Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Alasan Tersirat


__ADS_3

“Ya gak gitu maksudnya. Gak ada yang minta nomor telepon saya, selain Pak Marcel kok!” balas Melati.


Setelah menunggu beberapa saat, Marcel pun membalas pesan darinya.


“Bagus! Btw, jangan panggil gue Bapak! Gue gak suka dipanggil Bapak! Gue masih muda, bahkan umur gue mungkin aja lebih muda dari lo!”


Melihat pesan singkat dari Marcel itu, membuat Melati merasa sedikit kesal. Melati mengangkat sebelah alisnya, karena ia merasa kesal sudah disinggung soal usia.


“Jangan pernah ngomongin usia, berat badan, tinggi badan di depan cewek! Itu udah hukum alam, kenapa dia gak tau soal itu?!” gumam Melati, yang sedikit sinis sembari memandang chat yang masuk ke handphone-nya itu.


DRT!


Satu pesan singkat masuk kembali ke handphone Melati. Ia membuka pesan tersebut, dan membaca pesan dari Marcel tersebut.


“Kirim lokasi sekarang! Saya udah di jalan! Jangan lupa dandan!” Isi pesan dari Marcel, membuat Melati kelabakan membacanya.


Melati mendelik kaget, karena ia mengetahui maksud Marcel memintanya untuk berdandan ketika menemuinya. Ia merasa sangat tidak percaya, karena ternyata Marcel mengajaknya berkencan.


“Apaan, sih? Dia nyuruh aku dandan tuh karena mau ngajak aku dinner! Dinner sama aja kayak kencan, ‘kan?” gumamnya yang tidak percaya dengan maksud yang Marcel maksudkan.


Melati merasa gugup sendiri, dan tidak keruan rasanya. Ia merasa aneh, ketika ada lelaki yang mengajaknya kencan seperti ini. Masalahnya, Melati tidak pernah lagi merasakan makan malam di luar, setelah lama berumahtangga dengan Martin.


“Udah lama gak pernah makan malem sama Mas Martin, jadi bingung harus gimana? Apalagi kalau sama Pak Marcel mungkin dia mau ngajak aku makan malam di restoran. Mana mau orang kayak seperti dia makan malam di pinggir jalan?” gumam Melati, yang merasa sangat bingung ketika mengetahui maksud Marcel itu.


Melati sudah tidak tahu harus seperti apa. Ia merasa sangat bingung, harus menerima ajakan Marcel atau tidak. Permasalahannya ia juga tidak terlalu suka untuk pergi keluar, selain untuk bekerja dan membeli kebutuhan rumah tangga.

__ADS_1


“Apa ... aku tolak aja kali, ya?” gumamnya, yang merasa tidak enak hati jika menerimanya.


Namun, Melati berpikir kembali untuk tidak menolaknya. Karena ia sangat yakin, Marcel akan melakukan hal aneh ketika Melati menolak permintaannya.


‘Jangan sampai dia bikin hal yang aneh,’ batin Melati yang sudah merasa takut duluan dengan hal yang akan Marcel lakukan padanya nanti.


Dengan sangat terpaksa, Melati pun mengirimkan lokasi pada Marcel, sehingga Marcel bisa melihat dengan jelas lokasinya saat ini.


Di sana, Marcel tersenyum ketika menerima lokasi dari Melati. Ia merasa senang, karena ia bisa berkunjung ke rumah Melati, membawakan makanan untuk keluarganya.


“Trik pertama mendapatkan hati wanita yang sok jual mahal seperti dia, dengan cara mendapatkan hati keluarganya lebih dulu! Sogok aja sedikit pakai makanan yang mahal dan banyak, mereka pasti akan bilang kalau gue itu baik, dan akan nyuruh Melati untuk nerima cinta gue,” gumam Marcel, yang sudah dua langkah lebih maju daripada Marvel.


Pandangan matanya seketika menjadi sinis, karena tiba-tiba saja teringat dengan Marvel.


“Kalo harta keluarga Davies gak bisa jadi milik gue sepenuhnya, gue gak bisa bikin lo dapetin wanita yang lo incer juga! Jangan semuanya lo yang dapet, dong? Perhatian ortu, kedudukan, jabatan, sampe wanita pun mau lo dapetin? Gak, sebisa mungkin gue gak akan pernah nyerahin Melati buat lo!” gumamnya sinis, yang tidak membiarkan Marvel mendapatkan semua yang ia inginkan.


Marcel menuju ke arah rumah Melati, dengan makanan yang sudah ia beli sebelumnya.


Sementara itu, Melati sedang merasa bingung. Ia merasa bingung, harus bagaimana menghadapi Marcel yang seperti itu. Karena baru merasakan patah hati dengan Martin, ia jadi tidak semegah untuk dekat dengan lelaki mana pun, termasuk Marcel.


“Gimana, ya? Aku gak mau deket gini sama orang. Baru aja putus cinta begini, aku gak mau lagi ngerasain sakitnya. Apalagi Pak Marcel kaya, dia pasti seperti Mas Martin. Dia pasti bisa dengan mudahnya cari cewek lain, kalau udah gak suka lagi sama aku!” gumam Melati, yang merasa sangat sedih ketika mengingat sosok Martin, yang tidak mencintainya lagi setelah mendapatkan harta dan kedudukan yang ia inginkan.


Ibu masuk ke dalam kamar Melati, melihat Melati yang terlihat sedang bingung saat ini. Ia merasa sesuatu terjadi pada Melati, yang membuat dirinya tidak tenang.


“Ada apa, Mel? Kok kayaknya bingung gitu, sih?” tanya Ibu, membuat Melati terkejut melihat kedatangan Ibu ke kamarnya.

__ADS_1


“Ibu? Tadi aku bilang ‘kan jangan masuk dulu,” ucap Melati, yang terkejut karena melihat kedatangan Ibu yang tiba-tiba.


“Maaf Ibu masuk ke kamar kamu. Bapak baru dateng, jadi Ibu mau ngajak kamu makan malem bareng. Ibu udah masak, nih,” ucap Ibu, membuat Melati kebingungan mendengarnya.


“Hah? Makan malem?” gumam Melati kebingungan.


Masalahnya, Melati dan Marcel akan pergi makan malam nanti. Melati tidak ingin perutnya sampai penuh, karena pasti Marcel akan marah kalau ia bilang sudah makan malam sebelumnya.


Ibu memandangnya dengan heran, “Kok kamu kayak heran banget, sih? Makan malem, ‘kan memang biasa kita makan malem,” ujar Ibu, membuat Melati merasa terpojok mendengarnya.


“Bapak, udah pulang, Bu?” tanya Melati, yang mengalihkan pembicaraan mereka.


“Ya, Bapak baru aja pulang. Sekarang ngajak kamu makan malem bareng,” jawab Ibu, Melati merasa bingung jadinya.


“Aduh ... gimana, ya? Melati ‘kan mau ketemu Bang Tigor, Bu.” Melati tidak bisa berbohong terlalu jauh dari saat ini.


Ibu mengangkat sebelah alisnya, “Lah, kenapa emangnya kalau mau ketemu sama si Tigor? Kamu mau sekalian makan sama si Tigor itu?” tanyanya, membuat Melati mengaduh dalam hati.


Ibu mendelik kaget, karena ia berpikiran yang macam-macam terhadap Melati dan Tigor.


“Apa jangan-jangan, kamu sama Tigor ....” Ibu tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena Melati yang sudah membantahnya lebih dulu.


“Apaan deh Ibu? Aku sama Bang Tigor tuh gak ada apa-apa. Lagian, aku cuma mau bayar angsuran aja sih,” bantah Melati, membuat Ibu merasa sedikit tenang mendengarnya.


“Syukur deh! Kalau kamu sampai ada apa-apa sama si Tigor, ‘kan bahaya! Kamu gak tau, ya? Dia ‘kan udah punya bini tiga di kampungnya di Medan! Jangan sampe kamu jadi yang keempat!” ucap Ibunya memperingati Melati.

__ADS_1


Melati merasa sangat kaget, karena ia tidak tahu akan hal itu.


“Bu, ada tamu, nih!” teriak Bapak dari luar kamar, sontak membuat Melati mendelik kaget mendengar hal itu.


__ADS_2