
"kenapa emangnya kalau dia udah balik dari USA?" tanya balik Marvel, yang sudah mengerti dengan Marcel yang sudah lama menyukai Laura.
"Kenapa dia gak ngomong sama gue?" tanya Marcel lagi, membuat Marvel bingung menjawabnya.
"Kenapa dia harus bilang sama lo? Emangnya, lo siapanya dia, hah?" tanya balik Marvel dengan sangat sinis, membuat Marcel menjadi agak kesal mendengarnya.
"Kamu nanyea? Kamu bertanyea-tanyea?" ujar Marcel yang meledek Marvel, saking kesalnya dengan ucapan Marvel yang terlalu menusuk baginya.
Tak ingin menghiraukan ledekan Marcel, Marvel pun melepas sarung tangan tinju yang masih ia kenakan.
"Pokoknya, besok pagi jangan lupa bangun pagi. Minta surat tugas sama Papa, dan datang sesuai kantor cabang yang ada di surat tugas!" suruh Marvel, sembari meletakkan sarung tangan itu kembali ke tempatnya.
Marvel pun kembali menoleh ke arah Marcel, "Satu lagi, jangan pernah panggil gue Abang, kalau kita gak sengaja ketemu di kantor cabang mana pun. Di kantor, gue bukan Abang lo! Paham?!" bentak Marvel mengingatkan, Marcel hanya bisa mengangguk kecil mendengarnya.
Marvel meninggalkannya, untuk segera menuju ke arah kamarnya. Sementara itu, Marcel memandangnya dengan sangat sinis, dan tidak percaya bahwa ia akan menurut dengan apa yang Marvel perintahkan.
'Sial, kenapa gue mau aja nerima perintah dia? Sejak kapan gue takut sama dia? Kalau sama dia doang, gue juga bisa lawan! Dia terlalu ngeremehin gue, ya?' batin Marcel, yang merasa tidak terima diperlakukan seperti itu dengan Marvel.
***
Pagi-pagi sekali, Melati sudah bangun dari tidurnya. Ia pelan-pelan merapikan apa yang perlu ia bawa. Ia juga berdandan, sesuai dengan pekerjaannya sebagai salah satu dari sekretaris yang ada.
Tugasnya adalah membantu pekerjaan CEO tentang sebuah proyek, ketika sekretaris yang lain sedang sibuk mempersiapkan proyek yang lain.
Kini, ia sudah siap untuk berangkat menuju ke arah kantor barunya.
Dengan senyuman yang terukir di wajahnya, Melati punya menghirup udara pagi ini yang sangat sejuk.
"Selamat pagi dunia baru! Hari ini, aku pasti akan menyibukkan diri sendiri, agar aku cepat lupa dengan masalah yang ada!" gumam Melati sembari melihat ke arah pekarangan depan rumahnya.
Ibunya dari arah dalam rumah, berlarian ke arah Melati dengan sangat terburu-buru.
__ADS_1
"Mel, Mel! Ini bekalnya jangan lupa dibawa!" teriak Ibu, membuat Melati menoleh ke arahnya.
"Oh ya, makasih Bu udah diingetin," ujar Melati yang kelupaan memasukkan kostak makannya ke dalam tasnya.
Ibu menyodorkan kostak makan tersebut, sembari berlarian. Sementara itu Melati menerimanya dengan senang hati.
"Dihabisin, jangan lupa."
"Iya, Bu. Melati jalan dulu ya, Bu!" pamit Melati, Ibu mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan.
"Sebentar, Mel. Ini kata Bapak, suruh kasih ke kamu untuk ongkos selama belum gajihan. Bapak nitipin ke Ibu, soalnya tadi malam Bapak giliran ngeronda. Sekarang mungkin masih di pos ronda," ujar Ibu, tanpa basa-basi Melati pun menerimanya dengan senang hati.
"Makasih, Bu. Tolong sampaikan sama Bapak juga ya, Bu. Melati pamit," ujarnya, yang langsung mencium punggung tangan Ibunya.
"Hati-hati ya, Mel!"
"Ya, Bu!"
Melati pun segera menuju ke arah kantornya dengan hati yang riang, tak lupa memakai sandal japitnya.
Jas hitam dengan paduan celana yang senada, serta sepatu kulit yang sangat hitam mengkilap, menunjang penampilannya menjadi sangat keren bagi orang yang melihatnya.
Ia melangkah dengan langkah yang jenjang, menuju ke arah lobi. Petugas pengamanan yang berjaga, langsung menyapa dan memberi salam kepada Marvel, ketika Marvel sampai di sana.
"Selamat pagi, Pak Marvel!" sapa para satpam secara serentak.
"Pagi semua," sapa balik Marvel, yang sama sekali tidak sombong di hadapan para satpam atau staf lainnya.
Marvel perjalan melewati mereka, dengan karisma yang sangat menawan, membuat semua satpam memandang ke arahnya dengan sangat senang.
"Pak Marvel auranya beda, ya! Dia walaupun CEO, tapi gak sombong sama staf yang di bawahnya," ujar salah satu satpam kepada yang lainnya.
__ADS_1
"Iya, saya juga ngerasanya begitu."
"Iya, sudah ganteng, pinter, kaya, gak sombong, CEO di perusahaan kita!"
Marvel sekilas mendengar perbincangan mereka. Ia tak berbangga diri, karena ia sadar Jabaran CEO ini hanyalah sementara waktu saja. Masih ada jabatan yang lebih tinggi lagi darinya, membuatnya harus selalu mawas diri di hadapan siapa pun.
Sementara itu, Melati masih berada di dalam angkutan umum yang ia tumpangi. Mereka terjebak kemacetan, karena banyak sekali orang yang juga sedang berangkat bekerja.
Melati memandang dengan gelisah ke arah kaca jendela angkutan umum tersebut. Tangannya selalu menekan-nekan dengan tangan yang lain, merasa sangat khawatir jika ia sampai terlambat di hari pertamanya bekerja.
'Masa sih, harus telat?' batin Melati, yang bertambah gelisah dengan keadaan.
Di sisi sana, Marvel sedang menuju ke arah ruangan aula pertemuan mereka, yang berada di lantai 10 di dekat ruangannya. Ia menggunakan lift khusus dirinya, agar tidak berdesakan dengan para pegawai lainnya.
Ia menunggu liftnya sampai di lantai 10, sembari menikmatinya sejenak.
Beberapa saat berlalu, Marvel sudah sampai pada lantai yang dituju. Ia bergegas menuju ke arah ruangan aula yang ditentukan, sembari melihat ke arah jam tangannya.
"Sudah pukul 8. Seharusnya semua sudah sampai di kantor," gumamnya, sembari tetap melangkah menuju ke ruangan tersebut.
Di sana, Melati masih berusaha untuk menyebrangi zebra cross. Ia melihat dan memperhatikan lampu jalan, yang ternyata masih merah. Ia menunggu dengan sangat tidak sabar, sembari terus melihat ke arah lampu tersebut.
Beberapa waktu kemudian, lampu tersebut pun sudah berubah menjadi hijau. Dengan sangat tergesa-gesa, Melati melangkah berjalan menyebrangi zebra cross tersebut dengan hati yang sangat gelisah.
Melati melangkah sembari melihat ke arah jam tangannya, "Udah jam 8! Mudah-mudahan masih belum telat banget!" gumamnya yang terus melangkah dengan menambah kecepatan langkahnya.
Sementara itu di sana, Marvel ternyata sudah sampai di aula tersebut. Sudah banyak sekali karyawan baru, yang mengenakan pakaian putih hitam, yang menempati tempatnya pada aula tersebut.
Semua orang bangkit dari tempat mereka duduk ketika Marvel memasuki ruangan tersebut.
"Selamat pagi, Pak Marvel!" ucap mereka serempak, dengan Marvel yang masih tetap melangkah menuju ke arah mimbar.
__ADS_1
Sementara itu, Melati sudah sampai di lobi kantor barunya. Di sana, sudah ada satpam yang berjaga di depan pintu. Mereka menghadang Melati, membuat Melati semakin takut terlambat karenanya.
"Mbak, mau ke mana?" tanyanya sembari menghadang pintu masuk.