
Karena sudah tidak memiliki waktu lagi, Andre pun menancap gas untuk menuju ke arah rumah Melati. Jalanan yang masih belum terlalu ramai, memudahkan perjalanan mereka, untuk bisa sampai di rumah Melati dengan cepat.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya bisa cemas, karena khawatir jika mereka tidak sempat datang lebih awal, daripada acara pernikahan Melati.
Marvel sudah gigit jari, karena sudah 2 jam berlalu, mereka masih juga belum sampai ke rumah Melati.
“Kenapa belum sampai juga, sih? Udah 2 jam, lho!” protes Marvel, membuat Andre memandangnya dengan datar.
“Gimana mau cepet sampe? Kau ‘kan minta ke clubbing yang jauh dari rumah Melati!” gerutunya, membuat Marvel memandangnya dengan bingung.
Efek alkohol itu masih terasa, membuat Marvel menjadi bingung mendengar ucapan Andre.
“Hah?” gumam Marvel, Andre menghela napasnya kasar.
“Udah, jangan banyak protes! Dikit lagi sampe, kok!” ucap Andre, membuat Marvel memandangnya dengan pandangan yang semakin heran saja.
__ADS_1
Mereka pun segera menuju ke arah rumah Melati, untuk menjalankan rencana aneh Andre itu.
Sementara itu, di sana semua persiapan untuk menggelar acara tersebut, ternyata sudah siap. Melati juga sudah bersiap untuk merias wajahnya, karena membutuhkan waktu lama untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal.
Walaupun Melati seorang janda, tetapi pak Sodik menginginkan pesta yang meriah. Ia bahkan meminta para perias, untuk merias Melati dengan sangat maksimal.
Sudah sejak pukul 4 pagi, mereka sudah stay pada tugasnya masing-masing. Ada yang merias ruangan, menyiapkan altar, menyusun wadah makanan untuk prasmanan, dan lain sebagainya.
Para tetangga juga sudah mulai berdatangan, untuk membantu menyiapkan makanan, yang akan disajikan sebagai prasmanan nanti.
Mereka berbondong-bondong datang, karena mereka sangat bersemangat untuk membantu pak Sodik.
Sudah sejak pagi tadi, Melati tidak bisa menghalau perasaan sedih itu. Walaupun ia rela diriaskan wajahnya, tetapi hatinya menolak melakukan semua itu.
Kini, ia memandangi wajahnya pada cermin di hadapannya, merasa sangat asing dengan makeup tebal yang dipakaikan pada wajahnya.
__ADS_1
Hiasan siger yang berat pun membuat Melati kaku, karena baru kali ini ia memakai siger seperti ini.
‘Sigernya terlalu berat. Bikin pusing kepala aja,’ batin Melati, sembari berusaha untuk membenarkan siger yang ia pakai pada kepalanya.
“Mel,” panggil seseorang yang ternyata adalah Bapak Melati.
Melihat memandang mereka dari arah cermin, berusaha tersenyum di hadapan mereka, padahal ia sedang menahan perasaan sedih bercampur kesal.
Bukan kesal dengan mereka, tetapi kesal dengan keadaan yang sudah memaksanya melakukan hal yang tidak ia inginkan.
“Sudah siap?” tanya Ibu, sembari meletakkan kedua tangannya, di kedua sisi bahu Melati.
Melati menghela napasnya dalam-dalam, berusaha mencari kerelaan dirinya untuk bisa menikahi lelaki, yang sama sekali tidak ia cintai.
Melati menoleh ke arah mereka, sembari mengangguk kecil dan berusaha tersenyum di hadapan mereka.
__ADS_1
“Maafkan Bapak ya, Melati. Bapak secara tidak langsung sudah jual kamu, ke orang yang sama sekali tidak kamu cintai,” ujar Bapak dengan sendu, membuat Melati merasa tersentuh mendengarnya.
Air mata Melati seketika menggenang kembali pada pelupuknya. Ia merasa perasaan ragu itu muncul kembali, membuatnya merasa resah dan bimbang.