Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Gadis atau Janda?


__ADS_3

“Halo Tuan Marcel, kami ingin menginformasikan tentang wanita yang datang bersama Tuan tadi, ke restoran kami. Dia meninggalkan sebuah gaun seharga lima belas juta, dan sebuah cincin seharga tiga juta rupiah, untuk membayar tagihan reservasi, pada meja yang salah,” ucapnya, membuat Marcel menghela napasnya dengan wajah yang datar.


“Ceritain gimana awalnya!” suruh Marcel, yang sebenarnya tidak ingin peduli dengan hal itu, tetapi rasa penasarannya menghantuinya.


“Jadi gini, Tuan Marcel. Nona itu menyebutkan nomor meja yang salah. Dia menyebutkan angka 9 sedangkan Tuan Marcel memesan meja nomor 10. Alhasil, saya menjelaskan tagihan yang belum dibayarkan pada penghuni meja nomor 9. Setelah diperiksa kembali, ternyata memang benar Nona itu yang salah menyebutkan nomor meja, sehingga saya mengira dia memang belum membayar tagihannya. Dia tidak membiarkan kami memberikan penjelasan, dengan selalu memotong ucapan kami. Saya bingung menjelaskannya seperti apa padanya,” ujarnya menjelaskan, membuat Marcel semakin menghela napasnya dengan panjang saja.


“Oke, saya ke sana sekarang,” ucap Marcel, yang lalu segera mengakhiri sambungan telepon mereka.


Marcel keluar dari dalam mobilnya, membuat Melati kebingungan melihatnya pergi.


“Pak Marcel mau ke mana?” gumamnya, yang bertanya-tanya dengan apa yang akan Marcel lakukan di dalam restoran sana.


Setelah menunggu beberapa saat, Marcel datang dengan membawa gaun yang sudah Melati buat menjadi jaminan. Marcel masuk ke dalam mobil, kemudian menutup kembali pintu mobil tersebut. Ia meletakkan gaun tersebut ke paha Melati, tanpa melihat ke arah Melati.


Karena merasa kebingungan, Melati pun memandang bingung ke arah Marcel, “Lho, ini maksudnya gimana, Pak? Kenapa dibalikin lagi?” tanyanya.


“Udah gue bayar saat pemesanan. Kenapa lo malah bayar lagi? Bayarin meja sebelah, pula! Banyak duit banget,” gerutu Marcel, membuat Melati mendelik mendengarnya.


“Kok bayarin meja sebelah, sih?” tanyanya ling-lung, karena tak paham dengan maksud yang Marcel katakan.


“Ya iya! Lo bilang meja nomor 9, padahal kita meja nomor 10.”


Melati menepuk keningnya, saking tidak tahunya dengan hal tersebut.


“Lho, pantesan aja makan begitu doang sampai 18 juta!” gumamnya yang sangat bingung dengan tagihan yang ditagihkan padanya.


Marcel hanya memandang datar ke arahnya, lalu tak sengaja melihat ke arah kostak makan yang sedang Melati pegang di tangannya.


“Itu kenapa dibawa-bawa kostak makannya?” tanya Marcel penasaran, Melati memandang ke arah kostak makan yang berada di tangannya, kemudian kembali memandang Marcel dengan senyuman seringai miliknya.

__ADS_1


“Tadi sayang banget kalau misalkan makanannya gak dimakan. Jadi, saya bawa aja ikannya untuk kasih makan kucing jalanan,” jawab Melati dengan sangat polos, membuat Marcel menganga mendengarnya.


“Lo mau kasih makan kucing jalanan pakai ikan salmon?!” tanya Marcel yang terkejut, sontak membuat Melati terdiam sejenak mendengar pertanyaan Marcel yang terdengar sangat tidak percaya.


Melati memandangnya dengan bingung, “Lho, kenapa memangnya, Pak? Habisnya saya mau bawa salad, takutnya kucing jalanan gak suka. Yang saya tau, kucing jalanan pasti suka ikan, jadi saya bawa aja ikan yang ada di piring,” ujarnya, membuat Marcel menepuk keningnya dengan cukup keras.


“Ya tapi gak ikan salmon juga, Melati ....” Marcel merengek di hadapan Melati, membuat Melati kebingungan melihat ekspresinya yang seperti itu.


“Saya cuma tau ikan, Pak. Yang penting ikan,” ujar Melati, yang tidak mau kalah dengan Marcel.


Karena Marcel yang tidak ingin ribut masalah ini, ia pun menghela napasnya dengan panjang dan segera bersiap untuk pergi dari sana. Ia menyalakan mesin mobil, dan segera mengemudikan mobilnya.


“Sabuk pengaman mau pake sendiri, atau gue pakein?” tanya sinis Marcel, membuat Melati seketika memegangi dadanya karena merasa malu mendengar ucapan Marcel.


“Pakai sendiri!” ujar Melati dengan tegas, yang lalu segera memakai sabuk pengaman yang tersedia.


***


Mereka sudah sampai di kediaman Melati. Marcel melepaskan sabuk pengamannya, bersamaan dengan Melati yang juga melepaskan sabuk pengamannya juga.


Marcel memandang ke arah Melati dengan sinis, “Jangan turun dulu! Gue bukain pintu buat lo!” bentaknya, yang sama sekali tidak ingin kejadian di resto terulang kembali.


Melati mengangguk kecil, karena ia juga tidak ingin merasa malu lagi karena kepalanya yang terbentur dengan kepala Marcel tadi.


Marcel keluar dari mobil, dan segera membukakan pintu untuk Melati. Di sana, sudah ada Ibu dan Bapak Melati, yang sudah menunggu kedatangan mereka kembali ke rumah.


“Melati pulang tuh, Bu!” bisik Bapak, yang sangat senang melihat Melati yang sudah sampai di rumahnya.


“Iya, dianterin lagi pake mobil!” gumam Ibu, yang merasa sangat senang dengan Marcel yang memiliki apa yang tidak mantan suami Melati miliki sebelumnya.

__ADS_1


Melati dan Marcel kini berada di hadapan mereka, dengan Melati yang sangat malu.


“Mel, akhirnya pulang juga,” ujar Bapak, yang sangat senang ketika melihat Melati dan Marcel kembali ke rumah mereka.


“Maaf kalau seandainya terlalu malam ya, Pak, Bu,” ucap Marcel, yang benar-benar sangat merendah di hadapan mereka, padahal hari sama sekali belum malam. Mereka saja tidak jadi makan malam, sehingga menghemat waktu beberapa jam.


“Ini belum malam, Nak Marcel. Masih jam 8 masih sore kalau kata orang-orang kampung sini,” bantah Ibu, yang membuat Marcel tersenyum mendengarnya.


“Gak baik anak gadis pulang terlalu malam, Bu,” ujar Marcel yang ingin sekali membuat mereka terkesan, tetapi malah membuat mereka mendelik kaget mendengar ucapannya yang seperti itu.


Melati mendelik bingung, dengan apa yang harusnya ia katakan. Ia belum memberitahu pada Marcel, bahwa dirinya yang sudah berstatus janda saat ini.


‘Gimana, nih? Anak gadis dari mana? Aku udah nikah 5 tahun sama Mas Martin, dan sekarang udah jadi janda malah!’ batin Melati, yang merasa sangat canggung mendengar Marcel mengatakan hal itu di depan orang tuanya.


Orang tua Melati pun mendadak bingung, dengan apa yang harus mereka katakan pada Marcel. Mereka takut, Melati belum memberitahu tentang statusnya sebagai janda, sehingga mungkin nanti akan menghancurkan hubungan mereka, jika memang ada kesalahpahaman di sini.


‘Diem aja, deh. Daripada nanti gimana-gimana,’ batin Ibu, yang kali ini lebih memilih untuk diam.


Marcel berpamitan untuk pulang, membuat orang tua Melati seketika langsung menghampiri Melati.


“Mel, itu gimana ceritanya kamu bisa dipanggil anak gadis?” tanya Ibu, yang merasa penasaran dengan jawaban Melati.


Tak hanya Ibu, bahkan Bapak juga ikut berdiri di hadapan Melati, “Iya, gimana maksudnya? Kamu belum kasih tau kalau kamu itu janda?” tanya Bapak, membuat Melati merasa bingung menjawab mereka.


“Duh ... Melati mau istirahat aja deh,” ujar Melati yang merasa pusing mendengar ocehan kedua orang tuanya, kemudian pergi meninggalkan orang tuanya.


Mereka saling pandang, merasa sangat bingung dengan keadaan yang sebenarnya terjadi di antara Melati dan juga Marcel.


***

__ADS_1


__ADS_2