
“Saya gak bikin ribut kok, Pak! Saya datang ke sini dengan baik-baik, tapi orang ini malah nyerang saya dengan kata-kata kasarnya!” bantah Marvel, yang tidak bisa menerimanya begitu saja.
Mendengar ucapan Marvel yang seperti itu, Marcel merasa sangat kesal dengannya.
‘Sialan Marvel, beraninya ngomong begitu di hadapan kedua orang tua Melati! Apa dia pengen bikin reputasi gue hancur, di mata orang tua Melati?’ batin Marcel yang sangat kesal dengan Kakaknya itu.
Melati datang dari arah kamarnya. Ia mendelik kaget ketika melihat ada Marvel di hadapannya. Pikiran Melati seketika menjadi kacau, karena belum habis masalah Marcel, sudah ada Marvel yang juga datang ke rumahnya.
‘Aduh ... kenapa ada Tuan Marvel lagi? Kenapa dia tau rumah aku di sini?’ batin Melati merasa pusing mengetahui kebenaran ini.
Ibu dan Bapak memandang bingung ke arah Marvel, karena mereka yang baru pertama kali melihat sosok Marvel di rumah ini.
“Maaf, anda ini siapa ya? Mau apa datang ke rumah saya?” tanya Bapak, memastikan siapa sosok Marvel sebenarnya.
__ADS_1
Marvel tersenyum di hadapan Bapak dan Ibu Melati, “Saya Marvel, Pak. Saya ke sini untuk menjenguk Melati,” jawabnya, yang terdengar masih rancu.
Bapak mengangkat sebelah alisnya, “Marvel? Siapanya Melati?” tanyanya kebingungan, karena nama mereka yang hampir mirip, membuat Bapak merasa agak curiga dengan sosok berjas hitam yang ada di hadapannya kini.
“Saya ... pacarnya Melati, Pak!” jawab Marvel dengan tegas, sontak membuat semua orang yang ada di sana mendelik kaget tidak keruan.
“Apa? Pacarnya Melati?!” pekik Ibu terkejut, yang lalu pingsan di hadapan mereka.
“Ehh ... Bu!!” pekik mereka bersamaan, yang langsung menyanggah Ibu Melati yang pingsan ketika mendengar jika Marvel adalah pacar Melati.
Ibu memandang bingung ke arah mereka, yang sepertinya tidak berbeda jauh. Dari segi penampilan, Marvel dan Marcel memiliki aura yang sama kuatnya. Namanya saja sudah hampir sama, mereka pun mengaku sebagai kekasih dari Melati, membuat Ibunya bertambah bingung memikirkannya.
“Ibu ... minum dulu ....” Bapak menyodorkan segelas air mineral ke arah Ibu, dan Ibu pun menerimanya dan menyesapnya secara perlahan.
__ADS_1
Setelah meminum air tersebut, Ibu memandang mereka dengan pandangan bingung.
“Kalian sebenarnya siapa, sih? Dua-duanya ngaku sebagai pacar Melati, jadi yang benar yang mana?” tanya Ibu, membuat Melati mengaduh mendengarnya.
‘Mereka benar-benar bikin aku pusing! Mereka udah bikin Ibu shock juga, ini gak bisa dibiarin!’ batin Melati, yang merasa jadi harus menjaga jarak di antara mereka.
“Saya Bu yang pacarnya Melati!” jawab Marcel, sontak membuat Marvel tidak bisa menerimanya.
“Saya Bu yang pacarnya Melati! Bukan dia!” bantah Marvel, membuat Ibu semakin pusing mendengarnya.
Bapak menghela napasnya dengan panjang, “Jadi gimana? Bapak mau tanya aja sama Melati,” ucapnya yang lalu memandang ke arah Melati. “Yang mana yang beneran pacar kamu, Mel?” tanyanya, sontak membuat Melati mengaduh kembali.
“Emm ... mereka ....” Melati melirik ke arah Marcel dan Marvel.
__ADS_1
Seperti biasa, Marcel selalu memberikan tatapan yang mengancam pada Melati. Sikapnya yang otoriter, membuat Melati terkekang di bawah kendalinya. Hal itu yang membuat Melati tidak nyaman dengan keadaannya.