
Malam sudah semakin larut. Pak Sodik pun sudah pulang sejak tadi, setelah memberikan uang muka untuk persiapan pesta pernikahan antara dirinya dan juga Melati.
Dengan sangat terpaksa, Melati melakukan hal ini agar bisa menyelamatkan kedua orang tuanya. Ia tidak bisa melihat orang tuanya masuk ke dalam jeruji besi, karena hatinya yang terlalu rapuh untuk bisa melihat semua itu.
Hatinya mendadak tegar, jika semua beban dilimpahkan padanya. Biarlah dirinya yang sengsara, asal tidak dengan orang tuanya.
Melati duduk di kursi plastik depan rumahnya, walaupun malam sudah larut. Ia masih memikirkan nasibnya, dan tidak bisa mengelak lagi dari pernikahan ini.
Uang sebesar sepuluh juta rupiah sudah bapaknya pegang, untuk persiapan pernikahan mereka yang hanya dilakukan secara sederhana.
Melati juga tidak mau melakukan pesta pernikahan dengan yang terlalu mewah, karena ia malu dengan statusnya, yang hanya seorang janda.
Di malam yang dingin dan sepi, Melati memandang ke arah langit-langit yang sama sekali tidak berbintang. Ia melihat langit tersebut, seakan sama seperti keadaan hatinya saat ini.
__ADS_1
Gelap, dan suram. Kata yang cocok untuk nasibnya, dan juga perasaannya saat ini.
Napasnya terus tercekat, Melati tetap tidak bisa merasakan ketenangan, meskipun sudah berulang kali ia menghela napasnya itu.
Jemarinya tetap memainkan cincin, yang masih melingkar di jari manis tangan sebelah kanannya.
Melati masih tetap tidak bisa melupakan perasaannya pada Rusdi, meskipun ia terus membohongi tentang perasaannya.
‘Aku gak bisa mengurungkan rasa suka aku sama Rusdi. Walaupun aku tahu, Rusdi itu adalah Marvel, tapi aku masih gak bisa lupain kenangan indah sama dia. Meski terkesan singkat, tapi dia udah buat aku nyaman, senyaman-nyamannya,’ batin Melati yang sangat ragu dengan keadaan dan perasaannya.
Sudah beberapa malam ini, Melati terus memikirkan perasaannya terhadap Rusdi, yang memang sangat besar dibandingkan rasa benci terhadapnya.
Akan tetapi kembali lagi, Melati sudah tidak memiliki pilihan saat ini.
__ADS_1
Melati terlalu gegabah.
Melati membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya, “Kenapa ini semua bisa terjadi, sih?!” gumam Melati setengah berteriak, membuatnya merasa sangat tertekan saat ini.
Tak bisa bohong, Melati memang merindukan Rusdi, karena sudah lama ia tidak berbincang dan bertukar kabar dengannya. Namun, ia juga kesal dan marah pada sosok Marvel, yang sudah tertangkap basah sedang berduaan bersama dengan wanita yang tidak ia kenali itu.
‘Siapa sih wanita itu? Kenapa dia makan sama Marvel?’ batin Melati, yang merasa kesal ketika teringat kembali dengan wanita yang sedang duduk berhadapan dengan Marvel, malam itu.
“Melati,” panggil seseorang yang suaranya mirip sekali dengan Marvel.
Masih membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya, Melati merasa sangat kesal dengan perasaan yang ia alami saat ini.
“Tuh ... kenapa sampai berhayal denger suara Rusdi, sih? Kenapa sampai sebegitunya dia neror aku?” ujar Melati, membuat sosok Rusdi yang benar-benar berada di hadapannya, menjadi agak sedih mendengarnya.
__ADS_1
‘Jadi, Melati benar-benar gak mau kenal saya lagi? Dia sampai gak mau dengar suara saya,’ batin Marvel, yang merasa sangat bingung saat ini, dengan apa yang sudah ia dengar dari mulut Melati.