Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Tak Terima


__ADS_3

‘Kenapa dia gak jabat tangan gue, sih? Baru kali ini gue ngajak cewek kenalan, tapi malah diplototin begini?’ batin Marcel yang merasa kesal dengan keadaan yang menyudutkan dirinya seperti itu.


Marcel merasa kesal, apalagi para satpam yang ada di hadapannya pun sedang berbisik sembari memandang ke arahnya.


"Apa yang kalian lihat?!" tanya Marcel dengan sinis, membuat para satpam seketika menunduk takut karenanya.


"Maaf, Pak Marcel," ucap mereka serempak, yang memang sudah sangat segan dengan sosok Marcel saat ini.


Melati terkejut saat Marcel membentak mereka, sehingga membuatnya menundukkan pandangannya dengan malu.


Marcel kembali memandang ke arah Melati, “Lo gak masuk? Ini udah jam 8 lewat 10 menit!” ujarnya yang berusaha untuk mengingatkan Melati, membuat Melati mendelik kaget karena mendengar jam yang sudah lewat dari waktu yang ditentukan perusahaan.


“Terima kasih, Pak!” ucap Melati, sembari mengangguk-angguk kecil di hadapan Marcel.


Melati pun pergi dari sana, membuat Marcel bingung dengan yang dilakukan Melati. Lagi-lagi Melati membuat Marcel kesal, karena baru kali ini ia diperlakukan seperti itu dengan seorang wanita.


‘Kenapa dia ninggalin gue? Heh, gue udah berbaik hati buat ngasih lo masuk ke dalam gedung!’ batin Marcel yang sangat kesal dengan Melati.


Marcel yang sedang kesal itu kemudian memandang ke arah mereka dengan sinis, lalu segera meninggalkan mereka masuk ke dalam gedung kantor, berusaha untuk menyusul Melati yang sudah lebih dulu pergi dari sana.


Dari arah lobi, Marcel tersadar dengan Melati yang masih memakai sandal japit di dalam kantor. Ia memandangnya dengan tatapan tidak percaya, dan ingin sekali memberi tahu kepada Melati tentang sandal japit yang masih ia kenakan itu.


“Hei! Nona!!” pekik Marcel, yang tidak terdengar oleh Melati.


Marcel berlarian untuk mengejar Melati, tetapi Melati terlihat sudah memasuki lift. Marcel terlambat untuk memberi tahu tentang sandal tersebut padanya.


“Ah, sial! Kenapa dia cepet banget sih jalannya?” gerutu Marcel, yang lalu menunggu kembali lift lainnya untuk sampai di lantai dasar.


Setelah mendapatkan lift, Marcel pun segera menaikinya dan berharap ia masih sempat memberi tahu Melati tentang sandal japit yang masih ia kenakan itu.

__ADS_1


‘Apa dia gak sadar, ya? Kenapa gak sadar bisa sampe separah ini?’ batin Marcel, sembari menunggu lift tersebut sampai di lantai yang ia tuju.


TING!


Tak butuh banyak waktu, Marcel pun tiba di lantai tertinggi gedung ini. Ia melangkah keluar lift, sembari melihat kiri dan kanan dari tempat ia berdiri. Ternyata, di sana ia melihat Melati yang sudah berlarian untuk menuju ke arah sebuah ruangan.


Matanya mendelik kaget, karena ia harus memberi tahu Melati tentang hal ini. Kalau tidak, mungkin ia akan menerima hukuman dari SOP yang berlaku di perusahaan ini.


“Hei, tunggu!” pekik Marcel sembari berlarian mengejar Melati yang sudah lebih dulu berada di hadapannya.


Terjadilah kejar-kejaran antara Marcel dengan Melati, tetapi Melati terlihat lebih dulu sampai dan membuka pintu ruangan aula. Marcel masih tidak menyerah, dan segera menambah kecepatan dalam berlarinya.


Marcel menyunggingkan senyumannya sembari tetap berlarian, “Sedikit lagi sampai!” gumamnya,yang lalu menyelesaikan lari marathonnya itu.


“Tunggu! Itu loe kenapa gak pake sepatu?” tanya Marcel, yang terlambat memberi tahu kepada Melati, sehingga Melati mendapatkan rasa malu di hadapan para staf baru, dan juga staf lama lainnya.


Marcel melongo kaget, ketika ia menyadari bahwa semua mata tertuju padanya. Hal itu yang membuatnya sampai terdiam sejenak, apalagi saat ia melihat sosok Marvel yang ada di hadapannya, yang kini sedang memandangnya dengan sinis.


‘Aduh, mati gue!’ batin Marcel yang sudah tidak bisa mengelak lagi dari keadaan yang ada.


Marvel terlihat sedang memandang sinis ke arah Melati dan juga Marcel. Ia malah salah fokus, karena ia terkejut dengan Marcel yang ternyata juga mengenal sosok Melati.


Suasana menjadi tampak canggung sekali. Melati pun menunduk tak enak, sembari merasa bersalah di hadapan Marvel dan staf yang lainnya.


“Selamat pagi, Pak. Maaf saya terlambat, dan tidak memakai atribut lengkap,” ujar Melati, yang berani mengakui kesalahannya di hadapan semua orang yang memperhatikannya dengan sinis.


Marvel kembali memfokuskan dirinya ke arah Melati, “Siapa nama kamu?” tanya Marvel, dengan sedikit basa-basi kepada Melati.


Melati tertegun mendengarnya, “Melati, Pak.”

__ADS_1


Marvel semakin tajam memandang ke arah Melati, “Pertama, ini bukan pagi. Jadi, ganti ucapan kamu jadi selamat siang. Bagi saya, ini sudah terlalu siang, sampai kamu terlambat masuk ke kantor. Kedua, tolong pakai atribut yang lengkap, dan jangan ulangi lagi. Ketiga, saya paling tidak suka orang yang terlambat dan tidak menghargai waktu. Keempat ....”


Semua orang memandang segan ke arah Marvel, yang saat ini sedang menegur Melati. Mereka sangat senang, karena ada tontonan gratis bagi mereka, yang mungkin akan jenuh pada hari ini mengerjakan pekerjaan yang ada.


“Keempat, saya maafkan kamu kali ini. Tolong, besok jangan diulang kembali,” tambah Marvel, yang masih memiliki sikap bijaksana juga di hadapan Melati.


Melati pun mengangguk-angguk kecil di hadapan Marvel, “Terima kasih, Pak.”


Semua orang yang mendengar sangat tidak puas, karena Marvel yang berbaik hati terhadap wanita seperti Melati.


“Ah, sama cewek aja baik banget gak dihukum.”


“Iya, coba kita lihat, sama cewek aja atau sama cowok juga.”


Beberapa orang berbisik, tetapi Marvel masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tentangnya. Marvel tidak ingin spekulasi mereka tentangnya menjadi kenyataan. Ia memandang ke arah Marcel, yang tidak ia sangka ternyata ditempatkan pada cabang perusahaan yang sama dengaanya.


“Kamu ....” Marvel menunjuk ke arah Marcel, “siapa nama kamu?” tanyanya, berpura-pura tidak mengenal Marcel di hadapan mereka.


Marcel memandangnya dengan sinis, ‘Cih ... dia beneran gak pengen kasih tau kalau kita itu saudara?’ batin Marcel yang masih tidak terima dengan hal itu.


“Marcel,” jawabnya, membuat semua orang sedikit terdiam ketika mendengar namanya.


“Kamu sama seperti Melati. Besok jangan diulangi lagi. Datang kantor tepat waktu, kalau SOP bilang jam 8, kamu seharusnya datang 15 menit sebelumnya, bukan malah 15 menit setelahnya,” tegurnya, Marcel hanya bisa menunduk sembari menahan gondok pada kakaknya itu.


‘Gue kan kerja di sini cuma iseng aja! Apa harus ikut SOP segala?’ batin Marcel yang tidak bisa menerima yang Marvel tegur padanya.


Marvel kembali memandang ke arah mereka dengan sinis, “Kalian berdua, ke ruangan saya setelah ini!” ujarnya, meminta mereka untuk datang ke ruangannya setelah acara ini selesai.


Melati sangat patuh dengan apa yang dikatakan Marvel, “Baik, Pak!”

__ADS_1


__ADS_2