Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Pesona Marcel


__ADS_3

Melati menghentikan langkahnya tepat di hadapan mereka, "Saya hari ini baru masuk kerja, Pak. Kemarin saya selesai interview, dan lolos," jawab Melati, membuat para satpam merasa sedikit kesal.


"Baru hari pertama aja udah telat! Gimana, sih?" gerutu mereka, membuat Melati harus menunduk sembari mengangguk di hadapan mereka.


"Iya, maaf ya, Pak." Melati sangat tidak enak dengan para satpam yang memperhatikannya.


Di sisi basement, terlihat Marcel yang baru saja memarkirkan kendaraannya. Seperti katanya semalam pada Marvel, hari ini ia berjanji akan mulai bekerja untuk membayar party bersama teman-temannya, menggunakan uangnya sendiri. Pagi ini ia menepati janjinya, untuk datang bekerja di perusahaan ini sebagai ketua tim di timnya.


Marcel melepas kacamata hitamnya yang ia kenakan, dengan sangat elegan. Hampir semua mata terpana kepadanya.


Dua orang wanita berjalan di hadapannya, merasa hampir kehilangan kendali saking terpesonanya ia dengan penampilan Marcel pagi ini.


"Wah ...."


Salah satunya tersadar, dan menepuk bahu temannya yang masih terpesona itu.


"Eh, kita telat ini!" ujarnya mengingatkan kepada temannya itu.


Teman lainnya pun tersadar, kemudian segera berlarian menuju ke arah lobi untuk masuk ke dalam departemen kerjanya saat ini.


Marcel menjadi sangat heran, dengan kelakuan orang-orang yang menatapnya tersebut. Ia membenarkan rambutnya yang sudah tersusun rapi, sembari memandang ke arah mereka yang saat ini sedang berlarian ke arah lobi.


“Mereka itu kenapa, ya? Gue tau kok, kalau gue ganteng. Tapi kok kenapa mereka responnya seakan kayak lihat hantu gitu? Minimal, sapa gitu, atau gimana kek?” gumamnya yang merasa sangat tersinggung dengan apa yang mereka lakukan itu.


Marcel menghela napasnya dengan panjang, “Ngomong-ngomong, jalan ke lobi sebelah mana? Pertama kalinya masuk kantor, kenapa gak ada tour guide, sih?” gumamnya yang merasa sangat kesal dengan keadaan.

__ADS_1


Ia memandang ke arah para wanita itu, “Mungkin ke sana, ya? Mereka lari-lari ke sana, siapa tau itu tempat masuknya!” gumamnya, yang kemudian segera berjalan menuju ke arah wanita yang berlarian itu.


Marcel berjalan dengan wibawanya yang terlihat sangat jelas, dari aura yang terpancar keluar tubuhnya. Hampir semua orang yang ada memandang ke arahnya, merasa heran dengan aura yang Marcel miliki.


Memang, walaupun tidak setampan Marvel, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa Marcel juga termasuk golongan orang yang tampan. Bagaimana tidak, mereka ‘kan ... satu pabrik produksi.


Setelah hampir sampai di lobi, Marcel melihat ada seorang wanita yang sepertinya sedang dihardik dengan beberapa satpam. Dua orang wanita tadi melewati mereka dengan cepat, membuat Marcel merasa penasaran dengan yang para satpam itu lakukan pada wanita yang tak lain adalah Melati.


Marcel memandangnya dengan bingung, “Lho, kenapa dia? Kok gak masuk kayak dua orang wanita itu?” gumamnya, yang bertanya-tanya dengan dirinya sendiri tentang keadaan yang ada.


Dengan tatapan yang sangat dalam, Marcel memandang dan memperhatikan raut wajah Melati yang terlihat sangat imut baginya, ketika sedang merasa ketakutan seperti itu.


‘Dia imut juga, kalau lagi ketakutan khawatir begitu. Apa gue manfaatin aja keadaan ini kali, ya?’ batin Marcel, yang merasa sedikit tertarik dengan Melati yang hari ini berdandan sangat sempurna, demi pekerjaannya yang baru itu.


“Pak, kenapa mereka diizinin masuk? Kenapa cuma saya aja yang gak boleh masuk ke dalam?” protes Melati, yang tidak bisa jika harus dipilihkasihkan.


Para satpam memandangnya dengan remeh, “Mereka udah 10 tahun kerja di sini. Kamu apa? Baru aja hari ini kerja, udah telat begini! Biar aja, biar bos nyariin kamu, dan kamu gak jadi dipekerjakan di sini!” bentak salah satu dari mereka, membuat Melati menjadi sangat geram mendengarnya.


Melati menjadi sangat kesal, karena para satpam ini benar-benar pilihkasih dengan para pegawai baru. Ia memandangnya dengan sinis, tetapi tidak bisa melakukan apa pun.


‘Sial ini para satpam! Kenapa malah begini keadaannya?’ batinnya yang merasa sangat kesal dengan keadaan.


“Heh, siapa suruh kalian berbuat begitu sama staf baru?” tegur Marcel, yang tiba-tiba saja datang dari arah basement tadi.


Para satpam bingung, dengan kehadiran Marcel yang tidak ia ketahui itu. Mereka juga sama sekali tidak mengenal siapa Marcel, sehingga membuat mereka berani memandangnya dengan sinis.

__ADS_1


“Kamu siapa? Kenapa pertanyaannya sinis begitu ke kami?” tanya satpam yang tidak senang dengan sikap Marcel terhadapnya.


Mereka sangat anti dengan orang baru, yang mereka tidak ketahui jabatannya itu. Berbeda dengan Marvel, walaupun ia CEO baru di sini, setidaknya ia adalah pemimpin di kantor ini. Mereka sangat menghormati Marvel, tetapi tidak dengan Melati dan juga Marcel yang tidak mereka ketahui apa jabatannya.


Mendengar pertanyaan sinis satpam tersebut, Marcel menurunkan kacamata hitamnya dan memandang sinis ke arah mereka.


“Lo nanya gitu ke gue? Terus, gue wajib jawab pertanyaan lo gitu?” tanya balik Marcel, yang lebih sinis daripada sebelumnya, membuat mereka menjadi sangat kesal mendengarnya.


“Jangan berbuat keributan ya di kantor ini! Kamu gak tahu, pemilik kantor ini adalah--”


“Tuan Davies?” pangkas Marcel, yang sangat mengenal sosok ayahnya itu.


Mereka terkejut, mendengar Marcel yang mengetahui siapa pemilik dari perusahaan yang menaungi mereka itu.


Marcel memandang sinis ke arah mereka, “Pemilik kantor ini adalah Tuan Davies, dengan CEO Tuan Marvel. Kenalin, gue adalah Marcel, putra kedua dari Tuan Davies. Mulai hari ini, gue adalah manajer di perusahaan ini!” bentaknya, yang merasa sudah muak dengan mereka yang menghardik orang yang lemah.


Melati mendelik kaget, ketika mendengar Marcel yang mengutarakan jati dirinya di hadapan umum. Ia baru tahu, orang yang ada di hadapannya ini, ternyata adalah putra pemilik kantor ini.


‘Wah gila! Kenapa bisa kebetulan gini ketemu sama anak pemilik kantor? Ada backing-an, kah?’ batin Melati, yang merasa tidak percaya dengan apa yang ia alami saat ini.


Para satpam mengubah sikapnya menjadi sangat ketakutan di hadapan Marcel, membuat mereka terlihat seperti seekor kelinci yang sedang berhadapan dengan seekor srigala.


“Siapa suruh kalian menghardik yang lemah? Kenapa kalian pilihkasih, dan malah gak ngizinin dia masuk ke dalam? Padahal, mungkin kalau kalian ngasih masuk tadi, dia gak akan seterlambat sekarang!” bentak Marcel, yang berusaha sebisa mungkin untuk membela Melati di hadapan para satpam yang menghardiknya tadi.


“Maafkan kami, Pak Marcel! Kami gak akan mengulanginya lagi,” gumam mereka, yang terlihat sangat ketakutan di hadapan Marcel.

__ADS_1


__ADS_2