
Marvel tersenyum mendengarnya, “Baiklah, kamu boleh pergi.”
Melati bangkit dan tersenyum sembari mengangguk kecil di hadapan Marvel, “Terima kasih, Pak!” ucapnya, yang kemudian pergi dari sana.
Melihat Melati yang pergi saat itu juga, Marcel pun bangkit dan mengikutinya. Marvel memandangnya dengan datar, karena ia masih memiliki urusan dengan Marcel.
“Kamu ... siapa bilang kamu boleh pergi dari sini?” tanya Marvel dengan sombongnya, Marcel menghentikan langkahnya, kemudia membalikkan tubuhnya kembali ke arah Marvel.
Pandangannya menajam ke arah Marvel, “Ada apa sih, Bang?” tanyanya sinis, membuat Marvel memandangnya dengan pandangan yang lebih tajam lagi.
“Sudah saya bilang, ‘kan? Kalau di kantor, jangan pernah panggil saya Abang?!” ujarnya dengan tegas, Marcel hanya bisa memandangnya dengan sinis.
‘Cih ... bener-bener nih orang! Emangnya malu ngaku sodaraan sama gue?’ batin Marcel, yang merasa kesal dengan Kakaknya sendiri.
Pandangan mereka saling menajam, membuat suasana menjadi sangat tegang.
Marvel mengarahkan tangannya ke arah kursi yang berada di hadapannya, “Silakan duduk kembali!” ucapnya, membuat Marcel tidak bisa melakukan apa pun mendengar perintah darinya.
Marcel pun kembali duduk di hadapan Marvel, dan kini mereka saling memandang dengan sinis, satu sama lain. Tangan Marvel menyangga tangan lainnya, sembari tetap memandang ke arah Marcel.
“Kamu tahu salahmu apa?” tanya Marvel, Marcel memandangnya dengan sinis tetapi sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Marvel.
Suasana mereka kini hanya ada rasa canggung, yang membuat mereka sama-sama tidak bisa melakukan apa pun.
Marvel semakin menajamkan tatapan matanya, “Saya tanya, kamu tahu salahmu apa?!” tanyanya lagi, mengulang pertanyaan sebelumnya.
“Saya datang terlambat!” jawab Marcel tegas, yang sudah malas berbasa-basi dengan Marvel.
Marvel memandangnya dengan sinis, “Itu kalau untuk masalah kantor. Kita lupakan sejenak masalah kantor, dan bahas masalah pribadi!” ucapnya, membuat Marcel memandangnya dengan datar.
__ADS_1
‘Tadi dia yang gak mau bahas masalah pribadi. Sekarang kenapa dia yang minta lupain sejenak masalah kantor?’ batin Marcel, yang merasa telah dipermainkan.
CEO mah bebas!
“Lupain sejenak masalah kantor, ‘kan? Ya udah, jangan pake bahasa yang kaku!” bentak Marcel, yang membuat Marvel menjadi malu sendiri karenanya.
Marvel berdeham, “Langsung aja, yah. Sebenernya gue gak suka banyak basa-basi,” ucapnya membuat Marcel merasa kesal mendengarnya.
“Lo pikir gue demen basa-basi?” tanya sinis Marcel.
Suasana mulai memanas, karena Marcel yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Kalau hanya membantah ucapan Marvel, Marcel memang sering melakukannya. Ia juga tidak sungkan, karena memang ia sering melakukan hal itu kepada Marvel.
Tak senang dengan sikap Marcel, Marvel pun memandangnya dengan tatapan yang semakin sinis. Ia merasa sangat kesal, karena adiknya bersikap yang tidak baik terhadapnya.
“Bicaranya bisa santai sedikit, gak?” tanya Marvel dengan nada yang datar, tetapi tajam.
Marcel mendelikkan matanya, “Gak bisa!” bentaknya, memacu Marvel untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang Marcel lakukan.
“Nada bebas? Dikira lagu yang ada cengkoknya bisa di improvisasi?” ujar Marcel dengan menyeleneh, tetapi Marvel tidak memedulikan ucapannya yang seperti itu.
Marvel mendekatkan dirinya ke arah Marcel, “Jauhin Melati!” ucapnya dengan singkat, padat dan jelas.
Mendengar ucapan Marvel yang otoriter melebihi dirinya, ia merasa sangat terusik. Sikap Marcel yang otoriter, ternyata kalah dengan sikap Marvel yang lebih otoriter dibandingkan dirinya. Ucapan Marvel itu pun membuat Marcel bertanya-tanya, dengan apa maksud dari ucapannya mengenai Melati itu.
“Maksud lo apa, Bang?!” pekik Marcel, yang tak mengerti dengan apa yang Marvel katakan.
Pandangan Marvel semakin menajam, “Kurang jelas gue ngomong apa tadi? Jauhin Melati!” ucapnya dengan ekspresi wajah yang menyeramkan, sontak membuat Marcel mendelik ketakutan melihat ekspresinya dan mendengar perkataannya itu.
Marvel tersenyum penuh dendam di hadapan Marcel, sambil menjauh kembali dari wajah Marcel yang masih ketakutan itu. Kini, sikapnya sudah kembali normal, seperti dirinya yang biasanya.
__ADS_1
“Kalau sudah tidak ada keperluan apa pun lagi, silakan ... pintunya di sebelah sana,” ucap Marvel dengan gaya bicara yang sangat sopan, membuat Marcel semakin ketakutan saja melihat ekspresinya yang berbeda secara cepat.
Seperti punya kepribadian ganda.
Tanpa bertanya apa pun lagi, Marcel pun segera bangkit dan melangkah keluar dari ruangan ini.
Melihat kepergian Marcel, membuatnya langsung menatapnya dengan datar dan tajam. Ia lagi-lagi mengubah ekspresinya dengan sangat cepat, seperti memang memiliki dua kepribadian di dalam satu tubuh.
‘Jangan nyolong start! Saya sudah lebih dulu memperhatikan dia!’ batin Marvel, yang tak terima dengan hal yang Marcel lakukan itu.
Marvel sangat tidak rela jika Marcel mencoba mendekati Melati, karena ia sudah lebih dulu memperhatikan Melati sejak kemarin. Ia tidak terima kalau Marcel dekat-dekat dengan gadis incarannya, apalagi sampai menyentuh fisik seperti yang ia lihat saat di aula tadi.
Sementara itu, Marcel keluar dari ruangan Marvel, untuk menuju ke arah ruangan pribadinya yang sudah dipersiapkan bagian HRD. Ia melangkah dengan kesal, karena ia masih mengingat ucapan sinis dan juga ekspresi Marvel yang selalu berubah dengan cepat.
‘Dia punya dua kepribadian, yah? Kenapa dia bisa cepet banget ganti ekspresi begitu? Dia ‘kan lagi gak sandiwara di film?’ batin Marcel, sembari tetap melangkah menuju ke arah ruangannya.
Dalam langkahnya itu, Marcel juga mengingat kembali ucapan Marvel yang melarangnya untuk mendekati Melati. Hal itu sontak membuatnya geram, karena ia baru teringat kembali apa yang Marvel perintahkan itu padanya.
‘Enak aja nyuruh gue buat jauhin Melati! Gue baru tahap awal pendekatan sama Melati, dan dia udah nyuruh gue jangan deketin Melati? Huh, gak akan bisa! Walaupun dia udah lama ngincer Melati, tapi gue bakalan pepet terus si cewek yang beda dari yang lain itu!’ batin Marcel, semakin membara untuk mendekati Melati yang dinilai beda dari wanita lain pada umumnya.
Semua orang yang melihat ekspresi kekesalan wajah Marcel, memandanginya dengan tatapan tajam. Sambil berbisik dengan orang yang ada di sebelahnya, mereka membicarakan Marcel, yang sama sekali belum mereka kenal.
Menyadari tatapan mereka padanya, hal itu membuat Marcel menjadi sangat sinis melihatnya.
“Apa lo liat-liat, hah?! Mau gue congkel biji mata lo?!” pekik Marcel, yang sempat membuat mereka ketakutan mendengar perkataannya yang sarkas.
“Ih, gila kali ya?” gumam mereka dengan sangat jelas terdengar di telinga Marcel, membuat Marcel ingin sekali menghajar kedua lelaki yang berpikir sinis tentangnya.
“Mau gue hajar, lo?!” pekik Marcel, mereka pun segera meninggalkan Marcel yang sudah terpancing amarah itu.
__ADS_1
Karena Marcel masih kesal dengan sikap Marvel, ia tidak terlalu memperpanjang masalah dengan kedua orang itu.
***