Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Gak Ada Yang Marah


__ADS_3

Marvel memandang bingung ke arah Melati, karena Melati yang hanya menunduk saja, tanpa mengatakan apa pun.


“Mel? Kenapa?” tanya Marvel, Melati tersentak kaget.


Setelah mendapatkan kembali kesadarannya, Melati pun menggelengkan kepalanya, tanda ia baik-baik saja.


“Gimana? Gak boleh ya kalau aku mau deket sama kamu? Apa ... ada yang marah mungkin kalau aku deket sama kamu?” tanya Marvel, yang pertanyaannya sama seperti pertanyaan para buaya pada umumnya.


Wajah Melati seketika bersemu malu, karena mendengar pertanyaan yang membuat hatinya berdebar tak menentu.


Melati memandang ke arah Rusdi dengan tatapan yang berusaha ia pertegas, “Gak ada yang marah, kok! Tenang aja,” jawab Melati, membuat Marvel merasa senang dan tenang dalam hatinya.


‘Dia beneran gak deket sama siapa pun. Dia juga kayaknya suka sama sosok Rusdi,’ batin Marvel yang merasa sangat senang dengan kemajuan hubungan mereka ini.


***


Siang ini, rekan Melati menemui sembari membawakan salinan berkas yang kemarin Melati ambil, dari Bramantio Grup.

__ADS_1


Melati memandangnya dengan bingung, karena ia masih berfokus ke layar komputer yang ia lihat.


“Ada apa, Mbak?” tanya Melati kebingungan melihat seniornya yang ada di hadapannya.


Seniornya memberikan salinan berkas tersebut ke arah Melati, “Ini tolong kirim salinan berkas kontrak kemarin, ke Bramantio Grup. Secepatnya harus sudah ada di sana,” ucapnya, membuat Melati mengerutkan dahinya kebingungan.


“Kirim salinan berkas kontrak? Kenapa gak kirim softcopy ke mereka aja, Mbak? Kenapa harus kirim print out juga ke mereka?” tanya Melati yang merasa heran dengan hal tersebut.


Rekannya menghela napasnya dengan panjang, “Saya juga gak tau, Mel. Tuan Marvel yang menyuruhnya,” jawabnya, semakin membuat Melati kebingungan mendengarnya.


Namun, Marvel yang sudah rindu ingin berboncengan dengan Melati, membuatnya melakukan hal kreatif, dengan meminta ketua tim mereka untuk menyampaikan hal ini pada Melati.


“Udahlah Mel, lakuin aja yang Tuan Marvel suruh!” ujarnya setengah memaksa.


Melati menghela napasnya dengan dalam, “Yaa sudahlah. Mau gimana lagi? Saya juga gak akan bisa nolak,” ucap Melati yang sepertinya sudah pasrah dengan hal itu.


Walaupun kemungkinan besar akan bertemu dengan Martin kembali, Melati sama sekali tidak bisa menolak apa yang sudah Marvel perintahkan padanya. Ia lebih menghargai Marvel, daripada rasa takutnya ketika bertemu dengan Martin nantinya.

__ADS_1


Dari arah pantry, Marvel datang ke hadapan mereka dengan wajah yang sangat sumringah.


“Selamat siang semuanya,” sapa Rusdi, membuat mereka mengalihkan fokus ke arah Rusdi.


“Siang.” Mereka menjawab serentak sapaan dari Rusdi.


“Melati mau ke mana? Kayaknya saya dengar tadi mau ngantar berkas ke Bramantio Grup, ya?” tanya Rusdi dengan sangat bahagia, Melati tersenyum senang mendengarnya.


“Iya, Rus. Saya mau ngantar berkas ke sana,” jawab Melati dengan sangat senang, membuat rekan Melati paham dengan apa yang sedang terjadi di sini.


“Emm ... ya deh, paham ... gih sana anter Melati ke kantor sebelah,” suruh rekannya sedikit tersenyum jahil, membuat Melati merasa sangat malu di hadapan Rusdi.


Melati menyenggol rekannya dengan senyuman, “Ah, Mbak bisa aja nih.”


“Ya udah, ayo berangkat!” ajak Marvel, membuat Melati mengangguk kecil mendengarnya.


***

__ADS_1


__ADS_2