Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Siasat Agar Marvel Makan


__ADS_3

Sudah semalaman suntuk Marvel memikirkan tentang perasaan Melati padanya. Ia terus memeriksa handphone-nya, karena sejak dua hari lalu, Melati sama sekali tidak membalas pesan singkatnya, atau menjawab teleponnya.


HUFT!


Marvel menghela napasnya, berganti posisi menjadi tidur dengan posisi miring ke kanan. Matanya masih tetap memandang ke arah handphone yang ia pegang, karena ia masih berharap, Melati akan menjawab pesan singkatnya, dan mau menghubunginya kembali.


“Entah apa yang dia pikirin ... sebelumnya biasa saja. Dia gak pernah seperti ini. Malah dia yang selalu nungguin kabar saya,” gumam Marvel, membuatnya merasa sedikit kesal dengan keadaan.


Sudah dua hari ini pula, Marvel tidak bisa keluar rumahnya, karena ia merasa tidak enak badan.


Beberapa hari memikirkan Melati, Marvel sampai tidak enak badan karena ia tidak enak makan. Sesuap nasi pun tidak ia makan, ia hanya bisa mengunci dirinya di kamarnya.


Kebetulan dua hari ini adalah hari weekend, sehingga membuat Marvel bisa dengan leluasa mengunci dirinya di kamarnya.


Marvel menghela napasnya lagi, “Biasanya setiap weekend, kita selalu makan di luar, jalan-jalan ke mana pun yang dia mau,” gumamnya, sembari tetap melihat-lihat aplikasi chat yang ia miliki, siapa tahu Melati membalas pesan singkatnya.


TOK ... TOK ... TOK ....

__ADS_1


Terdengar suara orang yang mengetuk pintu, membuat Marvel sedikit terkejut mendengarnya.


Marvel membenarkan posisi berbaringnya, dan langsung duduk di pinggir ranjang.


“Siapa?” tanya Marvel sedikit berteriak.


“Marsha, Bang!”


Terdengar suara imut tetapi lantang, di luar ruang kamarnya. Ia menghela napasnya dengan panjang, karena lagi-lagi Marsha harus datang ke kamarnya.


“Mau apa?” tanya Marvel dengan sedikit mengalah pada adik bungsu kesayangannya itu.


Mendengar Marsha yang memintanya untuk ditemani makan, Marvel pun menghela napasnya dengan panjang. Marvel sudah mengetahui, kalau ini adalah siasat Marsha agar ia bisa makan dengan benar.


Marvel menepuk keningnya, “Ini siasat apa lagi? Kamu udah nyuruh Abang makan 17 kali, lho!” ujarnya, membuat Marsha yang ada di balik pintu, menyeringai kecil mendengarnya.


‘Habis kalau gak gitu, Abang gak mau makan,’ batin Marsha, yang sangat memedulikan Abangnya itu.

__ADS_1


“Ayo, aku laper nih! Temenin aku aja, aku mau makan, laper!” teriak Marsha lagi, yang memang memiliki siasat seperti itu.


Marvel yang memang tidak bisa menolak permintaan Marsha, akhirnya melangkah keluar dari kamarnya. Apalagi, mendengar Marsha yang hendak makan pecel lele, selera makan Marvel langsung tergugah, dan langsung ingin memakan makanan tersebut.


Marvel membuka pintu kamarnya, membuat Marsha menyeringai melihat ekspresi Marvel yang datar itu.


“Abang mau makan juga, kan?” tanya Marsha, sembari tetap menyeringai ke arahnya.


Marvel menghela napasnya dengan panjang, “Abang gak makan. Abang nemenin kamu aja. Jangan lama-lama!” jawabnya dengan sedikit ketus, membuat Marsha semakin menyeringai saja mendengarnya.


“Ah, mana tahan Abang kalau gak makan pecel lele?” seloroh Marsha, Marvel hanya bisa memandangnya datar dengan tangan yang tersingkap.


“Gak, Abang gak makan! Udah, cepetan! Mau di anter, gak?”


Mendengar nada bicara Marvel, Marsha hanya bisa tertawa kecil, karena ia tahu dan sangat yakin, Marvel pasti tidak akan bisa menahan godaan makanan kesukaannya tersebut.


‘Lihat aja nanti,’ batin Marsha, sembari tertawa kecil memandang ke arah Marvel.

__ADS_1


***


__ADS_2