Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Mulai Pendekatan


__ADS_3

Marvel mengangguk kecil mendengarnya, “Oh gitu, Mbak. Terus, ada yang bisa saya bantu gak, Mbak?” tanyanya, membuat Melati menyeringai di hadapannya.


“Gak usah, Rus. Saya gak perlu bantuan apa pun, kok. Saya malah membantu orang lain,” tolak Melati, membuat Marvel menjadi sedih mendengarnya.


“Yah ... jangan gitu dong, Mbak. Tadi kata Tuan Andre, saya disuruh bantu Mbak Melati.”


Melihat wajahnya yang sendu, sontak membuat Melati merasa kasihan dengannya.


‘Sebenarnya aku gak terlalu nyaman, kalau ada orang yang menempel terus sama aku. Tapi kalau sudah terpaksa seperti ini, apa boleh buat?’ batin Melati, yang sudah pasrah dengan keadaan.


“Mbak Melati mau saya bikinin minum, gak? Anggap aja welcome drink,” ucapnya, membuat Melati tersenyum tak enak mendengarnya.


“Wah ... sebenarnya saya gak enak, Rus. Tapi karena kamu yang minta ... ya udah, gak apa-apa deh,” ucap Melati, membuat Marvel senang mendengarnya.


“Nah ... Mbak mau saya bikinin apa? The, kopi, atau apa?” tanya Marvel dengan sangat bersemangat, membuat Melati semakin tidak enak mendengarnya.

__ADS_1


“Teh manis aja, Rus,” jawabnya. “Oh ya, air panasnya pakai yang dispenser, ya. Jangan masak air dari panci, nanti kejadiannya sama kayak saya dulu,” ucapnya mengingatkan Marvel dengan kejadian waktu itu.


Marvel menahan tawanya, hampir tertawa karena mendengar ucapan Melati yang seperti itu.


Melihat ekspresi Marvel, Melati hanya bisa memandangnya dengan bingung.


‘Perasaan aku belom kasih tau apa-apa deh. Kenapa dia udah ketawa duluan?’ batin Melati, yang terlalu polos.


Marvel memandangnya dengan dalam, “Ya sudah, saya ke pantry sebentar ya, Mbak. Teh manis khusus untuk Mbak Melati, segera siap sebentar lagi!” ucapnya, sontak membuat Melati mendelik kaget melihat ekspresi hangat yang Marvel lontarkan padanya.


‘Rusdi ... kenapa tatapan matanya hangat banget? Bahkan aku belum ngerasain dipandang seperti itu lagi, setelah beberapa tahun mas Martin kerja di perusahaan Bramantio Grup,’ batin Melati, yang merasa sangat bingung dan merasa sangat senang, ketika ada lelaki yang memperhatikannya lagi.


Beberapa saat kemudian, Marvel datang kembali sembari membawa minuman yang ia buatkan khusus untuk Melati. Ia menyediakannya di meja Melati, sembari memandang Melati dengan senyuman hangatnya itu lagi.


“Silakan diminum tehnya Mbak Melati,” ucap Marvel, Melati tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


“Terima kasih, Rus. Kamu baik banget. Selama saya kerja di sini, saya gak pernah dibuatin minuman sama OB di sini,” ucap Melati, membuat Marvel kebingungan mendengarnya.


“Lho, kenapa gitu, Mbak? Memangnya Mbak gak minta?” tanyanya penasaran.


Melati menggelengkan kecil kepalanya, “Saya gak minta sama mereka, karena mereka gak nawarin seperti kamu. Saya segan buat minta, kalau gak ditawarin. Ditawarin pun terkadang saya tolak,” jawab Melati seadanya.


Hal tersebut membuat Marvel menjadi sangat yakin, kalau Melati tidaklah memiliki sifat bossy. Ia melakukan apa yang ia bisa, tanpa harus meminta orang lain melakukannya.


‘Melati memang beda dari yang lain,’ batin Marvel, yang tidak salah langkah untuk memilih Melati menjadi tambatan hatinya.


***


Karena sudah jam pulang kantor, Melati pun melangkah keluar lobi untuk pulang ke rumahnya.


Dari arah sana, datanglah Marvel yang menggunakan jaket kulitnya dan juga motor bututnya, sebagai totalitas yang ia lakukan untuk mendapatkan hati Melati.

__ADS_1


Marvel berhenti di hadapan Melati, “Mbak Mel, mau bareng gak?”


__ADS_2