
Melati kembali memandang ke arah Sasha dengan tatapan yang tidak enak, “Emm ... kamu aja deh yang makan, Sa! Aku tunggu di sini, sekalian jagain tas kamu juga,” ujar Melati, yang tidak bisa mengatakan kebenarannya pada Sasha.
Melati masih ingat ucapan Martin tentang teman-teman kantor Martin, yang katanya meledeknya saat ia makan bekal makan siang yang sudah Melati siapkan untuknya. Melati merasa, lebih baik mereka tidak mengetahui, kalau Melati membawa bekal makan siang dari rumahnya, karena tidak ingin menerima ledekan seperti yang pernah Martin katakan saat itu.
“Hey, Mbak. Ayo kita makan siang!” ujar Sasha, yang berusaha untuk menyadarkan Melati dari lamunannya.
Melati kembali tersadar dari lamunannya, melihat Sasha yang terus mengajaknya untuk mengambil makan siang bersama.
Marcel pun datang dari arah tempat duduknya. Ia berusaha untuk mendekati Melati, karena ia belum sempat mengenal Melati lebih dalam.
“Hei, wanita!” panggil Marcel, dengan nada yang seenaknya saja.
Melati dan Sasha menoleh ke arah sumber suara, dan terkejut melihat kedatangan Marcel.
‘Aduh, anak bos dateng lagi. Gimana ini? Dia tadi ‘kan ngajak aku kenalan, tapi aku gak jabat tangannya. Dia kesinggung gak, ya?’ batin Melati yang merasa khawatir dengan hal tersebut.
Marcel memandang mereka dengan dalam, “Tadi lo gak jawab pertanyaan gue. Nama lo siapa?” tanyanya untuk kedua kalinya, membuat Melati membeku sejenak di hadapannya.
Sasha yang tidak tahu siapa Marcel, hanya bisa memandang mereka dengan tatapan yang sangat ingin meledek.
“Cie ... Mbak diajak kenalan sama orang ganteng!” ledek Sasha, membuat Melati merasa semakin tidak enak saja dengan Marcel.
Melati mencubit kecil pinggang Sasha, “Sa, jangan ngomong gitu!” bentak Melati dengan membisik.
Sasha tak memedulikan perkataan Melati, dan tetap meledek Melati dan juga Marcel.
“Ah, Mbak Melati bisa aja nih! Dideketin cowok yang ganteng, malah malu-malu gitu!” ledek Sasha lagi, membuat Melati merasa sangat bingung harus berbuat apa.
Marcel memandang bingung ke arah Sasha, karena baru kali ini ia dibuat bahan candaan oleh orang yang tidak ia kenali. Ia memandang sinis ke arah Sasha, tetapi tidak membuat Sasha takut padanya.
Sasha malah tertawa, sembari menepuk lengan Marcel dengan tawanya yang sangat menggelitik.
__ADS_1
“Ah, Mas ganteng tatapannya bikin orang jadi meleyot! Jangan gitu, dong! ‘Kan lagi deketin Mbak Melati. Bisa-bisa nanti saya yang lumer karena Mas ganteng ngeliatinnya begitu!” ledek Sasha, Melati tidak sanggup lagi mendengar candaannya, khawatir Marcel yang temperamental itu menjadi marah padanya, dan memecat dirinya dengan alasan yang tidak masuk akal.
Melati mendekat ke telinga Sasha, “Sa, dia itu Pak Marcel. Adiknya Pak Marvel, CEO di sini! Kamu jangan ngeledekin dia begitu, nanti dia marah sama kamu!” bisiknya, membuat Sasha tertawa mendengarnya.
“Hahah, adiknya Pak Marvel ....”
DEG!
Seketika Sasha membeku mendengar penjelasan dari Melati. Ia baru sadar, setelah beberapa detik ia mencerna apa yang dikatakan oleh Melati. Matanya mendelik, dan perlahan memandang ke arah Marcel, yang masih saja memandangnya dengan sinis itu.
Sasha menyeringai di hadapan Marcel, merasa tidak enak dengan keadaan yang menyudutkannya itu.
“M-maaf Pak, s-saya gak tau kalau Bapak ....”
“Kalian gak makan siang?” tanya seseorang yang baru saja datang ke hadapan mereka, memangkas ucapan Sasha pada Marcel.
Fokus mereka memandang ke arah orang yang datang itu, yang ternyata adalah Marvel. Melati menjadi agak canggung, karena ia melihat dua orang yang sangat berpengaruh pada kantor ini, yang kini sedang berada di hadapannya.
Sasha yang sedang terpojok, segera tersenyum memandang ke arah Marvel yang datang ke arah mereka.
“Eh, Pak Marvel,” sapa Sasha, membuat Marvel tersenyum ke arahnya.
“Kalian gak makan siang?” tanya Marvel lagi, mengulang pertanyaan sebelumnya.
Sasha menyeringai di hadapan Marvel, “Saya dari tadi udah ajakin Mbak Melati, Pak. Tapi ya gitu, Mbak Melati belum mau makan kayaknya,” ujarnya yang membuat Marvel kebingungan menjawabnya.
Marcel memperhatikan ke arah Melati, ‘Oh, jadi namanya Melati,’ batinnya yang ternyata sudah tahu nama dari Melati.
“Kenapa kamu gak mau makan, Mel? Gak enak ya, makanannya?” tanya Marvel, membuat Melati menjadi tak enak hati dengannya.
Melati menyeringai tak enak di hadapan Marvel, “Ah, bukan begitu, Pak. Saya ... masih--”
__ADS_1
“Ini kita mau makan, kok!” pangkas Marcel dengan datar, lalu memegang tangan Melati, membuat Melati mendelik kaget karenanya. Pandangan Marcel memandang ke arahnya, “Ayo, Mel!” ajak Marcel, membuat Melati kebingungan ketika Marcel mengajaknya.
“Eh?” gumam Melati kebingungan, Marcel pun segera menarik tangan Melati dengan cepat, sehingga membuat Marvel mendelik kaget karenanya.
Mereka pergi dari hadapan Marvel dan juga Sasha, membuat Marvel mendelik tak percaya dengan apa yang Marcel lakukan itu.
‘Sejak kapan dia jadi dekat sama Marcel? Kenapa bisa sampai kontak fisik seperti itu?’ batin Marvel, yang sepertinya cemburu melihat Marcel yang menarik tangan Melati tadi.
Wajahnya memerah, saking tak tahunya dengan perasaan yang tiba-tiba saja muncul dari dalam hatinya. Sasha saja melihatnya sampai bingung, karena ekspresi Marvel yang sepertinya sangat random baginya.
“Pak Marvel, kenapa?” tanya Sasha, penasaran dengan apa yang terjadi dengan Marvel.
Marvel tersadar, dan langsung menutupi semua ekspresinya dengan menghela napasnya dalam-dalam. Warna wajahnya berangsur kembali normal, dan ia pun berusaha tersenyum di hadapan Sasha.
“Gak apa-apa, kok. Di sini gerah, saya ke sebelah sana dulu, ya!” ucap Marvel, yang langsung pergi tanpa menunggu persetujuan dari Sasha.
Sasha memandangnya dengan heran, “Lah? Di sini gerah? Gerah apanya? AC perasaan di mana-mana, deh?” gumamnya yang masih tidak mengerti dengan maksud perkataan Marvel yang tersirat.
Sasha terus memikirkannya, lalu segera pergi untuk mengambil makan siang yang ada di tempatnya.
Marcel masih menarik tangan Melati, dengan Melati yang sudah tidak tahan ingin melepaskannya. Semua orang memandang ke arah mereka, membuat Melati merasa sangat malu saat ini.
“Anu, Pak Marcel!” panggil Melati, membuat Marcel menghentikan langkahnya, dan memandang ke arah Melati.
“Apa?” tanyanya dengan ketus, Melati memandang ke arahnya dengan agak takut.
“Anu, tangan saya, Pak! Bisa tolong dilepasin?” tanyanya yang masih agak khawatir dengan kemarahan Marcel, tetapi tak membuat Marcel meng-iya-kan apa yang menjadi keinginannya.
“Kalau gue gak mau lepasin, gimana?” tanya sinis Marcel, membuat Melati semakin bingung dengan keadaan.
Permasalahannya, semua mata kini tertuju pada mereka. Melati tidak ingin sampai orang lain mengatakan hal yang tidak baik tentang mereka, karena saat ini ia masih berstatus sebagai karyawan baru di perusahaan ini.
__ADS_1