Kawin Lari Dengan Janda Kembang

Kawin Lari Dengan Janda Kembang
Drama Makan Malam 2


__ADS_3

Mendengar ancaman Marcel, Melati pun terkejut karena ia tidak ingin Marcel sampai memanggilnya dengan sebutan ‘Nenek’ di hadapan pelayan itu. Alhasil Melati hanya menyeringai, karena ia tidak bisa mengatakan apa pun lagi.


Marcel merenggangkan diri dari Melati, “Berdiri dulu,” ujarnya, membuat Melati berdiri dari tempat semulai ia duduk.


Karena Melati yang sudah bangkit dari tempatnya, Marcel pun kembali mengaturkan jarak yang benar untuk kursi yang akan Melati duduki.


“Maju sedikit!” suruh Marcel, Melati pun mengikutinya.


Marcel mengangkat ke depan kursi tersebut dan menyesuaikan jarak antara kursi itu dan juga meja yang ada di hadapan Melati. Setelah dirasa jaraknya sudah cukup, Marcel pun meminta Melati untuk duduk di atasnya.


“Nah, sekarang baru duduk!” ujarnya, membuat Melati mengikutinya.


Drama tentang kursi pun berakhir di sini. Marcel segera melangkah menuju ke arah kursi yang berada di hadapan Melati, dan segera duduk di atasnya. Kini, Marcel menerima menu yang disodorkan oleh sang pelayan, dan segera membukanya.


Melati hanya diam, karena ia tidak tahu harus memesan apa di restoran sebesar ini.


Marcel memandang Melati dengan tatapan heran, karena ia merasa Melati memang benar-benar tidak pernah mengunjungi restoran mewah seperti ini. Timbullah satu ide, untuk membuat sedikit menjaili Melati.


“Lo mau pesan apa?” tanya Marcel, sontak membuat Melati terkejut mendengarnya.


“Hah? Hmm ... saya sama aja deh kayak Pak ... eh, maksud saya Ma-Marcel!” jawab Melati yang agak gugup, karena ia tidak terbiasa memanggil Marcel dengan sebutan namanya langsung.


Marcel menyunggingkan sedikit senyumnya di hadapan Melati, “Coba ditengok dulu menunya!” suruhnya, yang sengaja memberikan menu tersebut padanya.


Melati kebingungan, karena ia yang memang tidak tahu apa pun tentang restoran mewah ini.


‘Aduh ... gimana ini? Aku beneran gak tau apa pun di sini!’ batin Melati yang mengaduh karena merasa sangat bingung dengan keadaan.

__ADS_1


Karena merasa malu dengan sang pelayan, Melati pun terpaksa mengambil menu yang Marcel berikan padanya. Ia melihat-lihat isi dari menu tersebut, untuk memesan makanan yang hendak ia makan. Ia membolak-balikkan menu, sembari membacanya secara teliti. Tidak ada gambar apa pun dalam menu, sehingga membua Melati kesulitan mengetahui menu tersebut.


‘Ini apa aja, ya? Ya ampun, mana mahal-mahal, pula! Aku beneran disuruh bayar sama dia?’ batin Melati, sembari mendelik kaget melihat harga dari makanan-makanan yang ada.


Melati menyeringai setelah melihat menu tersebut. Ia menutup buku menu, lalu meletakkannya pada meja yang berada di hadapannya.


“Saya ... pesan nasi goreng aja, sama air putih.”


Ucapan Melati sontak membuat pelayan mendelik bingung mendengarnya. Marcel juga kaget mendengar permintaan Melati itu. Ia tidak menyangka, Melati akan memesan seporsi nasi goreng di tempat yang sangat mewah seperti ini.


Marcel menepuk keningnya agak kencang, saking gemasnya dengan sikap Melati itu.


‘Beneran bikin malu nih cewek! Ya tapi lumayan, sih. Kalau soal penampilan dia gak bikin malu,’ batin Marcel, yang mendeskripsikan Melati pada standarisasi kriteria wanita yang ia inginkan.


“Maaf, Nona, di sini tidak ada nasi goreng,” ucap sang pelayan, membuat Melati malu sendiri mendengarnya.


“Saya sudah pesan sebelumnya,” ucap Marcel, membuat sang pelayan mengangguk kecil karena sudah mengerti dengan maksudnya.


“Baik, Tuan. Silakan ditunggu sebentar.” Sang pelayan segera pergi dari sana, untuk mempersiapkan hidangan yang ada.


Marcel memandang sinis ke arah Melati, “Lo gak pernah mesen di resto bintang lima begini?” tanyanya, Melati hanya bisa menyeringai saja sembari menggelengkan kepalanya.


“Gue udah pesen, jadi lo jangan pernah pesen nasi goreng lagi di resto begini, ya!” ucap Marcel mengingatkan, membuat Melati semakin menyeringai mendengarnya.


Beberapa saat berlalu, makanan sudah siap dihidangkan di hadapan mereka. Kini, sudah tersedia banyak sekali makanan yang ada di hadapan mereka. Bentuk makanan yang ada di hadapannya itu tidak pernah Melati lihat sebelumnya.


Kening Melati sampai berkeringat, karena merasa bingung dengan pemandangan makanan yang sangat ramai di hadapannya.

__ADS_1


“Silakan dinikmati, Tuan dan Nona,” ucap sang pelayan, sembari pergi berlalu meninggalkan mereka.


Segala peralatan makan pun sudah tersedia di hadapan mereka. Melati malah semakin bingung, karena melihat perkakas makan yang sangat banyak di hadapannya.


‘Ini kenapa banyak banget garpu sama pisau, ya? Kenapa gak ada sendok? Aku ambil yang mana dulu?’ batin Melati, yang merasa sangat bingung karena melihat banyak perkakas makanan yang ada.


Pandangan Melati tertuju ke arah garpu yang berada di sebelah kanan. Ia merasa harus mengambil garpu tersebut, karena dia yang tidak mungkin mengambil pisau untuk menyantap makanannya.


‘Ah, pakai garpu dong! Habisnya kenapa gak ada sendok, sih? Bikin ribet aja!’ batin Melati, yang mengambil garpu tersebut.


Melati tak sengaja memandang ke arah Marcel, dengan Marcel yang kebetulan sekali memandang datar ke arahnya, sembari meletakkan sebuah serbet ke atas pahanya. Melati merasa ada yang salah darinya, yang lebih dulu mengambil garpu, dan bukan meletakkan serbet lebih dulu ke pahanya.


Melati merasa sangat salah, dan kembali meletakkan garpu itu pada tempatnya. Ia mulai mengambil serbet, dan meletakkannya seperti yang Marcel lakukan sebelumnya. Melati pun tersenyum, karena ia sudah bisa melakukan hal yang sama dengan yang Marcel lakukan.


Setelah dirasa sudah melakukan hal yang perlu dilakukan, Melati kembali mengambil garpu yang terletak di paling kanan darinya. Marcel yang melihatnya pun berdeham, karena Melati yang salah mengambil garpu yang harusnya ia pakai untuk makanan pembuka.


“Garpu untuk makanan pembuka, itu yang paling kiri,” ucap Marcel, membuat Melati terdiam sejenak lalu kembali meletakkan garpu tersebut pada tempatnya.


Melati menghela napasnya dengan panjang, ‘Padahal sama-sama garpu, kenapa gak boleh aku pakai garpu dari sebelah kanan? Padahal ‘kan yang sebelah kanan lebih baik daripada yang sebelah kiri,’ batin Melati, yang merasa sangat bingung dengan keadaan yang ada.


Akhirnya, Melati mengambil garpu yang paling kiri, untuk membuat Marcel senang. Ketika sudah mengambil garpu, Melati dibuat bingung dengan menu makanan yang tersedia di hadapannya, yang sangat banyak, membuatnya bingung harus mengambil yang mana lebih dulu.


‘Aduh ... kenapa ribet banget si makan malem di resto doang?’ batin Melati, yang merasa sudah sangat terpojok dengan keadaan.


Marcel merasa sedikit kasihan dengan keadaan Melati. Ia mengambilkan salad yang memang dipersiapkan sebagai makanan pembuka, dan ia letakkan di hadapan Melati.


Memandang bentuk makanan yang sangat aneh itu, membuat Melati merasa sangat mual ketika melihatnya.

__ADS_1


“Hueekkk!!”


__ADS_2