
Marvel baru tahu, kalau ternyata makanan yang ia bawakan dimakan dengan nikmatnya oleh Melati.
‘Dia suka ternyata,’ batin Marvel, yang merasa sangat senang mendengarnya.
Marvel tertawa kecil melihat Melati berbicara seperti itu, “Kunyah dulu, telan sampai habis. Setelah itu baru bicara, Mbak,” ucap Marvel, membuat Melati tertawa sembari menutup mulutnya.
“Iya, maaf. Kebiasaan buruk aku begitu, Rus!” ujar Melati, yang malu di hadapan Rusdi.
Mereka pun melanjutkan makan mereka, sampai mereka merasa sangat kekenyangan.
Melati mengelus perutnya dengan perasaan yang sangat bahagia, “Ah ... akhirnya aku kenyang juga!” gumamnya.
__ADS_1
Marvel tersenyum melihat ekspresi Melati yang seperti itu, “Bagus, deh! Kamu suka gak sama makanannya?” tanyanya, yang ingin membiasakan untuk berbicara santai dengan Melati.
“Suka, dong!” jawab Melati seadanya, membuat Marvel tersenyum.
“Bagus! Kapan-kapan, kita ke sini lagi ya!” ujar Marvel, Melati mengangguk kecil dengan senyum sumringah mendengarnya.
Marvel mengeluarkan dompet hitamnya, berniat untuk membayar makanan yang sudah mereka makan. Karena melihat Marvel mengeluarkan dompetnya, Melati pun ikut mengeluarkan dompetnya.
“Kita bayar masing-masing aja, ya! Ini lagi tanggung bulan, apalagi kamu belum nerima gaji. Kasian kamunya,” ucap Melati, sontak membuat Marvel mendelik kaget mendengarnya.
“Ah, apaan sih kamu? Aku bayarin kamu, lagian kamu tanggungan aku karena aku yang ngajak makan. Aku udah sewajibnya bayarin makan kamu,” tolak Marvel, membuat Melati terdiam sejenak.
__ADS_1
Perasaan senang campur sedih Melati rasakan, karena ia tiba-tiba saja teringat dengan sosok Martin. Martin yang tidak pernah memberikannya nafkah, dan tanggung jawab, berbeda dengan Rusdi yang baru saja dia kenal, malah mau menanggung uang makannya itu.
‘Kenapa malah aneh gini? Rusdi yang bukan siapa-siapa aku aja, mau nanggung uang makan aku. Kenapa mas Martin gak bisa nanggung nafkah buat aku? Ketika dia jaya, dia malah seenaknya pergi sama wanita lain,’ batin Melati, yang merasa dirinya sangatlah menyedihkan.
Bahkan ia sama sekali tidak bisa merasakan nafkah dari Martin, tetapi Martin sudah keburu menceraikannya. Selama ini, Martin yang selalu ditanggung oleh keluarga Melati, dari mulai pakaian, tempat tinggal dan juga makanan sehari-hari. Namun, Martin masih juga tidak bersyukur mengenai hal itu.
Marvel bingung melihat Melati yang hanya bengong saja di hadapannya, “Kenapa bengong aja?” tanyanya, membuat lamunan Melati buyar seketika.
“Gak apa-apa,” bantah Melati. “Oh ya, beneran gak apa-apa kamu yang bayar? Kamu ‘kan ... belum dapat gaji?” tanyanya, yang malah merasa keberatan dengan Rusdi yang mau membayarkan makanan yang ia makan ini.
“Beneran, Mel. Aku gak biasa split bill, dan gak biasa dibayarin cewe. Kamu tenang aja,” ujar Marvel, yang benar-benar sudah terbiasa mengatakan hal tersebut pada Melati.
__ADS_1
Marvel memandang Melati dengan khawatir, “Eh, ngomong-ngomong, aku manggil kamu Melati gak apa-apa, kan? Kalau Mbak Melati ‘kan ... gak enak gitu kayaknya. Kayak ada jarak di antara kita, padahal aku gak mau ada jarak di antara kita,” ucap Marvel, sontak membuat Melati menunduk malu mendengarnya.
‘Aku juga gak mau ada jarak di antara kita,’ batin Melati, yang merasa sangat senang menengarnya, tapi ia tidak bisa mengatakannya langsung pada Marvel.