
Setelah menerima pemeriksaan dan pertolongan pertama, Melati sudah sadarkan diri dan sudah bisa berbincang dengan Marvel dan juga Marcel. Mereka kini berdiri di hadapan Melati, untuk meminta penjelasan tentang kejadian yang menimpa Melati ini.
Tangan Marvel melipat di dadanya, “Gimana ini bisa terjadi? Kenapa kamu bisa ada di dalam toilet?” tanyanya, Melati yang masih terbaring itu menghela napasnya di hadapan Marvel.
“Saya gak apa-apa kok, Tuan.” Melati berbohong agar tidak membuat kesalahan Rachel ini semakin besar.
Marcel memandangnya sinis, “Lo gak apa-apa? Lo itu pingsan di toilet!” bentaknya sinis. “Lo kenapa? Lo sakit?” tanyanya lagi, Melati tidak bisa berkata apa pun lagi.
“Saya beneran gak apa-apa, Tuan. Tuan-Tuan semua gak usah khawatirin saya,” ucap Melati yang benar-benar tidak ingin permasalahan ini menjadi runyam.
Marvel memandangnya dengan dalam, “Kalau kamu gak apa-apa, kenapa kamu pingsan dengan baju yang bau seperti tadi? Apalagi, ada tulisan toilet rusak dan tidak ada yang konfirmasi ke saya,” ucap Marvel, yang mengatakan logikanya di hadapan Melati dan Marcel.
__ADS_1
“Fix! Itu tandanya lo lagi di-bully!” ujar Marcel dengan tegas, sontak membuat Melati mendelik mendengarnya.
‘Kenapa mereka bisa tau, kalau aku di-bully? Mereka ‘kan ... gak tau kejadiannya gimana. Kenapa mereka bisa berpikiran tepat begitu?’ batin Melati, yang merasa bahwa mereka sangat hebat bisa menemukan logika dari case yang terjadi dengannya saat ini.
“Kamu tahu, siapa yang bully kamu tadi?” tanyanya, Melati memandangnya dengan bingung.
Jika ia tidak mengatakannya, ia mungkin akan terus tertindas oleh Rachel. Namun, jika ia mengatakannya pada mereka, Rachel juga pastinya tidak akan terima dan akan berusaha untuk menindasnya kembali di lain kesempatan.
“Udah, kasih tau aja! Daripada lo sengsara sendirian? Gue bisa kok, ngehajar orang yang nge-bully lo, walaupun cuma sendiri!” ujar Marcel yang benar-benar ingin menghajar orang yang sudah mem-bully Melati tadi.
Melati memandang mereka dengan pandangan yang bingung. Ia merasa sangat bingung, karena ia tidak tahu harus bagaimana untuk menghadapi hal ini.
__ADS_1
‘Kasih tau gak, ya?’ batin Melati, yang benar-benar bingung harus bagaimana.
“Kasih tahu aja, deh. Biar saya bisa investigasi lebih lanjut tentang masalah ini. Kalau kamu gak mau ngomong, kamu sama saja membiarkan bibit pembuli itu berkeliaran di kantor ini,” ucap Marvel, sontak membuat Melati merasa ketakutan mendengarnya.
‘Bener juga apa kata Tuan Marvel. Kalau aku gak kasih tau, Rachel pasti akan menindas orang lain selain aku. Nanti dia pasti akan bikin rusuh lagi sama orang baru yang nantinya masuk ke sini,’ batin Melati, yang juga sangat memikirkan tentang hal itu.
Melati menghela napasnya untuk mempersiapkan dirinya, “Habis kita makan siang itu ... saya izin ke toilet. Ternyata, ada seseorang yang nyiram saya pakai air seember dari atas toilet. Itu yang bikin saya malu buat keluar dari toilet, karena baju saya basah dan juga bau,” ucap Melati menjelaskan, tetapi mereka masih rancu dengan case yang menimpa Melati kali ini.
“Masih rancu, kenapa kamu gak coba hubungi teman-teman di sektor kamu? Paling enggak, mereka tau dan nolong kamu buat membawakan baju ganti,” ucap Marvel, Melati kembali menghela napasnya.
Mendengar ucapan Marvel, sontak membuat Melati menghela napasnya, ‘Kalau saya bisa, udah dari tadi saya lakukan,’ batinnya yang merasa ingin memberitahu Marvel soal ini.
__ADS_1