Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Hasil Investigasi


__ADS_3

“Kenapa diam?” tanya Marvel, sontak membuat Melati terkejut dan sadar dari lamunannya.


“Itu dia, Tuan. Saya gak bawa handphone, jadi gak bisa ngabarin siapa pun. Dari tadi saya tungguin juga gak ada sama sekali orang yang masuk ke toilet. Itu yang bikin saya gak bisa minta tolong sama siapa pun, sampai akhirnya saya kedinginan dan gak sadar lagi setelahnya,” ujar Melati yang kembali menjelaskan.


Marcel menyeletuk, “Gak ada yang masuk ke kamar mandi, karena di pintu kamar mandi ada tulisan toilet rusak. Kemungkinan besar gak ada yang mau masuk.”


Marvel mengangguk-anggukkan kepalanya, “Benar juga. Itu masuk akal. Tapi, siapa orang yang nulis tulisan toilet rusak itu?” tanyanya, Melati semakin takut saja mendengarnya.


“Yang jelas, orang yang sama dengan yang ngasih kabar kalau Melati ada di toilet untuk teleponan sama seseorang. Terus juga orang yang sama yang pernah mau ngusir Melati dari aula,” jawab Marcel, yang akhirnya memecahkan kasus ini, tanpa harus Melati beri tahu siapa pelakunya.


Matanya membulat tajam, “Oh, i see!” gumam Marvel, yang merasa adiknya jauh lebih jenius daripada dirinya. “Oke. Untuk Rachel, biar nanti saya yang urus. Kamu tenang aja, dia gak akan bisa nyentuh kamu lagi, Mel,” ucapnya yang sukses membuat hati Melati menjadi tenang setelah mendengarnya.

__ADS_1


“Terima kasih, Tuan Marvel dan Tuan Marcel,” ucap Melati, yang sangat senang saat mereka benar-benar membantunya keluar dari permasalahan dirinya dan juga Rachel.


***


Karena permasalahan ini, Rachel terpaksa harus diberhentikan dari jabatannya sebagai ketua tim pada sektornya. Marvel sudah membuatnya jera, bahkan sampai tidak berani lagi menyentuh Melati. Marvel sudah memaafkan kesalahan Rachel. Namun, untuk mempertahankannya di perusahaan ini, Marvel sama sekali tidak ingin mengambil risiko.


Masih banyak orang-orang di luar sana, yang lebih berkompeten dan lebih bisa menghargai juniornya. Tidak sulit mencari orang pintar di negeri ini, tetapi sangat sulit mencari orang yang jujur dan bisa menghargai satu sama lain.


Sejak kemarin Marcel sama sekali belum sempat menjenguk Melati, karena sudah ada jadwal dan janji dengan teman-temannya. Sementara itu, Marvel yang sangat bisa menjenguk Melati, pun tak bisa menjenguknya karena ia tidak mengetahui di mana rumah Melati.


Sore itu, menjelang jam pulang kantor, Marvel tidak bisa berhenti mondar-mandir di ruangannya. Ia terus memikirkan Melati, karena Melati yang tidak masuk kantor selama dua hari ini. Pikirannya terus tertuju pada Melati, sampai pekerjaan dan juga fokusnya cukup terganggu karenanya.

__ADS_1


“Udah dua hari ini Melati gak masuk kerja. Dia sakit gara-gara pembulian Rachel waktu itu, berarti Rachel benar-benar sudah sangat melewati batas. Tidak salah saya memberhentikan dia!” gumam Marvel, yang pikirannya terus terpikir tentang kasus yang menimpa Melati lusa lalu.


Seseorang mengetuk pintu ruangan Marvel, membuat Marvel sedikit terkejut mendengarnya.


“Masuk.”


Seseorang pun masuk ke dalam ruangannya, dan langsung meletakkan beberapa tumpuk laporan yang ia bawa dari ruangannya.


“Ada apa, nih?” tanya Marvel, tak mengerti dengan apa yang Andre lakukan itu.


Andre memandangnya dengan tatapan datar, “Ini laporan baru, pengganti laporan sebelumnya yang sudah kamu ACC,” jawabnya datar.

__ADS_1


__ADS_2