Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Mengulur Waktu


__ADS_3

Marcel memandangnya dengan tajam, “Lo gak lihat, gue mau siap-siap makan?” tanyanya, membuat Melati sedikit takut, sampai menelan salivanya.


‘Tuan Marvel kalau begitu kelihatan galak banget,’ batin Melati, yang menggerutu karena sikap Marcel yang seperti itu padanya.


Tak memiliki cara lain, Melati harus menunggu Marcel menyelesaikan makan siangnya. Padahal, ya sama sekali tidak ingin makan siang bersama dengan Marcel.


Terpaksa saja, itu semua ia lakukan karena ingin mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Marcel.


Setelah beberapa saat menunggu, Marcel tersadar kalau Melati sama sekali tidak menyentuh makanannya. Hal itu yang membuatnya tersinggung, lalu memandang sinis ke arah Melati.


“Lo kenapa gak makan makanannya? Takut gue racunin?” tanya Marcel secara asal, membuat Melati terkejut dan memandang ke arahnya.


“Gak, Tuan. Bukan begitu. Saya memang gak lapar,” bantah Melati, Marcel menyuap makanannya ke dalam mulutnya.


“Makan, atau gue gak akan kasih tau semuanya yang mau gue bilang ke lo!” ancam Marcel, sontak membuat Melati kaget mendengarnya.

__ADS_1


“Baik, Tuan!”


Melati mengambil sendok yang ada di atas piring makannya, lalu segera menyantap makanan yang ada. Cara ia menyantap sangatlah cepat, sehingga membuat Marcel keberatan melihatnya.


“Jangan cepet-cepet juga, kali! Lo makan kayak lagi dikejar-kejar hantu aja! Bikin malu tau, gak!” tegurnya, yang sangat malu melihat cara Melati menyantap makanannya.


Itu sungguh tidak elegan.


Berbeda dengan sosok Rusdi yang Melati kenal, Marcel menegur cara makannya karena merasa malu dengan orang-orang yang di sekelilingnya. Padahal, Rusdi selalu mengigatkan untuk tidak makan terburu-buru, demi asalan kesehatan.


Khawatir tersedak.


“Cukup! Saya gak tahan lagi. Biarlah saya gak dikasih tau juga gak apa-apa, lagian itu gak penting buat saya! Terima kasih sudah traktir, lain kali ... saya ganti uangnya!” ujar Melati, yang langsung pergi dari sana.


Melihat Melati yang pergi dari hadapannya, Marcel merasa sangat kesal. Ia memandang ke arah kepergian Melati, dan segera menahan tangan Melati itu.

__ADS_1


Karena tertahan dengan tangan Marcel yang mencengkeramnya, Melati pun menoleh ke arah Marcel. Di sana, terlihat Marcel yang menatapnya dengan tajam, seolah ingin memaki dirinya.


“Kamu gak lihat, saya lagi makan?” tanya Marcel dengan nada sinis, membuat Melati merasa sedikit takut melihat ekspresinya saat ini.


Karena tidak ingin yang lain memperhatikan, Melati pun menuruti apa yang ia inginkan.


Melati duduk di tempatnya kembali, dan segera menghabiskan makanan yang memang tersedia untuknya.


Setelah selesai makan, Melati memandangnya dengan tangan yang bersedekap. Ia memanang ke arah Marcel, yang masih berkutat pada handphone-nya, setelah selesai makan siang.


Hati Melati bergejolak, ia merasa kesal karena Marcel hanya bisa mengulur-ulur waktunya saja. Ia memang kelihatan sengaja, untuk mengulur-ulur waktunya, agar bisa bersama dengannya lebih lama.


“Apa yang mau Tuan bicarakan?” tanya Melati, mengawali topik pembicaraan mereka kali ini.


Marcel melirik ke arah Melati, dengan tangannya yang masih memegang handphone. “Oh, saya hampir lupa,” ujarnya, sontak membuat Melati dongkol mendengarnya.

__ADS_1


‘Lupa katanya?’ batin Melati terheran-heran dengan ucapan Marcel yang ia dengar itu.


Marcel mulai menyempurnakan sikap duduknya, karena ia merasa harus cepat menyelesaikan persoalan, yang ingin ia beri tahu kepada Melati.


__ADS_2