
Sejenak Melati berpikir, apa yang harus ia lakukan untuk menyikapi hal seperti ini. Ia memang tidak bisa mengelak lagi, dengan semua bukti yang sudah diberikan Marcel padanya.
Melati sudah yakin, kalau ucapan Marcel adalah sebuah kebenaran.
Marcel masih memandangi ekspresi Melati, karena ia merasa harus bisa membuat Melati melepaskan Marvel. Biar bagaimanapun juga, tujuan awal Marcel adalah agar Marvel tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
‘Sedikit lagi, dan lo gak akan pernah bisa dapetin apa yang lo inginkan, Marvel ...,’ batin Marcel, yang merasa sangat senang, karena apa yang ia usahakan selama ini akhirnya berhasil.
Melati bangkit dari tempat duduknya, dan memandang tegas ke arah Marcel. Hal itu membuat Marcel juga bangkit dari tempat duduknya, menyamai tinggi Melati.
“Saya berterima kasih sama Tuan Marcel. Biar bagaimanapun juga, saya gak akan menerima orang yang sudah membohongi saya! Saya sudah muak dibohongi!” ujar Melati dengan tegas, Marcel menyunggingkan sedikit senyumannya.
“Gue gak lagi nolong lo, kok! Lo tenang aja, gak usah ngerasa berterima kasih gitu sama gue,” sanggah Marcel, yang memang memiliki tujuannya tersendiri.
__ADS_1
Melati pun mengangguk kecil, karena merasa tenang sudah bisa mengetahui hal besar seperti ini.
***
Perasaan Melati kepada Rusdi, perlahan memudar. Setiap kali Melati memikirkan kebenaran yang ada, setiap kali juga ia merasa cintanya kian terkikis untuk sosok Rusdi itu.
Melati memutar cincin yang ia kenakan di jari manisnya. Ia merasa tidak pantas mengenakan cincin semahal ini. Apalagi, cincin yang ia kenakan adalah cincin yang diberikan dari orang yang membohonginya.
Tak sadar, air matanya sampai terjatuh dari pelupuk matanya. Dengan cepat, ia segera mengusap sisa air mata yang menggenang itu. Ia khawatir, rekan kerjanya melihatnya menangis, karena saat ini masih berada di jam kantor.
Tak ada yang bisa Melati lakukan. Ia merasa sangat tidak percaya, tetapi kenyataannya memanglah Marvel adalah Rusdi yang sedang menyamar.
‘Kalau dia mau ngedeketin aku, kenapa harus bohong begini? Kenapa kebohongannya tersetting serapi ini?’ batinnya yang merasa sangat tidak mempercayainya.
__ADS_1
Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Sepandai-pandainya Marvel menyembunyikan rahasia, pasti akan ketahuan juga.
‘Aku jadi gak enak buat ngelanjutin kerja di sini. Aku gak pengen satu ruang lingkup sama orang yang bohongin aku. Sama kayak mas Martin, yang ngebohongin aku selama berbulan-bulan, aku udah gak bisa mentolelir orang yang bohongin aku lagi,’ batin Melati, yang memikirkan masa depan dan perasaannya saat ini.
Karena satu-satunya cara untuk menghindari Marvel, adalah keluar dari kantor ini. Ia tidak ingin lagi bersama dengan Marvel ataupun Rusdi, karena mereka sebenarnya adalah dua orang yang sama.
Melati menghela napasnya dengan panjang. Ia berusaha memantapkan dirinya, untuk membuat keputusan yang besar ini. Ia tidak bisa bersama dengan seorang pembohong seperti Marvel.
‘Aku akan bikin surat resign dari perusahaan ini. Aku gak akan mau satu ruang lingkup sama seorang pembohong seperti Marvel,’ batin Melati yang memang sudah memantapkan dirinya untuk melakukan hal itu.
Dengan tegas, ia memandang ke arah komputer yang ada di hadapannya. Ia sudah bertekad untuk resign dari perusahaan ini, dan akhirnya ia membuat surat resign tersebut.
***
__ADS_1