
Marcel memandang Melati dengan sinis, “Gak! Pokoknya malam nanti lo harus traktir gue makan malam!” bantahnya, yang tetap kukuh meminta Melati untuk mentraktirnya makan malam ini.
Melati benar-benar tidak memiliki uang, sehingga ia merasa tidak bisa mentraktir Marcel kali ini.
“Yah ... jangan gitu dong, Pak! Saya ... gak punya uang buat traktir Pak Marcel makan malam. Dari sini aja saya belum dapat uang, saya juga gak bisa minta sama Ibu dan Bapak, takutnya mereka gak punya uang lebih selain untuk biaya kehidupan sehari-hari,” gumam Melati, yang merasa sangat sedih dengan keadaannya.
Marcel mendadak iba mendengar penjelasan Melati. Ia merasa tidak harus melakukan hal ini pada Melati, yang ia tidak ketahui kondisi keuangannya dengan jelas. Ia menghela napasnya, berusaha untuk tidak melanjutkan niatnya untuk memeras Melati.
‘Apa sih, Cel? Kayak gak punya uang aja, lo!’ bentaknya pada dirinya sendiri, dalam hati.
“Ya udah, gak jadi. Lo cukup temenin gue aja nanti malem,” ucap Marcel, dengan segala kebijakan yang ia miliki.
Melati tersenyum sumringah mendengarnya, “Beneran, Pak?!” pekiknya yang merasa sangat senang mendengarnya.
“Ya! Lo temenin gue aja nanti malem. Jangan lupa dandan!”
Melati masih memiliki pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Ia memandang bingung ke arah Marcel, yang saat ini sedang memandangnya dengan sinis.
“Kenapa lo ngeliatin gue begitu?” tanya sinis Marcel, Melati agak sungkan menanyakannya pada Marcel.
“Pak, maaf sebelumnya. Emangnya Pak Marcel punya bisnis jualan asongan, ya? Emangnya, kalau bantuin Pak Marcel jualan asongan, harus dandan gitu?” tanya Melati dengan sangat polos, membuat Marcel baru paham dengan apa yang dimaksud pembayaran jualan asongan, yang tadi Melati katakan.
Marcel menepuk keningnya cukup kencang, membuat Melati semakin bingung melihatnya.
“Kenapa, Pak?” tanya Melati masih dengan nada yang polos.
Marcel memandangnya dengan gemas, “Lo masih tanya kenapa? Ya ampun ... Mel! Lo beneran nganggep celetukan gue itu omongan yang beneran? Gue gak beneran mau ngajak lo jualan asongan di pinggir jalan, Mel! Gue itu mau ngajak lo makan malem, jalan-jalan, belanja! Bukan mau ngajak lo jualan asongan di pinggir jalan!” ujarnya menjelaskan dengan gemas, membuat Melati mendelik kaget mendengarnya.
“Ah?!” pekik Melati, yang ternyata baru sadar dengan maksud Marcel.
__ADS_1
Saking malunya, ia pun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, dan tidak bisa berkata apa pun lagi. Ia sudah cukup malu, karena sudah mengatakan hal yang tidak harus ia katakan, tentang pembayaran hasil jualan asongan.
‘Gila! Kenapa malah minta duit ke dia? Jualan asongan apanya? Kenapa aku jadi malu sendiri sih?!’ batin Melati yang merasa sangat malu di hadapan Marcel.
Marcel menghela napasnya sembari menepuk keningnya, “Udahlah, jangan dibahas lagi masalah jualan asongan!” bentaknya, yang merasa lelah memikirkan hal yang sedari tadi memang tidak nyambung dengan yang mereka pikirkan.
Suasana menjadi sangat canggung, ketika Marcel selesai mengatakan hal itu. Mereka sama-sama tidak mengatakan apa pun, menambah kecanggungan di antara mereka.
Melati tersadar dengan keadaan, “Kok Pak Marcel ada di depan toilet cewek, sih?” tanyanya dengan mata melotot, membuat Marcel juga melotot mendengarnya.
Ia melupakan keadaan yang ada, membuat dirinya merasa terpojokkan dengan keadaan. Marcel gugup, karena mendengar pertanyaan yang menyudutkannya.
“Emm ... gue ... tadi ... gak sengaja lewat,” jawab Marcel dengan gugup, membuat Melati merasa sangat kesal memandangnya.
Melati memandang sinis ke arah Marcel, “Pak, saya aduin ke Pak Marvel, lho!” ancamnya, membuat Marcel mendelik ketakutan mendengarnya.
“Apa, sih? Jangan ngancem-ngancem deh, lo! Jangan ngadu-ngadu gitu ke Bang Marvel!” bentak Marcel, Melati jadi diam karena mendengar bentakannya itu.
“Udah, pokoknya lo kasih lokasi alamat rumah lo. Nanti malam gue ke sana!” ucapnya, Melati hanya diam mendengarnya.
Melati teringat dengan perintah Marvel, yang memintanya untuk datang ke ruangannya setelah selesai acara.
“Oh, ya! Kita disuruh ke ruangan Pak Marvel sekarang!” ucapnya, membuat Marcel teringat dengan ucapan Marvel saat acara di aula tadi.
‘Bener juga,’ batin Marcel, yang baru saja teringat dengan hal itu.
Marcel memandang ke arah Melati, “Ya udah, ayo ke sana!” ajaknya, Melati mengangguk mendengarnya.
Mereka pun menuju ke arah ruangan Marvel, untuk memenuhi panggilan Marvel karena kesalahan mereka. Karena ruangan Marvel yang tak jauh dari ruangan aula tadi, mereka pun tak memerlukan banyak waktu untuk bisa sampai di ruangan Marvel.
__ADS_1
Kini, mereka sudah sampai di ruangan Marvel. Melati sangat ragu untuk mengetuk pintu ruangan itu, tetapi Marcel tidak seperti itu. Melihat Melati yang sepertinya agak takut, ia pun segera mengambil alih keadaan, dan langsung mengetuk pintu ruangan Marvel.
“Masuk!” ucap seseorang yang ada di dalam ruangan, membuat Marcel membuka pintu ruangan tersebut.
Melihat kedatangan Marcel dan juga Melati, Andre yang masih berada di ruangan Marvel, merasa segan untuk berlama-lama di ruangan ini.
“Silakan masuk,” ucap Marvel, yang memandang ke arah mereka yang baru saja muncul di depan pintu ruangannya.
Andre merasa tidak enak dengan kedatangan mereka. Ia pun bangkit, ingin segera pergi dari sana.
“Saya permisi dulu, Pak Marvel,” pamit Andre, Marvel pun mengangguk mengiyakan ucapannya.
Karena sudah mendengar izin dari Marvel, Andre pun pergi dari sana untuk memberikan waktu berbicara Marvel dengan kedua tamunya itu.
Kini, hanya tinggal mereka bertiga di dalam ruangan itu.
Marvel mengarahkan tangannya ke arah kursi yang ada di hadapannya, “Silakan duduk,” ucapnya.
“Baik, Pak!” ucap Melati, yang sangat hormat dengan Marvel.
Mereka pun duduk di hadapan Marvel. Kini, situasi terasa sangat canggung, dengan Melati yang sangat takut saat ini. Ia menyadari bahwa kesalahannya sangatlah banyak, di hari pertama ia masuk ini.
Marvel memandang dalam ke arah mereka, “Kalian tahu, kenapa saya panggil ke ruangan saya?” tanyanya, yang mencoba untuk membuka topic pembicaraan antara mereka.
Melati menunduk takut, “Tahu, Pak. Saya salah, karena sudah datang terlambat, membuat keributan, dan tidak memakai atribut dengan lengkap!” jawabnya, yang merasa harus mengatakan jujur, tentang apa yang ia lakukan.
Marcel hanya memandang datar ke arah Marvel, sembari melipat kedua tangannya. Ia merasa sama sekali tidak bersalah, membuat Marvel lebih menekankan pandangan sinis ke arahnya.
“Bagus, kamu mengatakan kesalahan dengan jujur.” Marvel sedikit tersenyum, “apa kamu akan mengulanginya lagi?” tanyanya, Melati segera memandangnya dengan sangat takut.
__ADS_1
“Tidak, Pak! Sebisa mungkin saya tidak akan melakukannya lagi!” jawab Melati dengan tegas, berusaha untuk mengatakan hal yang bisa mendapatkan kepercayaan Marvel kembali.