
Marvel sampai kembali ke kediamannya pada pukul 12 malam. Ia sudah berhasil mengantarkan Laura ke rumahnya, sehingga membuatnya sampai larut malam sekali.
Saat ia melangkahkan kakinya menuju ke ruangan tamu, ia melihat Ayah dan Ibunya yang sepertinya sedang memarahi adik laki-lakinya, yang usianya terpaut tak jauh darinya. Hanya berbeda 3 tahun di bawahnya.
Usianya sebaya dengan usia Laura. Ia juga menyukai Laura, tetapi Laura sama sekali tidak menyukainya. Laura lebih memilih Marvel, yang terlihat lebih dewasa daripada adiknya.
Marvel memandang mereka dengan bingung, karena adiknya yang sepertinya sedang dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tuanya.
"Ada apa ini, Mah, Pah?" tanya Marvel bingung dengan keadaan adiknya.
Fokus dan pandangan mereka jadi tertuju kepada Marvel. Suasana nampak mencair sedikit, ketika Marvel datang.
"Ini si Marcel, pulang malam terus. Kartu kredit sampai jebol gara-gara keseringan bikin party sama temen-temennya. Mending dia ikut minum, orang gak kuat minum gini kok sok-sok bikin party segala. Dia yang bayar semuanya pula! Keterlaluan!" jawab Ayahnya menjelaskan pada Marvel.
Memang adiknya ini agak bengal sifatnya. Ia sering sekali menghamburkan uangnya, hanya untuk keperluan teman-temannya saja. Hal itu yang membuat orang tuanya marah besar padanya.
Marvel sudah sering mengajaknya berduel, hanya karena permasalahan seperti ini. Bahkan, Marvel membuatkan ruangan khusus, dan meletakkan sebuah ring tinju di dalamnya, hanya untuk memberi Marcel pelajaran.
Mendengar penjelasan Ayahnya, Marvel menjadi sangat terpacu untuk melakukan tugasnya kembali. Walaupun ia sangat lelah karena baru kembali mengantar Laura, ia jadi memiliki hasrat untuk menghajar Marcel yang sangat kurang ajar itu.
Matanya mendelik ke arah Marcel, "Ayo ikut gue!" bentak Marvel, sembari menarik tangan Marcel dengan kasar.
Kedua orang tuanya kebingungan, karena Marvel yang tiba-tiba saja menarik tangan Marcel, ke sebuah ruangan yang ada di rumahnya.
"Pah, itu Marvel mau ngehajar Marcel kali?" ujar Ibunya kebingungan, dengan nada yang sangat khawatir.
"Iya, coba yuk kita ke sana!" ajaknya, Ibunya mengangguk setuju mendengarnya.
__ADS_1
Mereka pun segera menghampiri Marvel ke ruangan yang selalu mereka pakai, untuk bertarung bersama.
Sesampainya di sana, ternyata Marvel dan Marcel pun sudah berada di dalam ring tinju. Marvel mengambil dua pasang sarung tinju, kemudian melemparkan satu kepada Marcel.
"Tuh, pake!" suruh Marvel, sembari melemparkan sarung tangan tinju itu ke arah Marcel.
Marcel terpaksa menerimanya, karena sangat pantang baginya untuk lari ketika ada masalah yang menghadangnya.
"Lo gak capek, Bang? Mending sekarang lo istirahat, besok pagi lo harus kerja lagi, bukan?" tanya Marcel, yang berusaha mengingatkan Marvel tentang pekerjaannya.
Marvel sudah selesai memakai sarung tangan tinjunya itu, "Jangan bawel! Lo pake aja itu sarung tangan!" bentaknya, Marcel ragu untuk memakainya.
Marvel menunggu beberapa saat, tetapi Marcel sama sekali tak memakai sarung tangan tersebut. Hal itu membuat Marvel semakin nafsu saja untuk menghajarnya.
"Oke, tangan kosong?" tanya Marvel, yang langsung menyerang ke arah Marcel.
Melihat Marvel yang sedang melayangkan pukulannya, Marcel pun mengelak sampai tak sadar terjatuh ke bawah lantai ring tinju. Hanya dengan mengelak saja, Marcel sampai bisa kehilangan keseimbangannya.
Karena merasa takut dengan ancaman Marvel, Marcel pun dengan segera memakai sarung tinju itu.
Baru per sekian detik ia selesai memakainya, Marvel sudah melayangkan tinju ke arah Marcel yang masih berada di bawah lantai.
Marcel menyadarinya, dan per sekian detik yang ia miliki ia pergunakan untuk menahan serangan Marvel dengan kedua lengannya yang ia rapatkan, menutupi wajahnya itu.
BUAK!
Kali ini, Marvel berhasil mengenai lengan tangan Marcel, membuatnya mendelik dan kesal karena targetnya sebelumnya adalah wajahnya.
__ADS_1
Marcel tumbuh dengan cepat, bahkan bisa menangkis serangan yang Marvel berikan secara tiba-tiba.
"Bagus, udah mulai ngelak," gumam Marvel yang merasa semakin tertantang dengan yang Marcel lakukan itu.
Mereka sama-sama bangkit, dengan Marvel yang berdiri tegak di hadapan Marcel.
Aura Marvel saat ini sangat menyeramkan, karena ia merasa adiknya butuh pelajaran hidup, agar tidak terus menghamburkan uang yang dengan susah payah ia cari, dengan cara menjalankan bisnis dengan sebaik-baiknya.
"Gue kesel banget, sama orang yang ngehamburin duitnya, untuk sesuatu hal yang gak guna!" teriak Marvel, sembari menghajar Marcel terus-menerus.
Marcel hanya bisa bertahan, karena Marvel yang sama sekali tidak membiarkan ia memukul balik dirinya. Jika Marcel membuka pertahanannya, sudah pasti ia akan terkena pukulan maut Marvel, tepat di wajahnya.
"Jangan suka ngehamburin uang! Lo kerja, baru boleh hamburin uang lo! Gak ada yang akan larang, kalau lo ngehasilin uang lo sendiri!" bentak Marvel lagi, sembari terus-menerus melayangkan pukulan kepada Marcel.
Marcel terlihat sudah sangat kewalahan menahan pukulan maut dari Marvel. Ia merasa harus meminta maaf, agar semua permasalahan ini selesai paling tidak untuk saat ini.
"Oke, gue minta maaf! Gue akan kerja, dan nerusin bisnis Papa mulai besok! Gue akan ngehasilin uang, dan hamburin sesuai keinginan gue!" teriak Marcel, menyetujui apa yang Marvel katakan.
Mendengar permintaan maaf adiknya, Marvel pun lantas mengentikan pukulan mautnya yang dinamai pukulan tangan seribu itu.
Marvel memandang adiknya dengan sinis dan dalam, "Kalau lo gak pegang kata-kata lo sendiri, gue gak akan segan-segan buat ngehajar lo di tempat lo party!" ancam Marvel, membuat Marcel bergidik takut karena ekspresi Marvel yang menyeramkan itu.
Marvel menoleh ke arah kedua orang tuanya, "Papa udah dengar, bukan? Segera urus posisi dia malam ini juga! Besok, dia sudah harus bekerja! Entah di mana Papa mau nempatin dia, di posisi apa pun saya gak peduli. Yang penting dia kerja, dapat gaji, dan kartu kreditnya akan saya blokir saat dia menerima gaji pertamanya. Selama satu bulan ke depan, kartu kreditnya akan dipantau pengeluarannya. Kalau lebih dari limit yang diberikan, langsung blokir saja hari itu juga!" ujar Marvel dengan tegas, membuat mereka sampai tak bisa berkata-kata.
"Tapi ini udah malam, Vel. Papa gak mungkin ngatur hari ini juga--"
"Harus, Pah! Papa aja bisa kok, nyuruh Marvel ngantar Laura malam-malam gini, padahal Papa tau, besok pagi Marvel ada pertemuan dengan staf baru," desaknya, yang merasa harus dipenuhi hari ini juga.
__ADS_1
Mendengar Marvel yang mengantarkan Laura pulang, Marcel pun mendelik kaget ke arah Kakaknya itu.
"Lo nganter Laura pulang, Bang? Emangnya dia udah balik dari USA?" tanya Marcel dengan sangat terkejut, membuat Marvel kembali memandang ke arahnya.