Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
CV Melati


__ADS_3

Marvel tersenyum, "Oh, tidak ada perlu apa-apa. Saya hanya mau tanya, bagaimana hasil interview hari ini? Siapa saja yang lolos tes?" tanya Marvel, yang sembari ingin bertanya nama dari wanita tersebut.


"Oh, dari 100 pelamar yang dikuotakan, kita saring lagi menjadi 30 orang untuk posisi office boy, office girl, sekertaris, admin gudang dan admin operasional," jawabnya dengan nada bicara yang sangat kaku, karena sangat segan berhadapan dengan CEO baru perusahaan ini.


"Begitu. Wanita tadi masuk kuota posisi yang mana? Pendidikannya apa? Namanya siapa?" tanya Marvel bertubi-tubi, membuat Pak Anton bingung.


Andre menghela napasnya dengan mata yang melotot, mengerti dengan maksud dari Marvel.


'Kutu kupret, sambil menyelam minum air!' batin Andre, yang merasa temannya sangatlah pandai memanfaatkan keadaan.


"Pak Marvel butuh CV wanita tadi? Biar saya kirimkan ke ruangan Bapak nanti," ujarnya, Marvel menjadi sangat malu karena sudah bertanya banyak seperti itu.


'Aduh, kenapa gak kepikiran, ya?' batin Marvel yang sudah terlanjur malu dengan Pak Anton.


"Baik, tolong segera kirimkan salinan CV dia ke ruangan saya, ya," pinta Marvel, membuat Pak Anton mengangguk kecil mendengarnya.


"Baik, Pak. Segera."


"Tahu 'kan, ruangan saya?" tanya Marvel, Pak Anton nampak sedikit tersenyum.


"Tahu, Pak," jawabnya dengan ragu.


"Oke, terima kasih. Saya permisi dulu," pamit Marvel yang lalu segera meninggalkan Pak Anton dan juga Andre di sana.


Andre dan Pak Anton saling melempar pandangan. Karena merasa situasi yang sangat canggung, Andre pun berdeham untuk mencairkan suasana.


"Oke, saya juga pamit. Permisi," pamit Andre, Pak Anton pun mengangguk kecil mendengarnya.


Andre berjalan cepat, untuk berusaha menyusul Marvel, yang sudah lebih dulu sampai di depan lift.


Sementara itu di sana, Melati baru saja keluar dari gedung kantor tempat ia melakukan interview pagi ini. Ia melangkah dengan perasaan yang bimbang, karena merasa ada yang mengganjal di hatinya.


Langkahnya terhenti, ketika ia merasa memang harus memikirkannya dengan benar, mengenai apa yang mengganjal di hatinya.

__ADS_1


"Tadi ... Bapak itu kayaknya pernah aku lihat, deh. Di mana, ya? Masa sih, kita pernah ketemu?" gumam Melati, yang sepertinya mengenali Marvel.


Bagaimana tidak? Pagi ini mereka bertemu di persimpangan jalan. Namun, Melati sepertinya tidak sadar dengan hal itu.


Semakin dipikirkan, semakin pikirannya tak keruan. Ia menghela napasnya dengan kasar, sembari menggelengkan kecil kepalanya, berusaha untuk membuyarkan lamunannya sendiri.


"Ah, udahlah! Jangan dipikirin. Gak penting juga," gumam Melati lagi, berusaha untuk tidak memikirkan tentang sosok Marvel yang masih mengganjal di hatinya.


Melati kembali melangkah, untuk memberhentikan angkutan umum, yang akan ia tumpangi.


***


Siang ini Marvel masih berada di ruangannya. Sebagai seorang CEO baru perusahaan ini, Marvel memiliki banyak sekali tugas yang harus ia kerjakan.


Mulai dari menghafalkan para staff beserta bagiannya, menghafalkan setiap ruangan dan instansi, mengadakan pertemuan bersama para staff dan semua kepala bagian, menandatangani berkas peralihan kekuasaan dan lain sebagainya.


Beberapa pekerjaan sudah selesai ia kerjakan. Kini, ia sedang mengurus berkas peralihan, yang akan dipakai untuk memberikan kuasa atasnya tentang pekerjaan yang ia pegang saat ini.


Setiap lembar yang bertuliskan namanya, harus ia tanda tangani supaya bisa melegalkan semua berkas yang berkaitan.


Pekerjaannya terhenti, ketika ia salah mengambil berkas yang seharusnya ia ambil. Ia malah mengambil CV Melati, yang ternyata sudah ada di atas mejanya.


Kesibukannya menemui para staff dan semua kepala bagian, membuatnya melupakan permintaannya kepada Pak Anton pagi ini, untuk mengirimkan salinan CV Melati padanya.


Marvel menepuk pelan keningnya, "Sampai lupa soal CV wanita itu," gumamnya yang segera menghentikan pekerjaannya.


Sebuah map berwarna kuning, yang bertuliskan, "CV Melati," saat ini ada di hadapannya. Dengan sangat penasaran, Marvel pun membuka isi dari map tersebut, dan membaca isi dari CV tersebut.


"Namanya Melati harum sedap mewangi," gumam Marvel, yang seketika tertawa kecil karena ucapan asalnya itu.


"Gak, cuma Melati aja kok namanya," gumamnya lagi, yang berusaha untuk menghibur dirinya sendiri, di tengah kesibukannya itu.


Marvel kembali melanjutkan untuk membaca CV tersebut.

__ADS_1


"Namanya Melati, usia 28 tahun. Wow, beda 2 tahun dong sama saya. Untungnya saya jauh lebih tua di atas dia. Jadi bisa agak serasi sedikit lah ya," gumamnya yang melantur, membuatnya seketika tersadar dari ucapannya yang melantur itu.


"Apa sih? Serasi apanya? Terasi kali!" bentaknya pada dirinya dan pemikirannya sendiri.


"Lulusan Universitas Bina Bangsa, dengan IPK 3,90. Wow! Bagus dia gak dapat 4,00. Karena memang, kesempurnaan hanya milik Tuhan," celetuknya lagi, yang sepertinya mulai tertarik dengan sosok Melati.


"Statusnya ...." Mata Marvel pun mendelik kaget, "bercerai?"


Marvel kehilangan sejenak kata-katanya, karena mengetahui Melati yang ternyata sudah menyandang status sebagai janda.


"Dia ... janda?" gumam Marvel tak percaya, dengan apa yang ada pada keadaan Melati.


Marvel berpikir sejenak, dan menafikan pikiran negatifnya tentang orang yang menyandang status janda.


"Lah, apa salahnya kalau janda? Toh udah bukan istri orang juga. Janda gak dosa juga kok, kalau pisahnya dengan alasan yang benar," ujarnya, berusaha menguatkan hatinya dan tidak berpikir buruk tentang seorang janda.


Wajahnya tiba-tiba saja berubah menjadi merona. Ia menutupi sebagian wajahnya, menggunakan telapak tangannya.


Marvel berdeham kecil, "Lagipula, kalau janda bukannya lebih berpengalaman, ya?" gumam Marvel bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.


Per sekian detik kemudian, Marvel pun tersadar dari pikirannya yang aneh mengenai Melati. Ia merasa sangat bodoh, karena sudah memikirkan hal yang tidak harus dipikirkan.


Dengan keras ia menepuk keningnya, "Gak jelas banget pikiran ini. Baru juga ketemu dua kali, kenapa udah mikir yang gak jelas?" gumamnya dengan wajah yang sudah sangat merah, karena malu memikirkan hal yang tidak baik tentang Melati.


Marvel menghela napasnya dengan panjang, "Pikiran saya sekarang jadi kacau gini, apa karena desakan keluarga untuk segera menikah, ya?" gumamnya bertanya-tanya dengan dirinya sendiri, karena tidak ada orang yang bisa ia ajak bicara untuk mencurahkan perasaan sedihnya saat ini.


Marvel memikirkan sejenak pertanyaannya sendiri, "Ya ... gak heran juga sih mereka nyuruh saya cepat menikah. Usia saya juga sudah kepala 3 tahun ini. Mereka juga sudah gak muda lagi. Mungkin, mereka ingin secepatnya mendapatkan penerus untuk bisnis mereka ini," gumamnya yang mulai terbuka dengan pikirannya sendiri.


Ada sisi sedih di pikiran Marvel. Ia menghela napasnya dengan kasar, sembari mengusap wajahnya. Tak disangka, pikiran asalnya tadi malah membuat hatinya menjadi sedih sendiri.


"Lagi-lagi karena bisnis, ya?" gumam Marvel, yang sepertinya sudah terlalu lelah berada di bawah tekanan keluarganya, yang hanya mementingkan tentang bisnis saja.


***

__ADS_1


__ADS_2