
Marvel menatap tajam ke arah Laura, 'Ya, memang harusnya begitu! Saya gak bisa tidur terlalu larut,' batin Marvel, yang tak bisa mencetuskannya pada Laura, ketika di hadapan kedua orang tuanya.
"Hey, gak baik ganggu istirahat Ayah kamu. Pasti Roy sudah istirahat sekarang. Biar Marvel aja yang antar," bantah Ayah Marvel, yang membuat suasana menjadi sangat canggung.
Marvel lagi-lagi harus menghela napasnya dengan panjang, 'Gak baik ganggu istirahat Ayahnya? Terus, baik gitu ganggu istirahat saya? Lagian, kenapa kalau ganggu istirahat Ayahnya? Toh dia Ayahnya! Lah saya siapanya dia?' batin Marvel menolak keras dengan apa yang Ayahnya inginkan.
Memang dasar Laura yang menginginkan bersama dengan Marvel, ia jadi senyum-senyum sendiri, ketika Ayahnya Marvel mengatakan hal demikian.
"Kalau gitu ... oke deh, Om. Nanti aku mau diantar pulang sama Kak Marvel," ujar Laura dengan sangat imut di hadapan kedua orang tua Marvel.
Marvel menyipitkan matanya memandang sinis ke arah Laura yang sedari tadi menatap ke arah Ayahnya.
'Saya yang gak mau antar kamu!' batin Marvel lagi, yang benar-benar kontra dengan keinginan Laura.
"Ya udah, sini duduk dulu. Temani Laura makan, Vel!" suruh Ibunya, Marvel memandang Ibunya dengan pandangan yang menyeleneh.
"Mah, tadi kan Marvel udah bilang, kalau Marvel udah makan. Masa sih, Marvel disuruh makan lagi nemenin dia?" protes Marvel, membuat Laura tertawa kecil mendengarnya.
"Gak harus makan juga, kok! Kak Marvel duduk aja di samping aku. Biar aku makannya berselera," ujar Laura yang mendominasi, membuat Marvel semakin kesal saja dengan keadaan.
Marvel membuang pandangannya sambil menggerutu, "Kamu yang berselera, tapi bikin selera saya hilang," gumamnya dengan lirih, sampai dijamin tak ada siapa pun yang bisa mendengarnya.
Laura memandangnya dengan penasaran, "Kak Marvel ngomong apa tadi?" tanyanya.
Marvel kembali memandang ke arahnya sembari menggelengkan kepalanya, "Ah, enggak kok. Ya udah, Kak Marvel temenin kamu makan, ya!" ujar Marvel yang nadanya seketika berubah menjadi sangat ramah.
Laura sangat senang mendengarnya, sampai ia mengangguk kecil di hadapan Marvel.
Marvel pun melangkah ke arah Laura, kemudian duduk di dua kursi sebelah Laura.
__ADS_1
Melihat Marvel yang masih berjauhan darinya, Laura menjadi agak bingung. Orang tuanya pun menjadi agak bingung dengan yang Marvel lakukan itu.
"Kok duduknya jauh gitu sih, Vel?" tanya Ibunya, mewakili pertanyaan yang harusnya ditanyakan oleh Laura.
"Iya, deketan lagi dong!" suruh Ayahnya, membuat Marvel menjadi kaku di hadapan Laura.
'Ya ampun, kalau dipaksa gini kenapa gak enak rasanya?' batin Marvel, yang tidak suka bila orang tuanya memaksanya dekat dengan seorang wanita.
Sudah sering kali mereka melakukan hal ini dengan Marvel. Itu semua karena mereka ingin sekali Marvel cepat menikah, karena mereka ingin melihat keturunan Marvel. Mereka ingin sekali memiliki cucu yang cantik dan tampan, seperti Marvel dan bakal calon istrinya kelak. Mereka berharap, sisa waktu mereka cukup untuk melakukan semuanya.
Namun, mereka tak asal memilih calon menantu yang akan mereka nikahkan dengan Marvel. Wanita itu harus dari keluarga yang sejalur dengan tujuan mereka, dalam melakukan bisnis yang sedang mereka jalani itu. Hal itu bertujuan untuk menambah relasi, dan koneksi untuk bisnis yang akan mereka jalani nantinya.
Laura bukanlah satu-satunya yang mereka kenalkan untuk Marvel. Sudah banyak sekali anak dari temannya, yang seumuran dengan Laura, yang pernah dikenalkan kepada Marvel. Namun, Marvel sama sekali tak menghiraukan, dan tak tertarik dengan mereka semua.
Padahal, para gadis itu sudah lebih dari cukup dalam berbagai hal yang harusnya dimiliki para gadis yang siap menikah. Mereka cantik, kaya, terpandang, memiliki gelar, apa lagi yang mereka tidak miliki?
Marvel tersadar dari lamunannya, kemudian terpaksa berpindah ke kursi yang berada di sebelah Laura.
Laura menyodorkan sesendok puding ke arah Marvel, "Mau puding, gak?" tanyanya yang hendak menyuapi Marvel, tetapi Marvel lekas menjauh dari suapan tersebut.
"Terima kasih, saya gak suka puding," tolak Marvel dengan asal, membuat Ibunya memandangnya dengan sinis.
"Kamu bohong, ya? Justru Mama sering bikinin puding buat kamu. Kamu tuh suka banget puding, apalagi rasa cokelat!" bidiknya, membuat Marvel menelan salivanya karena tak bisa berkutik lagi dengan keadaan.
"Emm ... Mama tau dari mana kalau Marvel suka puding? Marvel tuh sukanya jelly," bantah Marvel, berusaha untuk mengelak dari ucapan Ibunya.
Ibunya sampai bingung mendengar pengakuan dari Marvel, yang sangat bertolakbelakang dengan kenyataan yang ada.
Karena tidak mau memperpanjang urusan, Ibunya hanya bisa memandangnya dengan dengusan napas yang kasar.
__ADS_1
Ayah Ibunya bangkit dari tempat duduknya, "Kalian lanjutin makan berdua dulu, ya? Kita mau ke kamar sebentar," pamit mereka, yang hendak memberikan waktu kepada Laura untuk berduaan dengan Marvel.
Mereka tanpa basa-basi lagi, meninggalkan Marvel bersama dengan Laura di ruangan makan.
Suasana menjadi canggung, karena Marvel yang tidak senang ditinggal berduaan saja. Pikiran Marvel terus berputar, berusaha untuk mencari cara agar Laura bisa secepatnya ia antarkan pulang ke rumahnya.
Sebuah cara ia dapatkan, dan berusaha memasang tampang yang meyakinkan di hadapan Laura.
Marvel memandang ke arah Laura, yang masih saja asyik menyantap puding yang ada di dalam piring makannya. Karena ia harus mengantar Laura, ia tak ingin Laura sampai berlama-lama di rumah ini. Marvel juga punya kesibukan, yang harus ia jalani esok hari.
"Enak ya, pudingnya?" tanya Marvel dengan senyuman khasnya.
Laura mengangguk dengan cepat, "Enak! Bikinan Tante emang paling enak!" jawab Laura dengan polos.
Marvel semakin menatapnya dengan tajam, "Kalau gitu, cepat habiskan! Katanya mau diantar pulang?" ujar Marvel dengan nada yang menyeramkan, dan juga ekspresi wajah yang menyeramkan.
Laura menjadi sangat kaget, karena melihat ekspresi wajah Marvel yang baru kali ini ia lihat.
Dengan cepat, Laura menelan habis puding yang tersisa, saking ketakutannya ia dengan Marvel saat ini.
Karena terlalu cepat memasukkan puding baru ke dalam mulutnya, Laura pun tersedak sampai tak bisa bernapas dengan benar.
"Duh ... pelan-pelan dong makannya," ujar Marvel dengan nada yang mendramatisir, seakan bersalah tetapi ia tidak merasa bersalah sama sekali sudah membuat Laura tersedak.
Suasana menjadi sangat mencekam, ketika Marvel menyodorkan minum untuk Laura. Laura saja sampai memandangnya dengan pandangan takut.
Marvel menyodorkan minum kepada Laura, sembari memasang tampang seram dan berbisik padanya, "Cepat minum, dan bilang kalau kau mau pulang sekarang!" suruh Marvel, yang mendapat anggukkan dari Laura.
Marvel pun tersenyum puas, ketika melihat Laura yang sangat menurut padanya.
__ADS_1
***