
Melati sampai di rumahnya siang ini, dengan membawa beberapa makanan kesukaan Ibu dan juga Bapaknya. Ia ingin memberikan sedikit perayaan, untuk dirinya yang baru saja diterima di perusahaan yang cukup besar.
Dari gang depan rumahnya, Melati berjalan dengan sangat riang. Banyak tetangganya, yang melihatnya dengan sangat heran.
"Mel, ceria banget," tegur salah satu tetangganya, yang sedang berkumpul di pos ronda dekat rumahnya.
"Iya nih, Bu. Saya lagi seneng karena baru keterima kerja," jawab Melati apa adanya, yang memang seperti itu kenyataannya.
"Wah ... hebat kamu, Mel! Baru juga bercerai, udah dapat kerjaan aja."
"Iya, baguslah. Buat ngisi kekosongan waktu. Siapa tau aja ... di sana selain dapet pemasukan, dapet jodoh juga kan gak ada yang tau."
Ucapan para tetangganya memang ada benarnya, tetapi Melati merasa dirinya sudah diingatkan kembali dengan sosok Martin.
Sempat merasa sedih sejenak, tetapi ia segera menghempaskan pikiran negatifnya itu, dengan melontarkan senyuman kepada para ibu yang ada di hadapannya.
"Iya, terima kasih ibu-ibu. Saya pamit dulu," ujar Melati, yang tidak ingin banyak melontarkan kata-kata lagi.
Melati segera pergi meninggalkan kerumunan itu, dan bergegas menuju ke arah rumahnya.
Sesampainya di rumah, Melati segera melepas high heels yang ia kenakan sepanjang jalan tadi. Karena terlalu lelah berjalan, Melati beristirahat di depan rumahnya terlebih dahulu.
Ia meletakkan plastik berisi gorengan kesukaan orang tuanya, sembari perlahan duduk pada kursi plastik yang diletakkan di depan rumahnya.
"Duh ... kenapa tadi gak bawa sandal jepit juga, ya? Kaki aku jadi pegal kram begini, saking udah lamanya gak pernah pakai heels lagi," gumam Melati, sembari memijat kakinya yang syarafnya terasa sangat kaku ketika ia menyentuhnya.
"Besok harus bawa sandal jepit juga, deh! Kalau udah deket kantor, baru dipakai. Pulangnya juga, kalau udah jauh dari kantor, baru dipakai lagi," gumam Melati, yang berusaha mengingatkan dirinya sendiri dengan apa yang harus ia lakukan besok.
Melati terus memijit kakinya yang syarafnya sedang kaku, sembari menahan sakit karena pijitannya yang cukup keras.
Dari arah dalam rumahnya, muncullah Ibu yang merasa terganggu dengan suara-suara yang kurang jelas, yang masih terdengar samar dari dalam rumahnya.
Mata Ibu menajam, berusaha melihat siapa yang ada di halaman depan rumahnya.
Ketika mengetahui orang tersebut adalah Melati, Ibu pun langsung mengubah raut wajahnya menjadi sumringah.
__ADS_1
"Eh anak Ibu udah pulang," ujar Ibu, yang sedikit mengagetkan Melati.
Ibu pun duduk di kursi plastik yang berada di sebelah Melati, dengan Melati yang segera menoleh ke arahnya dengan tetap memijat-mijat kakinya.
"Iya, Bu. Interviewnya sebentar, jadi pulangnya juga cepet," jawab Melati, yang segera membenarkan posisi duduknya.
Menyadari sikap melati itu, Ibu pun bingung dengan apa yang Melati lakukan.
"Kamu ngapain, Mel, mijetin kaki begitu? Kakinya sakit?" tanya Ibu, yang merasa khawatir dengan keadaan Melati.
Melati menjadi tak enak dengan Ibu, tetapi karena sudah ketahuan, ia jadi tidak bisa menyangkal keadaannya lagi.
"Iya nih, Bu. Tadi gara-gara pakai heels terus pulang pergi kantor, jadi rasanya sakit banget. Untung aja gak lecet, cuma pegel aja," jawabnya sembari menjelaskan keadaannya saat ini.
Ibu menjadi sangat khawatir dengan keadaan kaki Melati saat ini.
"Duh ... sini Ibu pijit kakinya, biar gak bengkak!"
"Gak usah, Bu. Tadi Melati udah pijit sendiri, dan udah agak enakan sekarang. Besok melati bawa sandal aja dari rumah, biar gak pakai heels pas jalan ke kantornya," tolak Melati, Ibu agak sedikit ragu mendengar tolakan Melati.
"Bukan sembuh, Bu. Melati tadi bilang, udah agak enakan. Melati 'kan gak bisa sulap kayak Bapak," jawab Melati dengan selipan candaan, membuat Ibu jadi tertawa kecil mendengarnya.
"Apa deh kamu, orang tua lagi nanya serius juga malah diajak becanda." Ibu tersenyum sendiri melihat kelakuan Melati.
Melati teringat sesuatu yang sebelumnya ia bawa, "Oh ya, Bu. Tadi Melati bawain gorengan yang banyak buat Ibu sama Bapak. Soalnya Melati lolos interview hari ini, Bu!" ujarnya dengan sangat bersemangat.
Ibu terdiam sejenak, karena ia baru menyadari arti perkataan Melati, yang katanya ingin membawa sandal besok ke tempat kerjanya.
Ibu mendelik dengan wajah yang sumringah, "Beneran, Mel? Wah ... selamat ya udah keterima kerja. Ibu seneng dengernya. Sampe baru sadar arti ucapan kamu tentang sendal tadi, saking khawatirnya sama keadaan kamu," ujar Ibu sembari menggenggam tangan Melati.
Melati menyeringai maklum dengan keadaan Ibunya, "Iya, Bu. Wajar, namanya juga khawatir sama anak. Sampai gak sadar apa yang Melati bicarain."
"Hehe yang penting kamu sekarang udah diterima kerja, jangan bangun kesiangan besok," ujar Ibu, Melati mengangguk mendengarnya.
"Pasti, Bu."
__ADS_1
Ibu tersenyum, "Ya udah, yuk masuk! Ibu siapin makan siang untuk kamu. Kamu pasti laper," ajak Ibu, Melati mengangguk cepat sembari tersenyum.
"Yuk!"
Mereka pun masuk ke dalam rumah mereka, gak lupa membawa makanan yang sudah Melati beli untuk Ibu dan Bapak.
***
Setelah selesai beraktivitas di hari pertama, Marvel masih terlihat merenggangkan otot-ototnya di kursi kerjanya.
Andre melongok ke dalam ruangan Marvel, dan segera masuk tanpa permisi terlebih dahulu.
"Pak CEO kelihatannya lelah, nih! Butuh bantuan, gak?" ledek Andre, yang kini sudah berada di hadapannya.
Marvel terkejut, ketika Andre tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangannya.
Marvel memandang datar ke arah sahabatnya itu, "Ndre, Ndre! Hobi kamu kenapa ngagetin terus, sih? Apa susahnya ketuk pintu sebelum masuk ruangan?" singgung Marvel, Andre pun menyeringai mendengarnya.
"Ya, maaf deh. Memang saya agak kurang ajar kalau sama temen sendiri," ujarnya mengakui kesalahannya dan juga keburukannya di hadapan Marvel.
Marvel tak menghiraukan, ia segera menutup wajahnya menggunakan lengan kanannya, sembari bersandar pada kursinya.
Di atas meja Marvel saat ini, masih ada CV Melati yang ada di hadapannya. Map kuning itu rupanya mengundang perhatian Andre, yang tak sengaja melihat ke arah meja Marvel.
Matanya mendelik sembari menyeringai jahil, "Wih, ada yang habis stalking gebetan, nih!" ledek Andre, sembari mengambil map tersebut.
Dengan cepat ia membuka map kuning itu, untuk melihat data diri wanita yang sepertinya sedang ditaksir oleh Marvel.
Mendengar ucapan Andre, sontak Marvel pun mendelik dan segera memandang ke arah Andre.
Terlihat Andre yang sedang membaca isi dari map tersebut. Hal itu membuat Marvel kaget, dan segera bangkit untuk merebut kembali CV Melati tersebut.
"Eh, jangan dibaca!" ujar Marvel, yang tak ingin status Melati sebagai janda sampai diketahui oleh Andre.
Andre tak menghiraukan, dan mengelak dari Marvel yang hendak merebut kembali CV Melati itu.
__ADS_1