
‘Kalau seperti ini terus, yang ada gak ada kemajuan. Aku juga pasti akan terkekang terus sama mereka! Aku gak mau dekat sama mereka berdua, karena aku masih terluka karena mas Martin. Mereka sama sekali gak ngertiin aku, karena mereka sama sekali belum mengenal aku lebih jauh,’ batin Melati, yang sudah memikirkannya dengan matang.
Melati memutuskan untuk tidak ingin dekat dengan keduanya. Biarlah kedua orang tuanya mengetahui fakta yang sebenarnya, agar mereka tidak shock karena kelakuan absurd dari Marvel dan Marcel.
Marcel masih memandangnya dengan sinis, karena ia ingin mengisyaratkan agar Melati memilihnya. Ia ingin terus dekat dengan Melati dan juga keluarganya, tanpa ada gangguan seperti Marvel di kemudian hari.
“Mereka bukan siapa-siapa Melati, Pak, Bu. Mereka hanya atasan Melati di kantor, dan gak ada hubungan intim apa pun dengan Melati,” ujarnya, sontak membuat Marcel dan Marvel mendelik kaget mendengarnya.
Keadaan berbalik. Melati sudah mengatakan bahwa mereka bukan siapa-siapa baginya. Hal itu membuat patah hati keduanya.
‘Kenapa lo gak pilih gue sih, Mel?’ batin Marcel yang merasa sangat kaget mendengar ucapan Melati yang sangat mengejutkan itu.
__ADS_1
Tak hanya Marcel, Marvel pun mendelik kaget karena ternyata ia sudah ditolak oleh Melati. Ia benar-benar merasa kegalauan datang melanda hatinya, karena perjuangannya menjadi sia-sia hanya karena sepatah kata yang Melati ucapkan saat ini, di hadapan kedua orang tuanya.
“Benar itu, Mel? Kamu gak bohongin Bapak dan Ibu, kan?” tanya Bapak lagi, memastikan kebenaran ucapan Melati itu.
Melati memandang sendu ke arah mereka, lalu mengangguk kecil untuk merespon pertanyaan dari Bapak.
Semua yang dipikirkan kedua orang tua Melati sudah tuntas, mereka sama sekali tidak ada hubungan apa pun dengan Melati. Mereka menjadi kikuk, karena tidak bisa mengatakan apa pun lagi di hadapan Melati dan kedua orang tuanya.
“Maaf Bu, Pak, jika kedatangan saya mengganggu. Saya pamit pulang dulu,” pamit Marvel, membuat Marcel terkejut mendengarnya.
“Saya juga pamit dulu, Pak, Bu. Maaf sudah membuat keributan di sini,” pamit Marcel, yang juga sudah sangat malu di hadapan kedua orang tua Melati.
__ADS_1
Bapak bingung mendengar ucapan mereka. “Ya sudah, hati-hati di jalan. Terima kasih sudah menjenguk Melati.”
Mereka pun tersenyum dan mengangguk, lalu pergi dari sana karena sudah merasa malu dengan mereka.
Melihat kepergian mereka, Melati menjadi sangat tidak enak hati. Namun, mau bagaimana lagi? Melati juga tidak ingin dekat dengan salah satu dari mereka. Walaupun mereka adalah orang yang sangat berpengaruh di kantor tempatnya bekerja, tetapi Melati tidak memedulikan itu.
Yang terpenting adalah ... siapa orang yang bisa membuatnya nyaman.
Namun, pada kenyataannya mereka tidak bisa melakukan itu. Melati juga masih terjebak di dalam rasa sakit hatinya dengan Martin. Melati tidak bisa secepat itu melupakan perasaan sakitnya karena perceraian dengan Martin.
‘Maaf ya Tuan Marvel, Tuan Marcel. Saya gak bisa melakukan apa pun untuk kalian. Saya benar-benar tidak bisa menganggap kalian pacar saya. Saya juga gak bisa memilih salah satu di antara kalian, karena saya benar-benar tidak bisa memilih. Kalian gak selevel dengan saya. Derajat kalian terlalu tinggi, untuk wanita seperti saya. Kalian masih muda, kalian bisa menemukan wanita yang masih gadis, dan yang lebih baik daripada saya,’ batin Melati, sembari meratapi perasaan mereka terhadapnya.
__ADS_1
***