Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Kekuatan Tersembunyi Melati


__ADS_3

Melati sudah menunggu Marvel di lobi lantai dasar. Ia menunggu dengan sangat sabar, di dekat para satpam yang sedang berjaga di dekatnya.


Tidak ada rasa kesal terhadap mereka lagi, karena Melati sudah memaafkan mereka jauh sebelum mereka meminta maaf kepadanya. Ia juga sudah tidak mempermasalahkan lagi, soal dirinya yang di-bully karena terlambat waktu itu.


Entah karena mereka yang takut dengan ancaman Marcel, atau karena pembelaan Melati kepada mereka yang membuat mereka tidak enak hati pada Melati. Intinya, sekarang Melati dan para satpam itu sudah berdamai. Mereka lebih saling menegur sapa, dan juga tak jarang para satpam itu menawarkan tumpangan untuk Melati, ketika Melati hendak keluar untuk membeli makan siang, atau hendak pulang ke rumahnya.


Melati masih menunggu Marvel di lobi depan. Tiba-tiba saja datang seorang satpam yang pernah menindasnya waktu itu. Wajahnya berseri-seri, karena ia merasa harus bersikap baik di hadapan Melati saat ini.


“Mbak Mel ... nunggu siapa?” tegurnya, Melati melontarkan senyuman ke arahnya.


“Lagi nungguin Tuan Marvel, Pak. Saya mau makan siang sama beliau,” jawab Melati dengan sangat sopan dan ramah.


Mendengar jawaban Melati, sang satpam pun semakin merasa sangat segan dengan Melati.


‘Sudah Tuan Marcel, sekarang Tuan Marvel. Salah banget waktu itu kita udah mempersulit dia buat masuk di hari pertama,’ batin si satpam, membuat dirinya menjadi harus lebih berhati-hati bersikap di hadapan Melati.


Jangan sampai ia membuat kesalahan lagi di hadapan Melati.


“Wah ... saya temenin dulu ya, Mbak. Takutnya Mbak Mel iseng, pengen ngobrol,” tawar satpam tersebut.


Melati menyeringai tak enak di hadapan satpam itu, “Ah ... gak usah--”


“Gak usah! Biar Melati saya yang temenin!” pangkas seseorang yang baru saja datang ke hadapan mereka.


Mereka memandang ke arah orang tersebut, yang ternyata adalah Marcel. Hal itu membuat Melati dan satpam itu mendelik melihat kedatangan Marcel.


“Selamat siang Tuan Marcel!” sapa sang satpam dengan perasaan yang segan dicampur takut, karena ia masih mengingat kesalahan yang sudah ia lakukan pada Marcel.


Salahnya sendiri, kenapa bermain api dengan Marcel.


Marcel memandangnya dengan sinis, kemudian tidak menghiraukan sapaannya dan langsung memandang ke arah Melati.

__ADS_1


“Lo mau makan siang sama Bang Marvel? Kenapa kalau sama gue lo tolak?” tanya Marcel dengan datar, membuat Melati mendelik tak enak karena sang satpam yang sudah mendengar ucapan Marcel.


Melati tidak enak, dan terus melirik ke arah satpam yang juga melempar pandangan ke arahnya.


“Tuan, maaf. Bisa gak kita bicara berdua aja?” tanya Melati, tetapi Marcel sama sekali tidak peduli dengan keberadaan siapa pun yang berada di sekitar mereka.


“Kenapa memangnya?” tanya sinis Marcel, Melati menjadi semakin tidak enak dengan satpam itu jadinya.


Satpam itu pun merasa tidak enak juga dengan mereka, dan berniat untuk segera pergi meninggalkan mereka yang sedang bertengkar dengan konflik pribadi.


“Mmm ... Tuan Marcel maaf, saya--”


“Eh, sudah sampai di sini? Cepat banget. Gak sabar ya, mau makan siang bareng saya?” ujar seseorang yang baru saja datang dari arah sana, memangkas ucapan si satpam itu.


Sang satpam menjadi semakin tidak enak dengan keadaan, karena ia melihat Marvel yang baru saja datang dari arah lift, ke tempat mereka berada.


‘Duh ... mau pamit gak enak sama Tuan Marvel,’ batin si satpam.


“Emm ... Tuan Marvel,” gumam Melati, yang merasa tidak enak sembari melirik ke arah Marcel dan juga sang satpam.


“Kenapa? Dia mau makan siang dengan saya, kok!” sanggah Marcel, membuat suasana menjadi canggung.


“Mana ada? Saya sudah janjian sama Melati sebelumnya,” bantah Marvel, membuat Marcel semakin kesal mendengarnya.


“Sebelum CEO Marvel, saya sudah lebih dulu mengajak Melati. Kalau gak percaya, coba tanya saja sama Melatinya langsung.”


Mendengar pertikaian mereka, si satpam pun merasa semakin tidak enak. Ia hendak pamit dari sana, tetapi ia tidak memiliki kesempatan untuk berbicara, dan selalu kena potong oleh Marvel dan Marcel.


“Tuan Marvel--”


“Saya gak percaya, dan saya gak akan bertanya pertanyaan yang tidak penting,” pangkas Marvel, yang lagi-lagi membuat si satpam tidak bisa berkata apa pun.

__ADS_1


“Lho, gak aci itu Pak CEO!” bentak Marcel yang merasa sangat kesal dengan ucapan Marvel yang sangat otoriter.


“Tuan Marvel--”


“Lho kenapa? Saya sudah lebih dulu disetujui oleh Melati. Saya juga minta dia untuk menunggu di sini,” ucap Marvel yang benar-benar tidak ingin Marcel menggagalkan rencananya.


“Gak bisa gitu dong, Tuan Marvel. Sebelum ke ruangan anda, Melati lebih dulu ke ruangan saya. Saya lebih dulu mengajak Melati makan siang hari ini!” bantah Marcel lagi, membuat Melati merasa bingung karena setiap mereka berbicara, Melati selalu mengikuti arah pandangan ke arah mereka yang sedang berbicara.


“Ya sudah, kalau begitu ... besok diubah saja. Melati ke ruangan saya lebih dulu, baru ke ruangan Tuan Marcel,” ucap Marvel dengan sangat otoriter.


Melati menjadi sangat kesal, karena pandangannya yang terus terlempar-lempar ke arah mereka yang sedang berbicara. Ia sampai memegangi kepalanya, saking kesalnya ia.


“Aduh ... kalian kenapa jadi ribut begini, sih?!” teriak Melati dengan kesal, saking kesalnya karena ia sudah bosan menoleh ke segala arah dengan cepat.


“Pak Marvel--”


“Ini apa lagi, sih?!” bentak Melati, yang merasa semakin kesal karena sang satpam yang sudah memanggil Marvel beberapa kali, yang membuat Melati semakin gondok mendengarnya.


Mendengar bentakan Melati, mereka mendadak takut dengan Melati yang sedang murka itu.


“Kenapa sih pada ribut-ribut! Jangan pada ribut!!” bentak Melati, membuat mereka terdiam mendengar bentakan Melati pada mereka.


Marvel dan Marcel menjadi takut, mendengar bentakan Melati. Mereka yang memiliki kekuasaan dan harta, takut hanya dengan seorang wanita yang ada di hadapan mereka.


“Udah ah! Saya makan siang sendirian aja!” bentak Melati, yang sudah terlanjur kesal dengan mereka. Melati pun pergi meninggalkan mereka di sana, dengan terus menggerutu di setiap langkahnya.


Sang satpam sampai menggelengkan kepalanya, saking herannya dengan kharisma yang Melati miliki, yang bisa membuat dua lelaki yang memiliki kedudukan tersebut, menjadi diam di hadapannya yang tengah marah-marah seperti itu.


‘Mbak Mel hebat, bisa bikin dua orang petinggi sampe ketakutan kayak gitu! Kita harus hati-hati bicara sama Mbak Mel. Jangan sampai kita bikin kesalahan lagi di hadapan dia!’ batin si satpam, yang merasa sudah sangat takut dengan Melati.


***

__ADS_1


__ADS_2