
Melati tidak bisa menjelaskan apa yang ia inginkan, karena ia juga harus memikirkan tentang mereka, orang tuanya.
Perasaan egoisnya tiba-tiba saja hilang, walaupun ia masih sangat mencintai sosok Rusdi, ia masih tetap harus membela kedua orang tuanya.
Rasa sulit menerpa Melati saat ini. Lidahnya kelu, saking tidak bisanya ia mengatakan hal yang sangat bertolak-belakang dengan apa yang ia inginkan.
Apa yang disebut cinta? Melati sudah lama tidak merasakannya, setelah sosok Martin membuatnya sakit. Orang yang selalu diutamakannya, ternyata hanya mempermainkan cinta yang sudah ia beri.
Sudah tidak ada lagi cinta bagi Melati. Kini, yang ada ia hanya harus memberikan seluruh hidupnya untuk kedua orang tuanya. Ia harus rela melakukan apa pun demi mereka, karena kini syurganya sudah kembali di bawah telapak kaki Ibunya.
Napasnya tercekat, ia berusaha memandang ke arah lelaki tua yang berada di hadapannya.
Bapak memandang ke arah Melati, yang sepertinya terlihat tidak ingin menerimanya. Pandangan Melati sangat tertekan, membuatnya semakin yakin dengan ketidaksukaan Melati dalam menerima lamaran paksaan dari Pak Sodik.
__ADS_1
Tangannya mengulur ke arah tangan Melati, yang sedang menggenggam dengan tangan lainnya. Bapak menggenggam erat tangan Melati, membuat Melati seketika menoleh ke arahnya.
“Kalau kamu enggan, kamu bisa nolak. Biar Bapak rela dipenjara, asalkan anak Bapak gak tertekan,” ujarnya, membuat Melati semakin kebingungan mendengar ucapan Bapaknya.
Sebegitu besar cinta seorang ayah, demi kebahagiaan putrinya. Melati sangat tidak mau melihat Bapak kandungnya berada di dalam jeruji besi, sehingga ia masih memikirkan dengan mempertaruhkan kehidupan dan kebahagiaan yang ia miliki.
Mendengar ucapan Bapak Melati, Pak Sodik merasa sangat khawatir. Ia takut, Melati lebih memilih menolaknya, dibandingkan harus menikah dengannya.
Pak Sodik memandang sinis ke arah Bapak Melati, “Jangan mempengaruhi, apa yang sudah dipikirkan Melati!” bentaknya, sontak membuat Bapaknya terdiam dan menunduk.
Melihat sikap kurang baik Pak Sodik terhadap Bapaknya, Melati malah semakin geram dengan orang yang ada di hadapannya ini.
Melati ingin sekali menarik seluruh kumis dan jenggot panjang yang Pak Sodik miliki, sehingga semuanya tercabut sampai ke akarnya.
__ADS_1
Tentunya jika ia bisa.
Melati memandang sinis juga ke arah Pak Sodik, “Tolong ya, Pak, sopan sedikit sama orang tua saya!” bentak Melati balik, membuat Pak Sodik mendelik kaget mendengar bentakan Melati itu padanya.
Sodik tidak menyangka, ternyata Melati bisa dengan tegasnya membentak dirinya, untuk membela harga diri orang tuanya.
‘Saya pikir Melati adalah wanita yang menyukai kekuasaan dan uang. Ternyata, harga diri orang tua dan kebahagiaan dirinya, lebih penting di atas segalanya,’ batin lelaki tua itu, yang salah menilai tentang kepribadian Melati.
Dengan sangat terpaksa, Sodik harus sedikit merendah di hadapan Melati. Ia tidak ingin sikapnya yang otoriter, membuatnya gagal untuk menikahi sosok janda kembang itu.
“Maaf, saya tidak bermaksud demikian,” ujar Sodik, yang benar-benar harus merendah, serendah-rendahnya di hadapan Melati.
Tentu saja, itu hanya sebuah formalitas belaka. Ia harus bisa memenangkan hati Melati lebih dulu, sebelum akhirnya dia bisa memenangkan seluruhnya dari Melati.
__ADS_1