
Marcel mengajak Melati untuk pergi makan siang bersamanya, sementara itu Marvel yang masih memakai pakaian Rusdi, duduk mengobrol bersama dengan Andre di ruangan Andre.
Marvel tak habis pikir, karena ia merasa sudah sangat bulat untuk memilih Melati menjadi istrinya, tetapi ternyata hal kecil seperti itu membuatnya menjadi sedikit ragu.
Seperti biasa, Marvel mondar-mandir di hadapan Andre, karena ia memikirkan hal seperti ini. Andre yang sudah sangat paham dengan yang ia lakukan, hanya bisa menghela napasnya sembari memandangnya dengan datar.
“Saya tau, pasti ada yang lagi dipikirin,” ceplos Andre, membuat Marvel menghentikan langkahnya, dan memandang kesal ke arahnya.
“Ada yang saya pikirin! Banyak!” ujarnya dengan nada yang sedikit meninggi, karena lonjakan amarah yang tidak bisa ia bendung itu.
Andre mengerenyitkan dahinya, “Apa sih yang bikin kamu bingung? Pekerjaan sudah saya yang handle, Melati sudah didapetin. Apa lagi yang kurang?” tanyanya, membuat Marvel mendelik ke arahnya dengan tajam.
“Itu dia! Melati! Ini masalah tentang Melati!” ujarnya, membuat Andre bingung mendengarnya.
“Ada apa lagi, sih? Perasaan tiada hari tanpa masalah?” gumamnya, membuat Marvel mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
“Melati memang sudah saya dapatkan, tapi ... keluarga saya gak bisa nerima statusnya yang janda itu!” ujarnya, sontak membuat Andre menepuk keningnya pelan.
“Sampai gak ingat masalah keluarga, karena hanya fokus ngejar yang kamu inginkan,” ujar Andre yang menyesali perbuatannya itu.
Mereka terlalu gegabah.
“Memangnya mereka bilang apa?” tanya Andre yang sangat penasaran dengan ucapan keluarga Marvel, mengenai Melati.
“Mereka bilang, untuk apa saya menikah dengan seorang janda? Saya ‘kan ... masih belum pernah menikah, harusnya bisa dapat yang lebih baik dari dia. Apalagi Melati mandul, buat apa menikah kalau gak bisa menghasilkan keturunan?” ujar Marvel menjelaskan, sontak membuat Andre mendelik mendengarnya.
Marvel mengangguk, karena ia juga setengah percaya dengan apa yang keluarganya katakan.
Masalahnya, Melati di malam ia melamarnya itu mengatakan, kalau seandainya dirinya takut tidak sesuai dengan ekspetasi Marvel.
Marvel menggelengkan kepalanya kecil, “Waktu itu melati juga pernah bilang, dia khawatir kalau saya mungkin gak akan menerima dia sepenuhnya. Dia takut, kalau dia bukan seperti yang menjadi ekspetasi saya,” ujar Marvel, membuat Andre merasa sangat bingung harus melakukan apa.
__ADS_1
Mata Andre membulat ke arah Marvel, “Mungkin dia mau kasih tau hal ini, tapi ... dia takut kamu menjahui dia,” ucapnya, membuat Marvel berpikir sejenak mendengarnya.
“Benar juga. Makanya dia gak mau ngomong sama saya. Sebelumnya dia juga berat mau bicara ini, tapi ... saya yang udah terlanjur kepo, maksa dia buat ngomong aja gitu,” ujar Marvel menjelaskan.
Mereka terdiam sejenak, berusaha memikirkan opini dan spekulasi mereka masing-masing, mengenai hal yang Melati katakan itu.
Andre memandang ke arah Marvel, “Ah, menurut saya ... kamu harusnya nanya sendiri sama Melati. Gak boleh percaya rumor begitu aja,” ujarnya, sontak membuat Marvel terdiam sejenak.
“Nanyanya gimana?” tanya balik Marvel, yang bingung harus bertanya seperti apa pada Melati.
“Ya gimana, kek. Terserah sepintar-pintarnya kamu aja.”
Marvel kembali terdiam, karena ia tidak bisa mengatakan apa pun lagi di hadapan Andre.
“Lagian, kamu dapet rumor kalau Melati mandul, dari mana sih?” tanya Andre, yang penasaran dengan hal ini.
__ADS_1