
“Ah? Kenapa, Tuan?” tanya Melati, yang tidak terlalu fokus dengan apa yang Marvel katakan.
“Tadi saya bilang, saya juga sering diajak makan pecel lele di pinggir jalan. Biasanya adik saya yang bungsu selalu ngajak saya keluar, kalau dia lagi laper malam-malam,” ucap Marvel lagi, menjelaskan ulang tentang yang ia katakan sebelumnya pada Melati.
Melati merasa sangat bersemangat, mendengar Marvel membicarakan pecel lele yang merupakan makanan kesukannya.
“Wah! Pecel lele? Saya suka banget sama pecel lele, Tuan!” ujar Melati dengan sangat bersemangat, Marvel berusaha menimpali sikapnya yang terlihat sangat bersemangat itu.
“Ih ... pecel lele di tempat saya dan adik saya makan, pokoknya nomor satu, deh! Gak ada yang bisa ngalahin ukuran jumbo lelenya, dan juga sambel tomatnya! Enak banget!” timpal Marvel, yang merasa sudah menemukan kecocokan di antara dirinya dan juga Melati.
“Wah ... jadi ngiler!”
“Pokoknya kapan-kapan kamu harus coba!” ucap Marvel, Melati terdiam sejenak mendengarnya.
__ADS_1
“Nyobanya gimana? Saya gak tau di mana itu, Tuan!” ucap Melati dengan polosnya, membuat Marvel menahan tawanya di hadapan Melati.
“Ya nanti saya pasti ajak kamu makan di sana, lah! Pokoknya kamu gak akan pernah nyesel, karena makanan di sana beneran enak! Selain lele, ada juga cah kangkung dan yang lainnya yang beneran enak!” ujar Marvel, membuat selera makan Melati kembali lagi karena mendengar Marvel yang mendeskripsikan tentang makanan kesukaannya.
“Wah ....” Melati mendadak terdiam, tak bisa berbicara apa pun. Ia merasa sangat aneh, karena ia sudah terlalu akrab dengan seorang petinggi seperti Marvel.
‘Apa gak terlalu berlebihan? Aku harus jaga jarak, kenapa aku malah mikir mau diajak makan lagi sama Tuan Marvel? Sadar Mel, kamu itu siapa, dan Tuan Marvel itu siapa,’ batin Melati yang tidak bisa memungkiri kedudukan mereka yang seperti langit dan bumi.
Marvel menyadari perubahan sikap Melati. Ia merasa dirinya terlalu banyak berbicara, sehingga mungkin saja bisa membuat Melati merasa tidak nyaman. Namun, tak dapat dipungkiri, ada perasaan senang di hati Marvel karena ia bisa berbicara dengan leluasa lagi bersama dengan Melati, walaupun hanya membicarakan tentang makanan saja.
Marvel mencoba mengubah keadaan, dengan mengambil kembali garpu dan sendok miliknya, dan segera menyantap makanannya kembali.
Tangan kanannya menunjuk ke arah makanan Melati, walaupun masih memegangi sendok, “Makanannya dimakan, Mel. Nanti keburu dingin,” suruh Marvel, Melati tersadar dan mengangguk dengan senyuman tipis di wajahnya.
__ADS_1
“Baik, Tuan.”
Melati kembali melanjutkan aktivitas makannya, walaupun ia sama sekali sudah tidak memiliki mood untuk melanjutkan makannya. Ia terpaksa saja, karena ia harus menghormati Marvel yang sudah rela menemaninya makan di tempat sesederhana ini.
Batin sebelah kiri Melati membantah, ‘Ah, lagipula dia yang mau dan tiba-tiba muncul! Kenapa harus gak enak sama dia?’
Melati kembali melanjutkan makannya, dengan Marvel yang terus memandanginya. Ia tersenyum, karena senang melihat Melati yang sedang menyantap makanannya di hadapannya.
Tak sengaja, Marvel melirik ke arah jendela rumah makan sederhana ini. Ia melihat Marcel, yang ternyata masih ada di sana, tidak berani untuk menghampiri mereka masuk ke dalam rumah makan sederhana ini.
Senyuman Marvel menyungging, dengan tatapan sinis yang terus terlihat dari raut wajah Marcel di seberang sana.
‘Kali ini, i win!’ batin Marvel sembari menyunggingkan senyumannya ke arah Marcel.
__ADS_1
***