan para staf barunya itu.


BRAK!


Melati menundukkan kepalanya karena malu, “Maaf, Pak. Saya terlambat masuk ke aula!” ujarnya dengan cukup keras, sehingga semua orang yang ada di aula ini sampai mendengar suara permohonan maaf dari Melati.


Meliha Melati yang kini berada di hadapannya, membuatnya menjadi kebingungan dengan keadaan. Orang-orang yang melihat pun sudah terdengar berbisik-bisik tentang Melati, membuat Marvel menjadi bingung dengan pernyataannya sendiri.


‘Saya sudah bilang kalau saya paling tidak suka orang yang terlambat, tetapi Melati malah terlambat di hari pertama masuk kerja. Bagaimana ini menyikapinya?’ batin Marvel yang sedang diuji di sini.


Ketika menunduk itu, Melati mendelik karena ia yang tak sengaja melihat dirinya yang masih memakai sandal japit yang ternyata masih terpasang sejak ia berangkat dari rumah. Karena saking terlalu terburu-burunya, Melati sampai lupa untuk mengganti sandal japitnya dengan heels yang sudah ia siapkan di tasnya.

__ADS_1


Semua orang mendelik kaget, ketika mereka juga menyadari Melati yang masih memakai sandal japit masuk ke dalam aula. Marvel juga ikut menyadari, dan merasa keadaannya menjadi semakin berat saja.


“Kenapa dia pakai sandal japit ke kantor, ya?”


“Iya, gak tau malu banget!”


“Udah telat, pakai sandal japit pula! Hidupnya aneh banget!”


“Hidupnya kelihatan urakan banget! Gak sesuai dengan SOP kantor!”


“Heran, kok kantor sebesar ini mau nerima orang yang gak sesuai SOP?”


“Ya, padalah masih banyak sisa dari 70 orang kemarin yang tertolak, hanya karena wanita yang gak tahu SOP ini.”


“Sebentar lagi juga kena omel sama Pak Marvel! Pak Marvel ‘kan gak suka sama orang yang telat, apalagi pakai sandal japit ke kantor!”


Mendengar bisik-bisik mereka, Marvel menjadi bingung sekali dengan keadaannya. Ia menghela napasnya, sampai ia melihat Marcel yang baru saja sampai di pintu aula, dengan keadaan seperti habis berlarian.


“Tunggu! Itu loe kenapa gak pake sepatu?” tanya Marcel, yang terlambat memberi tahu kepada Melati, sehingga Melati mendapatkan rasa malu di hadapan para staf baru, dan juga staf lama lainnya.


Karena tak melihat keadaan, Marcel sampai tak sadar kalau banyak sekali orang yang memperhatikan mereka.


Marcel melongo kaget, ketika ia menyadari bahwa semua mata tertuju padanya. Hal itu yang membuatnya sampai terdiam sejenak, apalagi saat ia melihat sosok Marvel yang ada di hadapannya, yang kini sedang memandangnya dengan sinis.

__ADS_1


'Aduh, mati gue!' batin Marcel yang sudah tidak bisa mengelak lagi dari keadaan yang ada.


***


__ADS_2