Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Berpapasan


__ADS_3

Marvel merasa sangat penasaran, dengan siapa yang sudah menelepon Melati selama itu. Namun, ia sama sekali tidak bisa menanyakan langsung kepada Melati, tentang hal ini.


“Ah, masa sih saya nanya langsung begitu sama Melati? Nanti dia mikirnya macem-macem lagi tentang saya?” gumam Marvel yang merasa sangat bimbang dengan yang harus ia lakukan.


Marvel terdiam sejenak, berusaha memikirkan tentang apa yang harus ia lakukan untuk mengetahui tentang hal yang mengusik pikirannya itu.


Kesadarannya kembali, Marvel merasa bukan saatnya ia memikirkan hal seperti ini pada jam kerja.


“Ah! Gak usah mikir aneh-aneh. Kerja aja, jangan mikir yang bukan-bukan!” gumamnya membantah pemikirannya sendiri tentang Melati.


Marvel kembali bekerja, dan sejenak melupakan persoalan tentang Melati. Ia tidak ingin persoalan tentang Melati, menjadi beban di pikirannya, sehingga menghambat pekerjaan yang harusnya bisa ia selesaikan hari ini.

__ADS_1


***


Beberapa jam kemudian, Melati belum kunjung datang ke meja kerjanya. Semua orang yang ada di sekitar meja Melati, sangat bingung dengan kepergian Melati, yang tidak kunjung kembali.


Marvel juga sudah tiga kali mencari Melati ke ruangannya, tetapi ia sama sekali tidak menemukan Melati di sana. Ia merasa curiga, karena Melati tidak biasanya seperti ini. Ia bahkan sangat jarang meninggalkan mejanya, tetapi kali ini ia meninggalkannya, bahkan belum kembali hingga menjelang jam pulang kantor.


Dari dekat ruangan Melati, Marvel memandang ke arah meja kerja Melati, yang tidak ada siapa pun di sana. Ia merasa curiga, ada sesuatu yang aneh di sini.


‘Ada yang janggal,’ batin Marvel, yang merasa ada sesuatu dengan Melati.


Dengan langkah yang jenjang, Marvel melangkah menuju ke arah lift khusus dirinya. Ia melangkah masuk ke dalamnya, dan langsung membulatkan matanya karena melihat Marcel yang ada di sana. Langkahnya pun mendadak terhenti, sampai pintu lift hendak tertutup.

__ADS_1


Marvel yang terkejut, langsung menahan lift tersebut sehingga pintu lift itu tidak jadi tertutup. Ia melangkah masuk ke dalam lift, dan menunggu pintu lift kembali tertutup.


Mereka saling melirik satu sama lain, kemudian segera mengalihkan pandangan mereka. Karena pintu lift belum juga tertutup, mereka saling melirik ke arah tombol lift yang berada di samping lift, kemudian mengulurkan tangan ke arah tombol yang bertuliskan angka 1.


Mereka saling terkejut, karena mereka yang sama-sama hendak menuju ke lantai dasar gedung ini.


Marcel mendelik ke arah Marvel, “Lo ngapain sih ikutin gue ke lantai dasar?” tanyanya sinis, membuat Marvel memandangnya dengan datar.


“Siapa juga yang ngikutin lo? Gue emang mau ke lantai dasar, kok!” bantah Marvel, membuat Marcel tidak bisa mengatakan apa pun lagi.


Pintu lift kembali tertutup, untuk mengantarkan mereka menuju tujuan mereka, yaitu lantai dasar. Sepanjang mereka turun ke bawah, Marcel dan Marvel sama sekali tidak mengatakan apa pun. Mereka hanya diam, karena tidak tahu harus mengatakan apa. Mereka sangat canggung, sampai-sampai mereka sama sekali tidak ingin saling menatap.

__ADS_1


TING!


Pintu lift terbuka, mereka sudah sampai pada lantai dasar tujuan mereka. Mereka sama-sama melangkah keluar dari lift, dan menuju ke arah toilet wanita yang berada di lantai dasar.


__ADS_2