
Marcel sudah sampai di halaman depan rumah Melati. Ia tidak datang dengan menggunakan mobil, melainkan diantar dengan temannya. Karena mobilnya hendak dipinjam dengan temannya, untuk melanjutkan party selanjutnya.
Karena kemarin belum sempat menjenguk Melati, Marcel akhirnya menyempatkan diri untuk sekadar menjenguk Melati. Ia merasa sangat sepi, karena Melati yang tidak masuk kantor selama dua hari lamanya.
“Ya ampun, dia gak ada dua hari aja ... gue udah kangen,” gumam Marcel, sembari melangkah ke arah pintu masuk rumah Melati yang terbuka.
Marcel berdiri di depan rumah Melati, ia memandang keadaan dan segera mempersiapkan dirinya. “Permisi!” teriaknya.
Seseorang datang ke arahnya, dengan wajahnya sumringah. “Nak Marcel ....”
Marcel tersenyum, lalu memberikan bingkisan yang sedang ia pegang di tangannya. “Ini untuk Ibu, bapak dan Melati,” ucapnya, sontak membuat Ibu merasa sangat kaget.
“Wah ... jangan repot-repot Nak Marcel,” ucap Ibu dengan nada yang tidak enak, sembari tersenyum.
“Gak repot kok, Bu,” ujar Marcel. “Oh ya, Melati ada di dalam tidak, Bu?” tanyanya memastikan.
__ADS_1
“Ada di dalam. Nak Marcel pasti mau jenguk Melati, kan?” tanya Ibu memastikan, “ayo masuk!” ajaknya.
Marcel pun mengangguk kecil, dan mengikuti Ibu untuk masuk menjenguk Melati yang keadaannya sedang tidak sehat.
Di atas ranjangnya, Melati sedang bersandar pada dipan ranjang, sembari berbincang ringan dengan Bapak. Melati sangat senang, karena ketika ia tidak sehat, Bapak dan ibu selalu bisa menghiburnya dan merawatnya.
“Mau kue, gak?” tanya Bapak, Melati menggelengkan kecil kepalanya tanda tidak mau. Bapak mengerutkan dahinya, “Anak Bapak harus cepet pulih. Kalau gak mau makan, nanti tambah lama dong sakitnya,” rayunya, yang berusaha untuk membuat Melati memakan sesuatu untuk mengisi perutnya.
“Lidah Melati pahit banget, Pak. Gak bisa kalau makan roti,” ujar Melati menjelaskan, Bapak menjadi bingung mendengarnya.
“Habis kamu mau makan apa dong?” tanya Bapak.
Terlihat Marcel yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Ia memegang bingkisan berisi camilan, yang akan ia berikan khusus kepada Melati.
Melihat kedatangan Marcel, Melati mendelik kaget, karena ternyata Marcel punya niatan juga untuk menjenguknya yang sedang sakit.
__ADS_1
“Tuan Marcel?” gumam Melati, kebingungan melihat keberadaan Marcel yang ada di hadapannya.
Bapak tersenyum sembari memandang Marcel, “Eh Nak Marcel ... sini masuk,” suruhnya.
Marcel pun mengangguk, kemudian masuk ke ruangan kamar Melati bersama dengan Ibu Melati.
Melihat keadaan Melati dengan wajah pucat seperti itu, Marcel menjadi agak sedih karena tidak bisa menjaga Melati dari Rachel. Ia merasa sangat sedih, karena ia tidak bisa melakukan apa pun. Bahkan, yang mengangkatnya kemarin adalah Marvel dan bukan dirinya.
“Hai, Mel. Apa kabar?” sapa Marcel, Melati merasa Marcel agak beda memperlakukannya saat ini.
‘Tuan Marcel kok jadi beda, ya? Apa karena di hadapan Bapak Ibu aja, dia jadi lembut begini?’ batin Melati, yang merasa kebingungan melihat sikapnya yang selembut ini.
Melihat Melati yang hanya diam, Bapak merasa tidak enak dengan Marcel. Bapak menyenggol pelan lengan Melati, membuat Melati tersadar dari lamunannya.
“Ah? Yaa ... udah baikan kok, Tuan.”
__ADS_1
Marcel tersenyum, “Bagus deh kalau udah baikan. Maaf ya, saya baru sempat ke sini untuk menjenguk.”
“Gak apa-apa, Tuan.” Melati tersenyum tipis mendengarnya.