
Martin dan Melati menoleh ke arah datangnya Ria, yang pandangannya terus menajam ke arah Melati itu.
‘Ceweknya dateng,’ batin Melati, yang merasa sangat takut, kalau saja Ria akan mengatakan hal yang tidak baik tentang dirinya.
Melihat Ria yang menggandeng mesra Martin di hadapannya, Melati hanya bisa terdiam dan menunduk, karena ia ternyata hatinya yang masih belum mampu melupakan sosok Martin.
‘Aku masih belum bisa lupain Mas Martin,’ batin Melati, yang merasa sangat sedih dan gelisah karena berhadapan dengan mereka saat ini.
Ria menatap dalam ke arah Melati, “Ini bukannya mantan istri kamu, Mas? Kok ada di sini?” tanyanya sinis, Melati menatapnya dengan datar.
“Ya, aku juga gak tau kenapa dia ada di sini,” jawab Martin seadanya, yang memang benar tidak mengetahui maksud dan tujuan Melati ke tempat kerja mereka.
__ADS_1
Karena tidak ingin Ria merasa cemburu, Martin pun kembali bersikap seperti biasanya kepada Melati.
Senyumnya menyungging, “Wah ... saya ketemu dengan masa lalu saya di tempat ini. Sungguh sangat kebetulan bisa bertemu anda di sini, Melati,” ucapnya, dengan terselip sedikit nada meledek.
Ria tak memedulikan ucapan Martin dan malah menatap sinis ke arah Martin, “Kamu nyuruh dia ke sini, buat ngasih makan siang lagi ya?” bidiknya sinis, sontak membuat Melati kaget mendengarnya.
Melati sontak mengangkat kepalanya, “Saya gak--”
“Melati ke sini untuk antar saya mengurus proyek, kok! Gak ada hubungannya dengan dia!” pangkas seseorang yang tiba-tiba saja berada di sebelah Melati.
‘Waduh ... ada Tuan Marcel! Gimana kalau nanti mereka ribut?’ batin Melati, yang sudah sangat takut saja jika hal itu benar-benar terjadi.
__ADS_1
Melihat Marcel yang berdiri tegak di hadapan mereka, mereka pun sontak mendelik kaget karena kedatangan manajer dari perusahan yang Marvel kelola, yang tak lain juga adalah adik dari Marvel, dan putra kedua dari pemilik perusahaan tersebut. Ria sampai memainkan rambutnya, untuk berusaha menggoda Marcel yang ada di hadapannya.
“Tuan Marcel ...,” sapa Martin dan juga Ria, yang terkejut melihat keberadaan Marcel di sini.
‘Tuan Marcel! Kebetulan, kalau gak bisa dapetin kakaknya, minimal dapet adiknya!’ batin Ria, yang sudah sejak lama mengincar Marvel, saat mereka sering bertemu untuk membahas proyek yang ingin mereka kerjakan bersama.
Melihat ekspresi wajah dan tingkah Ria yang sangat genit, Marcel segera merangkul pinggul Melati untuk lebih dekat dengannya, sampai meniadakan jarak di antara mereka. Hal itu sontak membuat mereka terkejut, tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Marcel pada Melati, yang terlihat sangat intim itu.
“Melati adalah sekertaris di kantor kami. Dia juga yang mengurus data dan kelengkapan berkas tentang projek yang akan kita jalani besok,” ucap Marcel, memperkenalkan Melati tanpa dipinta oleh mereka.
Informasi dari Marcel, paling tidak sudah membuat mereka paham dengan siapa Melati sebenarnya, dan kenapa Melati bisa ada di gedung kantor ini.
__ADS_1
Marcel masih menatap tajam ke arah mereka, “Melati bukan hendak mengantarkan makan siang untuk Tuan Martin, tetapi hendak mengambil berkas yang baru diperbarui untuk projek yang akan dijalankan besok,” ucapnya lagi sembari melirik ke arah Ria, sampai Ria menjadi sangat kaku mendengarnya dan merasa tidak enak karena sudah mengucapkannya.
“ ... dan satu lagi ... Melati itu ... pacar saya! Gak ada alasan untuk mengantarkan makan siang kepada lelaki lain selain saya!”