
Setelah pamit dengan kedua orang tua Melati, Marcel mengajak Melati untuk pergi mengunjungi sebuah tempat untuk membeli gaun yang menunjang penampilan mereka saat ini. Marcel membelikan satu set gaun beserta perhiasan kepada Melati, agar suasana makan malam kali ini berjalan dengan sangat romantis.
Mereka sedang menuju ke arah restoran bintang lima yang sering Marcel kunjungi, bersama dengan wanita lain.
Melati selalu memegangi dadanya, untuk menutupi gaun yang terkesan sangat terbuka ini. Ia merasa sangat malu, karena ia tidak pernah memakai pakaian yang terlalu terbuka seperti ini.
‘Duh ... kalau bukan karena dipaksa sama dia, gak akan mau aku pakai gaun terbuka seperti ini!’ batin Melati, yang menggerutu di dalam hatinya karena merasa kesal dengan keadaan.
Marcel melirik ke arah Melati melalui kaca spion yang ada di hadapannya, lalu ia menyunggingkan senyumannya ketika melihat Melati yang merasa seperti kesal padanya.
‘Dia pasti kesel banget karena gue paksa tadi! Biarin aja, ternyata dia punya look yang bagus kalau pakai gaun begini!’ batin Marcel yang sudah merasa puas, hanya dengan meliat Melati mengenakan pakaian yang ia sukai.
Mereka menuju ke arah restoran yang sudah dipesan oleh Marcel, via telepon. Tak butuh waktu lama dari tempat Marcel memandang Melati, mereka kini sudah sampai di halaman resto tersebut.
Melati memandang bingung ke arah suasana restoran ini, karena ia sama sekali tidak pernah masuk ke dalam restoran semewah ini. Ia merasakan suasana yang agak aneh, karena baru pertama kali datang ke tempat ini.
Mereka kini sudah sampai di restoran tersebut. Marcel memarkirkan mobilnya di lobi depan restoran, dan disambut dengan seorang pelayan yang ada di sana.
Marcel menuruni mobil berniat untuk membukakan pintu untuk Melati, tetapi Melati yang tidak tahu tentang etika tersebut, turun untuk mengikuti Marcel yang sudah lebih dulu turun darinya.
Marcel melangkah ke arah pintu sebelah kemudi, dengan pandangan yang sama sekali tidak ia perhatikan. Ia hanya melangkah dengan cepat, sampai akhirnya ia menabrak Melati dan membuat kepala mereka terbentur satu sama lain.
“Aduh!!” pekik mereka bersamaan, sembari memegang kepala mereka yang sudah terbentur satu sama lain itu.
Pandangan mereka bertemu, membuat Marcel merasa sangat malu diperhatikan orang yang sudah menunggu mereka di sana.
“Aduh, lo gimana sih?! Kenapa malah keluar? Gue ‘kan mau bukain pintu buat lo!” bentak Marcel, yang masih mengusap-usap kepalanya yang terbentur cukup kencang dengan kepala Melati.
Melati memandangnya dengan bingung, “Oh, Pak Marcel mau bukain pintu buat saya? Saya kirain Pak Marcel mau pergi duluan, makanya saya ikutin dari belakang!” ucap Melati, yang membuat Marcel menghela napasnya dengan kasar.
__ADS_1
‘Duh ... ini cewek polos banget, sih!’ batin Marcel, yang merasa sedikit kesulitan untuk menghadapi Melati.
Marcel melemparkan kunci mobilnya ke arah pelayan, “Tolong parkirin!” suruhnya, yang langsung segera menarik tangan Melati untuk memasuki resto tersebut.
Melati sudah sangat pasrah, karena Marcel yang menarik lengannya dengan cukup kasar, dan melangkah dengan langkah yang cepat. Namun, ia merasa harus mengatakannya, agar tidak terjadi kesalahan lagi di antara mereka.
“Anu, Pak Marcel ...,” panggil Melati, Marcel melirik sinis ke arah Melati yang berjalan mengikutinya di belakangnya.
“Apa?!” tanya sinis Marcel, membuat Melati menelan salivanya saking takutnya dengan ekspresi Marcel.
“Jangan cepet-cepet jalannya, takut nanti saya jatuh, terus yang ada kita berdua malu,” ucap Melati mencoba untuk mengingatkan Marcel.
Mendengar ucapan Melati yang ia pikir ada benarnya, Marcel pun mengubah sikapnya dan kembali berjalan dengan langkah yang lebih santai dari sebelumnya. Ia tidak ingin Melati jatuh, karena ia tidak ingin menjadi pusat perhatian di satu restoran ini.
Mereka memasuki pintu resto, dengan pelayan yang sudah menunggu di depan pintu untuk membukakan mereka pintu.
“Melati,” jawab Marcel spontan, sontak membuat Melati mendelik kaget mendengarnya.
“Lho, kok atas nama saya, Pak? Katanya Pak Marcel yang mau bayarin, kenapa jadi atas nama saya? Saya yang bayar maksudnya?” tanya Melati, yang sudah lebih dulu ketakutan karena mendengar Marcel yang sudah memesan meja atas namanya.
Marcel memandangnya dengan datar, sehingga membuat Melati sedikit takut dengan ekspresinya saat ini.
“Ya, lo yang bayar!” ujar Marcel, membuat Melati mendelik kaget mendengarnya.
Pikiran Melati mulai melayang, karena ia merasa bingung dengan keadaan yang ada. Melati merogoh dompetnya yang sudah lusuh, dan memeriksa keadaan keuangan yang ada di dalam dompet tersebut.
Melihat Melati yang sedang memeriksa dompetnya itu, Marcel merasa sangat malu karena sang pelayan yang sedang menertawakan Melati, walaupun hanya tertawa dengan pelan saja. Habis sudah kesabaran Marcel, karena ia benar-benar tidak menyangka, kalau ternyata Melati begitu polosnya tanpa dibuat-buat, sehingga sukses membuatnya naik pitam.
‘Bener-bener harus bicara yang benar kalau di depan dia!’ batin Marcel, yang menyalahkan dirinya sendiri, yang memang sering berbicara asal di hadapan Melati.
__ADS_1
Ironisnya, Melati selalu percaya dengan setiap yang Marcel katakan padanya.
Marcel memandang ke arah sang pelayan, “Tolong bawa kami ke meja yang sudah dipesan!” pintanya pada pelayan, membuat pelayan itu mengangguk kecil mendengarnya.
“Baik, Tuan.”
Marcel menarik lengan Melati lagi, karena sudah merasa malu dengan Melati yang masih menghitung uang receh yang ia miliki.
“Eh!” gumam Melati, yang terkejut ketika Marcel menarik lengannya kembali.
Mereka menuju ke arah meja yang sudah mereka pesan. Marcel melepaskan tangannya pada lengan Melati, ketika mereka sudah sampai di meja yang sudah Marcel pesan sebelumnya.
“Silakan,” ucap sang pelayan.
Marcel menarik sebuah kursi yang ada di hadapan Melati, membuat Melati kebingungan dengan yang Marcel lakukan.
“Duduk!” suruh Marcel dengan ketus, Melati pun duduk di atas kursi yang baru Marcel tarik.
Melati kebingungan, karena jarak ia dengan meja yang masih terlalu jauh.
‘Kalau begini, gimana caranya aku makan?’ batin Melati, yang merasa masih tidak sampai ke dekat meja.
Marcel kembali menghela napasnya dengan dalam, karena ia merasa Melati yang sepertinya benar-benar belum pernah makan di tempat yang mewah seperti ini. Ia jadi lebih sering menghela napasnya, karena melihat kelakuan Melati yang terlihat tidak tahu tata krama.
“Kenapa? Masih jauh ya sama meja?” tanya Marcel, membuat Melati menoleh ke arah belakangnya untuk memandang Marcel.
“Ya, gimana caranya saya makan kalau begini, Pak?” tanya Melati polos, Marcel mendadak malu karena lagi-lagi Melati yang memanggilnya dengan sebutan ‘Bapak’ di hadapan pelayan.
Marcel mendekat ke arah telinga Melati dengan amarah yang ia tahan, “Jangan panggil saya Bapak! Memangnya kamu mau, saya panggil Nenek di depan pelayan?!”
__ADS_1