Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Tragedi Angkot dan Tukang Sayur


__ADS_3

Sudah dua hari ini, Melati memikirkan semua hal yang menyangkut tentang Marvel. Ia tidak bisa menerima kenyataan, kalau ternyata Marvel sudah membohonginya seperti itu.


Namun, ia juga tidak bisa menerima kenyataan, dan tidak bisa menyudahi hubungannya bersama dengan sosok Rusdi yang sangat ia cintai.


Beberapa saat Rusdi mencoba mendekati Melati, sampai akhirnya Melati luluh karena usahanya. Melati tidak bisa mengabaikan setiap usaha yang Rusdi lakukan.


Namun, Melati juga tidak bisa menerima cincin berlian yang sangat mahal ini, pemberian dari Marvel. Ia bingung, ia menerima cincin itu dari Rusdi, atau dari Marvel yang sebelumnya sudah ia tolak secara tidak langsung.


Melati duduk termenung di sofa butut milik bapaknya, yang berada di ruangan tengah rumahnya. Ia duduk sembari memutar cincin yang ia pakai di jari manisnya, dan memainkannya dengan mata yang memandang sayu ke arah hadapannya.


Tidak tahu harus bagaimana, Melati menyikapi semua ini. Ia juga tidak mengerti, kenapa dirinya terjebak dalam sebuah cinta semu, dengan orang yang palsu?


‘Kenapa, ya? Di saat aku sudah mulai nyaman sama orang itu, dia malah ternyata bohong soal jati dirinya. Kenapa Marvel gak bersikap seperti Rusdi aja, terus ngedeketin aku dengan cara yang Rusdi lakukan? Kenapa harus bohong seperti itu? Memangnya, apa gunanya bohong seperti itu?’ batin Melati, yang merasa sangat kesal memikirkan tentang kebohongan Marvel padanya.

__ADS_1


Rasa nyaman yang ia dapatkan dari Marvel, ternyata hanya sebatas rasa semu dari orang yang palsu.


Melati tidak menginginkannya.


“Permisi,” ujar seseorang dari arah pintu masuk, membuat buyar lamunan Melati.


Melati dengan rasa kagetnya, segera menoleh ke arah pintu masuk rumahnya.


Lelaki tua ini memiliki banyak sekali pekerja, yang memasarkan sayur-sayur yang ia kelola selama ini. Dengan kata lain, lelaki tua ini adalah juragan sayur di desa tempat Melati tinggal.


Melati mendelikkan matanya, saking terkejutnya ia melihat sosok lelaki tua berumur sekitar 50 tahunan. Dengan cepat Melati langsung bangkit dari tempat duduknya, dan memandangnya dengan pandangan yang sangat tegang.


“Selamat malam, Melati yang cantik jelita,” sapanya dengan sangat genit, membuat Melati agak bingung harus bagaimana merespon sikapnya itu.

__ADS_1


Dari arah pintu masuk rumah, datanglah Ibu dan Bapak yang menunduk sendu, berjalan ke arah Melati. Mereka langsung memandang ke arah Melati dengan sendu, membuat Melati merasa sangat bingung melihat ekspresi mereka saat ini.


“Ibu, Bapak, ada apa ini? Kok kayak sedih gitu?” tanya Melati yang heran melihat ekspresi mereka.


Ibu dan Bapak saling melempar pandangannya, merasa tidak enak membicarakannya pada anaknya itu.


“Tadi ... waktu Bapak narik angkot, gak sengaja Bapak nabrak tukang sayur pegawainya Pak Sodik. Pegawainya itu sekarang ada di rumah sakit, buat penyembuhan lukanya. Sayur-mayur itu semuanya hancur, terlindas mobil angkot Bapak. Bapak gak bisa bayar semuanya sekarang, sementara Pak Sodik ngancam buat menjarain Bapak,” ujar Bapaknya menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


Mendengar ucapan Bapaknya, Melati sangat tidak percaya dan ia merasa sangat kaget.


“Apa?!” pekik Melati kaget, yang tidak percaya dengan apa yang Bapaknya katakan.


Mereka sama-sama diam, karena tidak ada yang bisa mereka katakan lagi.

__ADS_1


__ADS_2