
Melihat keadaan Marvel dan Melati yang saling berpandangan satu sama lain, dengan jarak yang sangat dekat, Marcel mendadak seperti orang yang sedang kebakaran jenggot. Ia merasa sangat kesal, karena melihat Marvel yang mendapatkan kesempatan bagus untuk lebih dekat secara intim dengan Melati.
‘Mereka apa-apaan, sih?! Kenapa malah makin deket begitu? Tadi bukannya lagi keselek?’ batin Marcel yang merasa aneh dengan keadaan mereka saat ini.
‘Terlalu dekat!’ batin Melati, yang langsung melepaskan tangannya dari tangan Marvel dan menggeser tempat duduknya supaya lebih jauh dari tempat Marvel.
“Maaf, Tuan!” ucap Melati, sembari menundukkan pandangannya dari Marvel.
Tak hanya Melati, Marvel pun ikut merasa canggung karena merasa terlalu dekat dengan jarak Melati berada. Ia baru sadar, ternyata jarak tersebut mempengaruhi detak jantungnya, sehingga terpacu menjadi lebih cepat dari biasanya.
Marvel berusaha untuk membenarkan sikapnya di hadapan Melati, “Gak apa-apa, Mel.”
Mereka benar-benar merasakan perasaan yang sangat canggung satu sama lain, sehingga membuat mereka saling terdiam. Melati sampai kehilangan selera makannya, karena Marvel yang sudah terlanjur mengagetinya.
‘Dia kenapa pake ngikutin segala, sih? Hilang selera makan aku jadinya,’ batin Melati, yang sedikit merasa kesal dengan Marvel.
__ADS_1
“Kamu udah gak apa-apa, Mel? Masih sakit, gak?” tanya Marvel, Melati memandangnya dengan sangat kaku.
“Saya gak apa-apa kok, Tuan. Udah enakan tenggorokannya, karena udah minum tadi,” jawab Melati, menjelaskan tentang keadaannya saat ini.
Marvel mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah, bagus.”
Sejenak, mereka pun saling diam karena tidak bisa mengatakan apa pun lagi.
Karena merasa canggung dengan keadaan, Marvel pun memandang ke arah sang penjual makanan, berniat untuk memesan makanan yang ada di hadapannya.
“Tuan mau pesan makan?”
Marvel mengangguk kecil, “Ya, Bu. Tolong seporsi makanan yang sama kayak Mbak yang di samping saya,” pintanya, membuat pemilik rumah makan tersebut mengangguk kecil mendengarnya.
Melati menoleh ke arah Marvel, karena seleranya yang ternyata sama seperti dirinya. Sangat berbanding terbalik dengan selera yang Marcel miliki.
__ADS_1
‘Tuan Marvel gak pilih-pilih makanan, ya? Kenapa beda jauh banget sama Tuan Marcel?’ batin Melati, yang sangat merasa aneh dengan selera mereka yang berbanding terbalik.
“Tuan Marvel, maaf saya lancang bertanya. Kenapa Tuan mau makan di tempat seperti ini?” tanya Melati, membuat Marvel tertawa kecil mendengar pertanyaannya.
“Memangnya tempat ini kenapa?” tanya balik Marvel, Melati menjadi tidak enak mendengarnya.
“Emm ... ya ... ‘kan Tuan Marvel seorang CEO di perusahaan terkenal nomor 1 di kota ini, kenapa malah makan di tempat yang sederhana seperti ini? Padahal Tuan Marcel aja seleranya high banget,” ujar Melati, Marvel terdiam sejenak mendengar ucapan Melati yang membawa-bawa Marcel saat berbicara dengannya.
Marvel terdiam, karena ia merasa sedikit cemburu dengan Melati, yang membawa Marcel ke dalam topic pembicaraan mereka saat ini.
‘Kenapa kamu ngomongin Marcel saat bicara sama saya, Mel?’ batin Marvel bertanya-tanya dalam hatinya.
Melati hanya memandang ekspresi di wajah Marvel, dengan pandangan yang bingung, “Tuan Marvel, kenapa?” tanyanya, yang benar-benar polos dan tidak mengerti dengan keadaan.
Marvel hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena ia tidak ingin memberitahu kepada Melati, apa yang ia rasakan.
__ADS_1